alexametrics
Minggu, 27 September 2020
Minggu, 27 September 2020

Selamatkan Giant, Untungnya Apa

MATARAM-Sejumlah investor kakap kolaps. Ada yang sudah lebih dulu tutup. Ada yang masih sekarat. Terbaru kabar Giant Ekstra Gegutu mau tutup per 30 April 2019 beredar. Melalui secarik kertas yang beredar di media sosial hingga melalui pesan berantai.

Lombok Post sendiri sudah berupaya datang ke Giant Ekstra Gegutu. Meminta keterangan lebih lanjut. Namun manajemen lokal lebih memilih tutup mulut. Media diarahkan agar menanyakan itu ke manajemen pusat.

Ragam analisa yang berkembang. Mengenai penyebab tutupnya Giant Ekstra Gegutu. Diantaranya, persaingan sektor usaha online dengan offline. Lalu, daya beli masyarakat yang turun pascagempa bumi. Hingga lokasi yang dinilai tidak strategis.

Terkait olengnya Giant Ekstra Gegutu, anggota Komisi II DPRD Kota Mataram Misban Ratmaji menilai ada perhitungan potensi usaha yang tidak cermat. Sehingga ritel usaha raksasa itu akhirnya oleng. “Coba kita hitung penduduk kota saat ini 450 ribu,” kata Misban.

Angka ini sudah mencakup semua penduduk kota. Dari ekonomi atas hingga kelas bawah. Jika dalam satu hari saja rata-rata pembeli diperkirakan 10 persen, maka ada 45 ribu warga kota yang berbelanja dalam setiap hari. “Kalau 45 ribu itu hanya beli di beberapa ritel modern mungkin menguntungkan,” ujarnya.

Tapi persoalannya, 45 ribu itu harus dibagi lagi dengan ribuan hingga ratusan usaha masyarakat. Ritel modern raksasa sekelas Giant, mal, lalu ada waralaba lain yang juga tak kalah menjamur. Sebut saja Alfamart dan Indomart yang hampir merata tersebar di seluruh penjuru kota.

“Ini belum lagi toko-toko usaha milik masyarakat, hingga pasar-pasar tradisional,” ulasnya.

Luas kota sendiri 61,3 kilometer persegi. Artinya, dalam satu kilometer ada pembeli sekitar 734 orang. Itupun dengan catatan kemampuan daya beli masyarakat merata. Tetapi potensi itu masih besar peluangnya untuk berkurang. Karena masih ada warga yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga kebutuhan sehari-hari tidak dibeli setiap hari.

“Kalau dalam satu kawasan, ada sekitar 50 pedagang saja, dari pedagang besar sampai kecil ada sekitar 14 pembeli untuk satu toko,” rincinya.

Bagi pedagang kecil 14 pembeli dalam sehari masih dinilai cukup menguntungkan. Tapi bagi pedagang besar, sekelas Giant, Transmart, atau Mataram Mall ini justru tidak cukup untuk menutupi biaya operasional.

“Sementara ada Alfamart dan Indomart yang buka 24 jam dan itu membuat persaingan semakin sengit,” ujarnya.

Bagi Misban para pengusaha raksasa terlalu berani berspekulasi. Menganggap kota sebagai kawasan berkembang, tapi tidak mempertimbangkan timing yang tepat.

“Kalau warga kota 1 juta mungkin wajar buka banyak ritel modern, tapi kalau saat ini saya rasa janganlah terlalu ambisi. Biarkan ini jadi kesempatan pedagang kecil saja,” kritiknya.

Kritik ini juga disampaikan Misban untuk Pemkot Mataram yang saat ini sangat ambisius. Membuka kawasan-kawasan sebagai ladang investasi. Padahal dampaknya belum tentu menguntungkan secara ekonomi bagi para pengusaha. “Belum saatnya lah jor-joran,” cetusnya.

Di sisi lain investasi itu memang membawa dampak baik bagi penyerapan tenaga kerja di kota. Tapi perlu diingat investasi juga butuh konsumen sebagai ‘bahan bakar’ usaha. Kalau masyarakat yang membeli tidak ada, pada akhirnya hanya akan membuat pengangguran kembali diproduksi. “Coba lihat sekarang pekerjanya penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Apalagi ritel modern seperti Giant tidak ada kontribusi besar bagi pemasukan daerah. Pajak penghasilannya diterima oleh pemerintah pusat. Sedangkan kota hanya dapat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak reklame, dan potensi parkir. “Tapi Giant juga gratiskan parkir, jadi hampir tidak dapat apa-apa,” cetusnya.

Dalam pemikiran Misban pemerintah tidak punya alasan kuat mendorong agar Giant Ekstra Gugutu tidak menutup cabangnya. Sebab dari segi keuntungan nyatanya tak ada hasil yang menguntungkan bagi daerah. “Kayak Giant, Alfamart, Indomart, dan sejenisnya itu ndak dapat pajak kita,” ungkapnya.

Pajak pertambahan nilai (PPN) langsung diterima pemerintah pusat. Hanya dari segi pengangguran saja kota terancam bertambah. Dengan tutupnya ritel modern itu. “Tapi kalau bangunanya itu nanti dibuat jadi pasar, mungkin bisa serap tenaga kerja lagi,” cetusnya.

Sementara itu, Kepala Badan Keuangan (BKD) Kota Mataram HM Syakirin Hukmi membenarkan kota tak dapat pajak dari hadirnya gurita usaha investor raksasa seperti Giant. Pendapatan kota hanya datang dari PBB, potensi parkir, dan reklame yang dipasang. “Ya potensi reklame mereka yang hilang,” terang Syakirin.

Tidak hanya itu, syakirin juga mengaku sedikit khwatir jika Giant benar-benar tutup. Sebab bagaimanapun bangunan mereka tetap berdiri di wilayah Kota Mataram. Jika usahanya tutup maka ia khawatir ini akan menyulitkan kerja timnya untuk menarik PBB-nya. “Kalau itu tutup, nanti manajemennya ke mana ya? mudahan petugas kami tidak kesulitan mencari untuk menagih PBB,” cetusnya. (zad/r7)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks