alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Empat Hewan Pembawa Rabies Ditemukan Balai Karantina

GIRI MENANG-Ancaman Virus Rabies yang semakin meresahkan mendapat perhatian serius Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram. Semenjak pengawasan diperketat mulai Januari, ada empat Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang hendak dimasukkan ke Pulau Lombok oleh para pemiliknya. Tiga di antaranya anjing dari Pulau Sumbawa. Masuknya HPR tersebut digagalkan.

                Tadi malam (15/2), menggandeng sejumlah pihak, Balai Karantina Kelas I Mataram menggelar operasi patuh karantina di jalan raya depan kantor mereka di kawasan Pelabuhan Lembar. Seluruh kendaraan yang baru datang dari Bali diperiksa. Baik kendaraan pribadi maupun kendaraan barang, dan angkutan umum.

“Kami ingin memastikan tidak ada satupun Hewan Penular Rabies (HPR) yang masuk dari daerah tertular yakni Bali ke Lombok,” kata Kepala Balai Karantina Kelas I Mataram Arinaung Siregar yang memimpin langsung operasi tersebut.

Operasi berlangsung selama beberapa jam. Dan tidak ditemukan ada kendaraan yang membawa HPR. Pantauan Lombok Post, ada sejumlah kendaraan yang membawa hewan dan produk olahan hewan. Namun, jenisnya unggas. Seperti bibit ayam kampung, hingga produk hasil olahan hewan. Semisal telur, mentega, hingga susu.

Para sopir kendaraan diminta memasukkan kendaraannya ke dalam area kantor Balai Karantina. Kemudian petugas bersama dokter hewan memeriksa muatan kendaraan satu per satu.

“Saya hanya bawa bibit ayam. Kalau ini memang harus dikarantina. Di semua pelabuhan pasti saya laporkan ke pihak karantina,” aku Hartono, salah seorang sopir kendaraan asal Kediri Jawa Timur kepada Lombok Post.

Untuk mendapatkan sertifikat jalan dari balai karantina, Hartono harus membayar Rp 10 ribu. Jika kondisi hewan yang dibawanya tidak ada masalah setelah diperiksa.

“Kalau untuk bawa anjing atau kucing saya nggak pernah. Cuma bawa ini saja (unggas, Red),” akunya ketika ditanya apakah dirinya pernah mengangkut hewan peliharaan jenis anjing atau kucing keluar masuk Lombok.

Namun demikian, Arinaung mengakui, peluang masuknya HPR ke Pulau Lombok sangat tinggi. Karena Lombok saat ini diapit Pulau Bali dan Sumbawa yang merupakan daerah tertular Rabies. Maka, pihak Balai Karantina mengaku menguatkan koordinasi dengan Pemda Lobar, Pemprov NTB, BKSDA, KSOP, ASDP, Pelindo dan kepolisian sektor kawasan pelabuhan.

Hasilnya, selama pemeriksaan sejak awal Januari, empat HPR berhasil ditemukan dan digagalkan masuk atau keluar ke Pulau Lombok. Rinciannya, ada tiga ekor anjing dan seekor kucing.

“Dari empat yang kami temukan, tiga di antaranya di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur dan satu di Pelabuhan Pemenang Lombok Utara,” ungkap Arinaung.

Untuk di Pelabuhan Kayangan, pihaknya menemukan dua ekor anjing dan satu kucing. Hewan ini adalah hewan peliharaan warga yang berasal dari Pulau Sumbawa. Pemiliknya hendak membawanya masuk ke Pulau Lombok.

“Itu kami tolak. Karena sesuai peraturan kementerian, itu tidak boleh masuk. Jadi kami kembalikan ke Pulau Sumbawa,” tegasnya.

Begitu juga dengan kasus yang ditemukan di Pelabuhan Pemenang. Seekor anjing peliharaan hendak di bawa keluar pemiliknya menuju Pulau Bali menggunakan kapal cepat. Oleh pihak Balai Karantina bersama instansi terkait, menggagalkan aksi tersebut.

“Hewan itu harus diam di Pulau Lombok. Karena HPR pada prinsipnya tidak boleh keluar masuk dari daerah tertular Rabies,” lanjut mantan Kepala Balai Karantina Palembang tersebut.

Pihak Balai Karantina mengaku berkomitmen melakukan pengawasan untuk menjaga Lombok tetap menjadi daerah bebas Rabies. Karena Lombok merupakan daerah pariwisata. Jika Lombok tertular Virus Rabies, ini tidak hanya membahayakan bagi nyawa penduduknya tetapi juga akan berdampak pada sektor pariwisata maupun sektor ekonomi.

“Makanya, sambil melakukan pengawasan ini kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa memahami aturan yang ada,” ungkapnya.

Sesuai Peraturan Kementerian Pertanian Nomor 096 tahun 1999 masyarakat dilarang membawa keluar masuk HPR anjing, kucing, dan kera dari dan ke daerah tertular rabies. Masyarakat yang melanggar peraturan tersebut bisa dikenakan sanksi pidana.

“Terkait pidana penularan Rabies, ada pihak PPNS dari Balai Karantina yang berhak menanganinya. Kami dari sektor Pelabuhan hanya bertugas mengawasi,” timpal Kapolsek KP3 Lembar Ipda Ivan Roland.

Apabila ditemukan, karantina yang melakukan proses hukum. Jika ada kendala dalam proses penyelidikan dan penyidikan, baru pihaknya bisa memback up pihak balai karantina.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang masuk, pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram juga menyiapkan program untuk mengeleminasi anjing liar yang ada di kawasan Pelabuhan Lembar. (ton/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

ebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks