alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

UCLG ASPAC Cek Kesiapan Lahan Pengolahan Sampah Mataram

MATARAM-Pihak United Cities and Local Government of Asia Pacific (UCLG ASPAC) mengecek lahan untuk pembangunan pengolahan sampah menjadi biodegester di Kebon Talo, Kecamatan Ampenan. Sampah-sampah organik di Kota Mataram akan diolah untuk menghasilkan listrik.

“Kita akan melakukan asasmen di lahan ini dulu. Baru kemudian akan dilakukan final dengan membuat Detail Engineering Design (DED),” kata Kansultan UCLG ASPAC Kota Mataram Francisca, kemarin.

Untuk diketahui, Kota Mararam menjadi salah satu dari 10 kota di Indonesia terpilih sebagai percontohan lokasi uji coba pengolahan sampah menjadi biodegester. Nantinya, sampah ini akan diolah UCLG ASPAC untuk menghasilkan listrik.

Dijelaskan, pengolahan sampah menjadi biodegester salah satu inisiasi dilakukan di Kota Mataram sebagai upaya untuk menjaga iklim dengan pengembangan biodegester.

Sebagai langkah awal, pihaknya bersama pemkot akan mensurvei lahan yang dipersiapkan. Kemudian dilakukan asesmen struktur tanah untuk memfinalkan dengan membuat DED. “Harapan kita tahun ini sudah ada perencanaan. Sehingga tahun depan bisa terealisasi,” terang dia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram M Nazaruddin Fikri menuturkan, pengolahan sampah menjadi biodegester merupakan rencana tahun lalu. Kota Mataram akan mengolah sampah untuk menghasilkan listrik. “Proyek ini anggarannya langsung dari UCLG ASPAC. Kita hanya menyiapkan lahan saja,” kata dia.

Untuk masing-masing kota, beda permasalahan yang ditangani. Seperti Kupang masalah air. Begitu juga dengan Malang dan Jambi. Diutarakan, pengolahan sampah dengan sistem biodegester bukannya sampah akan teratasi semua. Namun paling tidak sampah organik bisa diminimalisir dengan cara mengubah menjadi tenaga listrik.

“Bau busuknya akan diambil menjadi gas untuk gerakan listrik,” ujar dia.

Menurutnya, apa yang akan dilakukan seirama dengan program zero waste. Mengurangi sampah dengan menjadikannya tenaga listrik. Sejauh ini kata dia, pemkot sudah menyiapkan lahan 1,3 hektare untuk tempat pengolahan sampah menjadi biodegester di Kebon Talo, Kecamatan Ampenan.

Untuk kebutuhan sampah sendiri yang akan diolah menjadi listrik tergantung dari lahan yang dipersiapkan. “Kita hanya diminta persiapkan lahan saja,” ujar dia.

Kini kata dia, komitmen sudah dibuat antara pemkot dengan UCLG ASPAC. Nantinya lahan akan di asesmen, apakah mampu mendukung dari kegiatan ini. “Kami sengaja membuat sistem biodegester ini dekat pasar untuk memudahkan mencari sampah organik,” tuturnya. (jay/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks