alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Kaderlan Pencari Damai di Rumah Panggung dari Kayu Bekas

Ragam cara orang mencari kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Pria ini memilih dengan membangun rumah panggung dari kayu-kayu bekas. Berikut laporannya.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

SIANG itu langit menebal gelap. Pria berambut panjang dengan kulit coklat datang dengan mengendarai sepeda motor bebek. Senyumnya simpul sembari menenteng karung. Di dalamnya ada beras, kacang, dan beberapa bumbu dapur.  “Mau syukuran,” ujarnya.

Nama pria itu Kaderlan. Ia biasa di sapa Kader. Kedatangannya untuk menyambangi sekaligus mempersiapkan segala sesuatunya. Sebelum ia menempati rumah panggung dari kayu bekas. “Ini semua bekas-bekas,” tunjuk Kader bangga.

Kayu gelondongan dibelah-belah. Tak ada pahatan khusus. Semua dibuat alami. Lalu disusun menjadi beberapa kamar. Di rumah itu Kader, istri, dan anaknya akan tinggal.

Sebagaimana tradisi. Sebelum ditempati rumah harus doa-doa dulu. Memohon pada Sang Pencipta kebaikan selalu hadir dalam rumah.

“Saya ingin seperti orang-orang Sasak dulu, yang menghormati kearifan lokal,” ungkapnya.

Kader sebenarnya lahir dari keluarga cukup mampu. Tapi pilihannya menempati rumah dari kayu bekas, menegaskan ia tak hanya mencari kemewahan belaka. Kader bahkan mengatakan, ia sudah jenuh dengan kemewahan dan glamornya dunia. “Saya kerja di pariwisata di gili-gili,” terangnya.

Ia menolak menyebutkan apa pekerjaan itu. Tapi yang jelas, pekerjaan itu membuat ia sangat mudah mendapatkan kesenangan dan uang. “Uang cepat didapat, tapi cepat juga habisnya. Nyaris tidak ada rasanya. Semu,” kata Kader.

Namun lambat laun ia bosan. Dan kini berpikir ingin berhenti. Bulatnya tekad Kader berhenti dari dunia pariwisata pun ditandai dengan rumah dari kayu bekas yang ia bangun. “Di sini saya ingin menjalani kehidupan layaknya orang-orang Sasak dulu,” ungkapnya.

Istrinya pun sempat menyebut karyanya serupa rumah tengah hutan. Tapi Kader justru bangga. Dan menganggap rumah dengan arsitektur sangat klasik itu mewakili keinginannya untuk kembali ke alam. “Bahasa kerennya back to nature,” ungkapnya.

Keinginannya untuk hidup sederhana. Dengan rumah dari kayu bekas sebenarnya bermula dari pengalaman beli nasi di Kuta, Lombok Tengah. Saat itu Kader tiba-tiba sangat ingin makan di warung.

“Tidak seperti kebanyakan warung lain, di tempat itu kita dilayani seperti keluarga,” kisahnya.

Porsi nasi yang banyak. Ditambah lauk-pauk yang lengkap. Plus diberi minuman hangat. Tapi harga ternyata sama persis dengan warung yang menyiapkan nasi dan lauk sedikit.

“Ibu yang menjual juga sangat ramah. Seperti ibu kandung cara dia menjamu dan menghormati pelanggannya,” terangnya.

Sejak saat itu. Entah bagaimana Kader jadi sangat rindu dengan kehidupan masyarakat Sasak yang ramah dan lugu. “Polos dan tak suka berbohong,” ujarnya.

Sikap dan perilaku yang tak ia temui. Di masyarakat modern perkotaan. Kader mengaku sangat rindu dengan suasana itu.

“Kalau makan begibung, tolong-menolong, saling tukar lauk hingga bumbu dapur, benar-benar suasana kekeluargaan yang indah,” ujarnya.

Kader sempat menikmati suasana kekeluargaan pedesaan yang indah itu. Saat ia masih kecil. Sampai akhirnya kini semua berubah. Di mana orang-orang lebih sibuk dengan urusan pribadi. Dan melupakan keadaan tetangganya.

“Bahkan bertamu dan saling tegur sapa saja, orang-orang sudah tidak ada waktu,” sesalnya.

Kader mengaku tidak bisa mengubah keadaan ini. Ia menganggap ini bagian dari akibat keinginan memodernisasi peradaban. Tapi ia menolak untuk mengikutinya. Dan menginginkan kembali ke masa itu.

“Saya tidak bisa mengubah keadaan. Tapi saya bisa membuat hidup saya kembali ke masa itu,” kenangnya.

Karena itu ia memilih tinggal di kawasan yang masih ada persawahannya. Tak jauh dari situ ada sungai yang selalu memainkan orkestra alam yang tenang.

Putra dari Rusni dan Hamimah ini pun tidak ingin kembali ke gili. Ia ingin hidup seperti rakyat biasa, khas pedesaan.

“Nanti kalau sudah tinggal di sini, saya ingin jualan ubi, singkong, beras, dan sayur-sayuran,” terangnya.

Selain alasan ingin kembali ke alam. Kader mengaku rumah kayunya lebih aman dari bahaya gempa. Rumahnya pun dibuat seperti rumah panggung. Dengan fondasi dari batu bata. “Biar ular gak masuk,” ujarnya sembari mengulum senyum.

Rumah itu dibangun dengan biaya kurang dari Rp 15 juta. Atas bantuan saudara-saudaranya rumah itu bisa cepat selesai. “Ada sekitar satu bulan, hampir selesai. Tinggal pasang jendela saja,” ujarnya.

Sementara, kilometer listrik sudah ia pasang. Kader berharap kelak jika ia tinggal di sana akan banyak menemukan sahabat yang memiliki mimpisama dengannya.

“Membangun persaudaraan. Tidak hanya sekedar jadi batur (teman), tapi juga jadi semeton (sahabat),” tutupnya. (*/r7)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks