alexametrics
Kamis, 22 Oktober 2020
Kamis, 22 Oktober 2020

Makmur Klaim Sudah Punya Solusi Masalah Sampah Mataram

MATARAM-Calon Wali Kota Mataram nomor urut 3 HL Makmur Said mengklaim sudah punya solusi mengatasi masalah sampah di daerah ini. Bahkan, kemarin ia memaparkan persoalan utama penanganan sampah.

“Apa masalahnya dan bagaimana penanganannya. Kita sudah paham. Kita juga sudah menyiapkan solusinya,” tegas pria yang pernah menjabat Sekda Kota Mataram selama 11 tahun tersebut.

Menurutnya, kurang tepat kalau sampah selama ini dikatakan tidak ditangani. “Saya merasa sampah tetap ditangani. Cuma persoalan utamanya, produksi sampah melebihi daya angkut,” jelas Makmur kepada Lombok Post.

Dipaparkan Makmur, volume sampah yang diproduksi warga Kota Mataram per hari mencapai 1.200 meter kubik. Dari jumlah itu, yang terangkut ke TPA hanya 1.000 bahkan 800 kubik. Sehingga tersisa 200-400 meter kubik. “Itulah sebabnya sisanya bertumpuk dan kepenuhan di TPS,” kata dia.

Karena kapasitas TPS juga tidak bisa menampung sampah tersebut, maka berceceranlah TPS liar. Sehingga, inilah yang menurut Makmur harus disiapkan solusinya. “Kami punya program melengkapi sarana prasarana terutama alat angkut,” terangnya.

Keberadaan alat angkut menjadi masalah utama penanganan sampah. Mulai dari alat angkut roda tiga hingga gerobak di tingkat lingkungan. Ini harus tersedia sesuai kebutuhan. “Misalnya satu lingkungan butuh empat, maka itu kami berikan. Dengan harapan tidak ada sampah di rumah tangga yang tidak terangkut ke TPS,” kata dia.

Kemudian setiap TPS dilengkapi kontainer. Tidak ada sampah yang boleh berserakan. “Sampah itu harus masuk kontainer. Baru kemudian dari TPS sampah diangkut ke TPA Kebon Kongok,” tegasnya.

Dikatakan, saat ini, unit kendaraan yang tersedia hanya 30 unit. Itu menurutnya sangat terbatas. “Karena itu, kami akan sediakan sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau butuhnya 50 unit, ya segitu kita sediakan agar persoalan utamanya selesai,” janjinya.

“Yang penting bisa tuntas angkut sampahnya. Kami akan prioritasakan anggaran itu untuk penanganan sampah ini,” imbuhnya.

Selain fokus pada sarana prasarana pengangkutan sampah, masalah produksi sampah juga harus disentuh. Untuk mengurangi kapasitas daya tampung TPA dan TPS, harus ada pengolahan sampah dimulai dengan pemilahan di tingkat rumah tangga. “Nonorganik bisa jadi bahan bakar. Organik bisa jadi pupuk, kompos. Ini bisa diolah melalalui bank sampah terintegrasi dengan program zero waste Pemprov NTB,” paparnya.

Tahap pertama, yang terpenting menurut Makmur adalah harus dipenuhi sarana penanganan sampah. Agar kebersihan kota terjaga. Setelah bersih, baru difokuskan bagaimana pemanfaatan sampah itu sendiri. Apakah diolah kembali agar bernilai ekonomi serta mengurangi produksi sampah.

“Masalah utama adalah sarana pengangkutan. Ini harus menjadi prioritas. Prioritas terhadap kegiatan dan juga anggaran,” pungkasnya.

Sementara Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram Abdul Malik juga melihat masalah sampah ini memang belum bisa diselesaikan secara tuntas di Kota Mataram. “Kami melihat persoalan sampah ini nggak selesai-selesai sampai saat ini,” akunya.

Mataram menurutnya memang harus memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hanya saja, Pemkot diakuinya kesulitan mencari lokasi yang sesuai. Politisi Golkar ini juga mengaku banyak terobosan yang sudah diupayakan oleh Pemkot Mataram. Hanya saja hasilnya belum maksimal karena edukasi kepada masyarakat tidak berjalan lancar. “Apalagi semakin banyak penduduk, maka akan semakin banyak sampah,” paparnya.

Untuk itu, Malik menaruh harapan kepada pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum) yang diusung Partai Golkar. “Kalau Harum menang, kami harapkan bisa dilaksanakan pengelolaan sampah berbasis lingkungan” kata dia.

Dalam artian volume sampah bisa ditekan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat. Sampah dipilah mana yang bisa jadi sampah komersil, kompos, serta mana yang akan dibuang ke TPA.

Malik menyebut ada beberapa titik area sampah yang masih krodit di Kota Mataram. Mulai dari kali, sungai, dan pemukiman warga. “Titik krodit di Karang Medain, di Taman Sejahtera sebelum masuk pom bensin Ampenan, kemudian Sandubaya,” paparnya.

Untuk usulan insenerator penanganan sampah, ia mengaku solusi ini sudah sering dibahas. Hanya saja, insenerator dinilai bisa menyebabkan pencemaran udara. “Solusinya adalah penanganan berbasis masyarakat. Di setiap kelurahan nanti ada angkutan keliling sesuai jadwal pembunagan dari lingkungan langsung ke TPA (tidak melalui TPS),” sarannya. (ton/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kenali La Nina, Waspadai Dampaknya

HUJAN dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur sebagian wilayah Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Tentu banyak pihak yang bertanya-tanya, apakah memang musim hujan telah datang ? Berdasarkan prakiraan awal musim kemarau tahun 2020/2021 oleh BMKG, musim kemarau tahun 2020 ini sifatnya memang tidak sekering tahun sebelumnya.

17 Ribu Tenaga Kesehatan NTB Bakal Divaksin Lebih Dulu

Pemprov NTB telah menyetor nama-nama tenaga kesehatan untuk diberikan vaksin anti Covid-19. ”Daftar tenaga medis sudah saya serahkan ke pusat,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (20/10).

Kampanye Sehat di Dompu Pasangan Eri-HI Bagi Masker untuk Para Lansia

PASANGAN Calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu Eri Aryani-H Ichtiar (Eri-HI) terus menyuarakan kampanye sehat. Salah satunya dengan bagi-bagi masker saat ada kegiatan kampanye tertutup.

Juri Kampung Sehat NTB Mulai Menilai Pemenang di Sumbawa

Tim Penilai Lomba Kampung Sehat tingkat provinsi sedang berada di Sumbawa. Penilaian kini sedang dilakukan pada tiga pemenang Lomba Kampung Sehat tingkat kabupaten di wilayah tersebut. Yang sudah dinilai hingga kemarin Kelurahan Samapuin dan Desa Moyo Hilir.

XL Axiata, Pertama di Asia Tenggara yang Pakai SAP S/4HANA Cloud

“XL Axiata berhasil melakukan transformasi menjadi pemimpin dalam hal penyedia layanan digital dan data. Kami sangat percaya dan berkomitmen penuh terhadap transformasi digital sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan,” kata Yessie D. Yosetya, Director & Chief Information-Digital Officer XL Axiata.

Anggota DPR RI Ragukan NTB Siap Selenggarakan MotoGP

”Kami belum melihat ada promosi besar-besaran di tengah masyarakat,” katanya dalam keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

52 Ribu UMKM NTB Bakal Dapat Bantuan Presiden Rp 2,4 Juta

Pemprov NTB mengusulkan 52.661 UMKM sebagai penerima bantuan presiden (banpres) produktif. ”Data ini terus kita perbarui sampai minggu kedua bulan September,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Wirajaya Kusuma, pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7
Enable Notifications    Ok No thanks