alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Ketua DPRD Mataram Datangi RPH Majeluk, Pastikan Sapi Bebas Penyakit

MATARAM-Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi merespons persoalan penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi pada hewan ternak sapi. Mengingat kasus ini cukup meresahkan masyarakat Kota Mataram beberapa hari terakhir. Politisi Partai Golkar ini pun turun mengecek prosedur pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk, kemarin (15/6).

“Saya kemari untuk memastikan apakah ada pola yang disiapkan untuk menangani sapi yang sakit ketika masuk RPH. Saya lihat sudah ada SOP, imbauan dan bagaimana penerapannya (penanganan sapi yang masuk) di sini,” kata Didi.

Dijelaskannya sudah ada sistem yang terbangun bagaimana memilah sapi yang sehat dan yang sakit. Begitu masuk lokasi RPH, sapi yang dicek kondisinya ternyata sakit maka langsung dipisahkan di tempat khusus. Pemotongannya pun dilakukan terakhir setelah seluruh sapi yang sehat masuk. Sehingga antara sapi sehat dan sapi sakit tidak tercampur.

“Tapi dari jumlah sapi yang sakit masuk RPH relatif kecil, di bawah 10 ekor. Itu terhitung sejak terjadinya PMK sampai saat ini. Setelah itu relatif menurun,” katanya.

Baca Juga :  Kemiskinan Masih Jadi Prioritas

Itu artinya, sapi yang dalam kondisi sakit dipotong di RPH sangat sedikit. Kondisi sakitnya pun tidak parah dan masuk kualifikasi ringan. Khususnya yang 10 ekor yang pernah masuk ke RPH. Dagingnya aman dikonsumsi karena PMK ditegaskan tim dari Dokter Hewan Dinas Pertanian Kota Mataram melalui Bidang Peternakan tidak menular ke manusia.

Didi menjelaskan laporan dari Bidang Perternakan, secara keseluruhan saat ini ada 436 ekor sapi yang terdampak PMK. Semua sudah mendapatkan penanganan dan beberapa masih dalam proses penyembuhan.“Tinggal persoalannya adalah ketersediaan obat. Bagaimana kita menyiapkan obat, vitamin dan vaksin bagi sapi yang terkena PMK,” kata dia.

Pemberian obat ini sangat penting karena sebagian besar sapi yang sakit dan diobati, tingkat kesembuhannya tinggi. “Kami akan bicarakan dengan pak wali kota bagiamana anggaran untuk pembelian obat. Ketika tidak ada sama sekali anggaran yang tersedia, kami akan usulkan menggunakan dana tak terduga. Karena ini memang butuh penanganan cepat,” tegasnya.

Saat ini yang penting juga menurut Didi adalah bagaimana memastikan lingkungan peternak itu aman dan steril. Kemudian bagaimana menyiapkan obat atau vitaminnya. Termasuk bagaimana memberikan informasi kepada konsumen mana saja daging yang berasal dari sapi sakit.

Baca Juga :  Jangan Lengah, Sudah 34 Warga Mataram Meninggal Akibat Covid-19

Ia mengaku mendapatkan keluhan peternak, sapi yang sakit dibeli dengan harga rendah. Sementara pedagang saat menjual sapi tersebut harga dagingnya sama dengan sapi sehat.

“Ini kan tidak adil. Maka ini memang perlu diatensi karena jangan sampai merugikan peternak. Meskipun kasus penyembelihan sapi sakit di sini sangat kecil,” ucapnya.

Sementara Koordinator RPH Majeluk Karya mengaku sejauh ini jumlah sapi yang dipotong di RPH ini terbilang stabil. Tidak ada penurunan signifikan. “Relatif sama. Meski di awal sempat ada penurunan, tetapi tidak siginifikan,” kata dia.

Jumlah sapi yang dipotong di RPH Majeluk normalnya 15 ekor. Namun ketika awal kasus PMK menyeruak, jumlahnya berkurang di kisaran 13 ekor. Kini kondisinya perlahan stabil. “Semua daging sapi tersebut juga rata-rata habis. Kadang ada tersisa kurang dari 10 persen tetapi itu juga tetap dibawa pulang pedagang. Tidak berpengaruh signifikan,” tandasnya. (ton/r3/ADVERTORIAL)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/