alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Sabarnya Ibu Muniah Memungut Buah Kenari Sejak 1965

Pohon Kenari sangat identik dengan Kota Mataram. Namanya pun diabadikan sebagai salah satu ruang rapat di Kantor Wali Kota Mataram. Ada juga yang menggantungkan hidupnya, dari kehadiran buah pohon kenari. Bahkan bisa menjadi salah satu ladang penghasilan.  

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

============================

Lampu lalu lintas berganti warna. Kendaraan roda empat dan roda dua saling melintas. Dari berbagai arah. Menandakan denyut nadi di pusat kota siang itu, masih ramai. Warga beraktivitas dengan segala kesibukan.

Begitu juga dengan Ibu Muniah. Lansia berumur 75 tahun. Ia terlihat sibuk memungut buah kenari. Yang silih berganti berjatuhan di depan Kantor Gubernuran NTB. Jalan Pejanggik tetap ramai seperti biasa. Tetapi tidak menyurutkan semangatnya siang itu. Sambil menggotong sapu untuk mengumpulkan di satu tujuan.

“Ngumpulinnya pakai sapu, biar dimasukkan ke keranjang nggak susah,” katanya.

Usai menyapu, Muniah lalu memungut satu per satu buah kenari hitam itu. Dimasukkan ke dalam keranjang. Pekerjaan yang menyenangkan.

Baginya memungut buah kenari bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Meski tidak banyak, tetapi bisa buat dapur Muniah bisa mengepul.

Muniah adalah seorang warga Kebun Lelang. Ia sudah menekuni pekerjaan ini sejak 1965. Ia bercerita awalnya ia diajak oleh sang kakak. Lambat laun, hal ini menjadi sebuah kebiasaan. Muniah biasanya memungut kenari dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore.

Setiap hari, ia harus berjalan kaki. Dari rumahnya menuju Kantor Gubernur NTB yang jaraknya cukup jauh. Bagi Muniah, buah kenari sudah seperti sumber kehidupan. Dari buah ini, ia bisa menjualnya ke pedagang di pasar.

“Karena saya sudah lama mungut ini, sampai saya punya langganan sendiri,” kata Muniah.

Dalam memungut buah kenari, ia biasanya sendiri atau dibantu oleh keponakannya. Sehari ia bisa mendapatkan satu hingga dua keranjang. Biasanya juga mendapatkan setengah keranjang. Untuk mendapatkan sekilo buah kenari, Muniah harus mengumpulkan dua keranjang.

“Kalau sudah dapat segitu, baru bisa dijual. Harga per kilo gramnya Rp 40 ribu, mungutnya bisa dua sampai tiga hari,” terangnya.

Ada juga buah kenari yang isinya sudah dicongkel. Kata Muniah, isi seperti bentuk kacang mete. Muniah tetap memungut kenari, karena banyak orang memanfaatkan buah ini, sebagai bahan campuran cake atau brownies. Ia mengakui, rasanya lebih enak dari kacang mete.

Sebelum buah kenari dijual. Ternyata memiliki proses yang tidak mudah dan tergolong lama. Isinya harus dicongkel terlebih dulu. Kemudian dikeringkan dengan cara di jemur sepanjang hari.

“Kalau cuaca bagus, biasanya cuma tiga hari. Tetapi kalau ada mendung terus hujan, biasanya sampai seminggu baru bisa dijual,” terangnya.

Harga perkilo yang sudah kering hanya Rp 60 ribu. Karena sudah diolah. Dirinya mengakui, meski tidak setiap hari uang dikumpulkan melalui cara memungut buah kenari. Tetapi semua hal ini bisa membuat dapurnya tetap mengepul. Meski tidak seberapa tetapi ia bersyukur.

Memungut buah kenari sejak 1965, Muniah mengaku bahwa keluarganya sempat beberapa kali melarang. Karena selain menghasilkan uang yang teramat kurang, membahayakan jiwa Muniah karena harus memungut di dekat jalan raya. Namun, dirinya tidak bergeming dan tetap bertahan sampai sekarang.

“Bertahan sampai sekarang karena buah kenarinya terus berbuah, senang aja bisa mungut sekalian mau bersihin halaman Kantor Wali Kota, makanya saya bawa sapu. Siapa tahu ini bisa jadi pahala dan nambah-nambah amal ibadah saya,” kata Muniah.

Dirinya memang tidak punya pilihan lain. Karena kalau berdiam diri di rumah, tentu saja membuat dirinya yang memiliki usia renta, akan sakit-sakitan. Menurutnya, inilah salah satu resep kenapa ia sampai saat ini sehat dan tetap berakitivitas. Jalan kaki setiap hari membuat dirinya tetap bisa merasakan hidup sehat. Meski cuaca sedang hujan, tidak menghalanginya untuk memungut buah kenari.

“Alhamdulillah bisa sehat sampai sekarang, kalau mungut pas hujan saya pasti bawa jas hujan, meski sudah robek,” jawabnya sambil tersenyum. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.
Enable Notifications    Ok No thanks