alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Setahun 282 Bayi di Mataram Lahir dari Pernikahan Dini

MATARAM-Kasus pernikahan usia dini di Kota Mataram masih tinggi. Hal itu terlihat dari data yang dipaparkan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Sudirman.

“Jika melihat dari data kelahiran bayi dari pasangan usia 15-19 tahun, memang terjadi kenaikan (kasus pernikahan usia dini, Red),” ungkapnya, kemarin (15/9).

Merunut data dua tahun terakhir, kasus kelahiran bayi pada pasangan usia 15-19 tahun di tahun 2018 mencapai 262 orang. Jumlah ini meningkat di tahun 2019 lalu mencapai 282 orang. Sementara untuk tahun 2020, DP2KB masih belum mengkalkulasikan datanya.

Kelahiran bayi dari pasangan yang menikah usia dini paling banyak terdapat di Kecamatan Ampanen 76 bayi. Disusul Kecamatan Mataram 55 bayi, Sekarbela 52 bayi, Sandubaya 45 bayi, Cakranegara 34 bayi, dan Selaparang, 26 bayi.

Mengacu pada data inilah, kasus pernikahan usia anak atau di bawah 21 tahun di Kota Mataram terbilang masih cukup tinggi. “Data kelahirannya saja meningkat. Kalau data perkawinannya bisa jadi jauh lebih dari itu,” bebernya.

Hanya saja, untuk data perkawinan anak usia 15-19 tahun itu sulit didapatkan karena tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA). “Tapi, untuk data kelahiran dari anak mereka, itu memang menjadi tupoksi kami,” jelasnya.

Karena kelahiran bayi dari pasangan usia subur yakni usia 15-49 tahun menjadi tanggung jawab DP2KB. Kaitannya dengan kesejahteraan dan program keluarga berencana pada pasangan tersebut. Maka setiap kelahiran dari pasangan yang tercatat oleh negara atau tidak menjadi tanggung jawab pihak DP2KB.

Dari hasil temuan di lapangan, Sudirman membeberkan ada beberapa alasan terjadinya kasus pernikahan usia dini. Diantara akibat pandemi Covid-19, kurangnya kontrol orang tua, hingga dampak teknologi smartphone yang rentan disalahgunakan anak-anak.

“Ini menjadi beberapa indikator penyebab pernikahan usia dini ini,” paparnya.

Disamping, minimnya pengetahuan keluarga tentang perkawinan. Bagaimana dampak jika perkawinan usia dini terjadi pada kehidupan anak-anak mereka ke depannya. “Jadi kalau anak mau menikah dibiarkan saja tanpa ada kontrol orang tua,” ungkapnya.

Untuk itu, DP2KB telah menyiapkan beberapa program untuk mengantisipasi ini kaitannya dengan pengendalian penduduk. Misalnya melalui Program Generasi Berencana (GenRe), Kampung KB, dan penyuluhan penggunaan KB di tengah masyarakat.

“Untuk tahun ini kami targetkan 9.444 akseptor peserta KB. Dari jumlah populasi pasangan usia subur (PSU) sekitar 76.000 pasangan,” bebernya.

Sebelumnya, beberapa pihak sekolah mengakui jika beberapa siswa menikah ketika masa pembelajaran dari rumah dilaksanakan (BDR). Namun belum dipastikan, apakah pernikahan disebabkan karena dampak pandemi Covid-19 atau tidak.

“Di sekolah kami ada dua siswa yang menikah selama pembelajaran dari rumah. Belum tahu juga alasannya menikah,” beber Guru Bahasa Indonesia SMAN 10 Mataram Baiq Septi Sulistya.

Banyak faktor yang menyebabkan siswa menikah menurut pihak sekolah. Mulai dari kurangnya pengawasan orang tua dan kesadaran mereka mencegah anaknya menikah saat masih duduk di bangku sekolah.

Namun tidak ditampik, proses belajar dari rumah yang terlalu lama membuat para siswa merasa bosan. Mengingat mereka sudah tidak melakukan pembelajaran tatap muka secara efektif di sekolah sejak Maret lalu. (ton/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks