alexametrics
Minggu, 27 September 2020
Minggu, 27 September 2020

Lihat Huntara seperti Rumah Hantu

Saat baru saja trauma mereka hilang dihapus rumah yang akan berdiri sempurna, bumi kembali berguncang. Akibatnya, rasa takut kembali datang. Perasaan tenang akan hunian tetap pun seketika sirna. Hari Minggu pun kembali menjadi hari yang ‘menakutkan’ bagi mereka.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

============================

Siang  jelang sore itu, lapangan umum Desa Madayin begitu lengang. Di sampingnya, terlihat para pekerja pembuat panel Risha. Lapangan itu seperti tak pernah menjadi posko utama tim siaga bencana gempa bumi Provinsi NTB. Tak juga seperti lapangan yang pernah dikunjungi orang nomor satu di Indonesia. Presiden RI Joko Widodo.

Singkatnya, tempat itu sepi. Sampai pada pukul 15.07 Wita, orang-orang berhamburan keluar.  Teriakan terdengar. Semua itu akibat guncangan berkekuatan 5,8 SR. Dalam hitungan detik, lapangan umum Desa Madayin kembali menjadi incaran warga.

“Semua ke lapangan,” kata salah seorang warga berteriak begitu gempa 5,2 SR menyambung getaran pertama.

Penulis Koran ini tadinya sedang memantau progres pembangunan RTG dan pembuatan panel Risha. Istirahat makan siang dan mengetik berita di sebuah warung makan di depan lapangan umum desa Madayin. Namun, makanan dan paragraf terakhir pun jadi buyar. Ketika bumi bergetar dan semua orang berhamburan keluar.

“Jangan ada yang ada di dalam rumah,” teriak salah seorang warga lainnya.

Teriakan semacam itu sudah biasa di kala gempa bumi terjadi. Tapi bagi mereka yang saat ini sedang merancang hunian tetap, tentu akan berbeda. Sejak Juli 2018 lalu, mereka telah tinggal di rumah hunian sementara.

“Saya sedang membuat rumah Risha. Sekarang terpaksa saya tinggalkan karena takut,” kata salah seorang warga Madayin, Amaq Zul.

Di samping Amaq Zul, Amaq Roni, salah seorang warga Desa Madayin lainnya menerangkan jika selama ini ia tak berani tidur dalam rumah yang ada temboknya. Apalagi guncangan sudah ia rasakan sejak Jumat (15/3) lalu. Kata Roni, gempa di hari Minggu membuatnya trauma. “Kita ingat dulu, Minggu siangnya gempa. Malam harinya sekitar pukul satu ada gempa besar lagi. Itu yang kita takutkan,” katanya.

Hampir dua jam lebih, warga tak berani memasuki rumahnya. Tapi jangan tanya apakah mereka akan membuat tenda atau tidak. Kata Roni, setiap malam mereka sudah selalu waspada. Karena tidurnya memang di rumah hunian sementara.

“Tapi kalau sudah begini, anak saya pasti takut tidur di dalam,” terang Roni membayangkan dirinya yang harus begadang di teras.

Roni yang memangku puteranya menerangkan jika beberapa warga memang sudah terbiasa dengan gempa-gempa kecil. Tapi meskipun terlihat biasa, hati kecil dan perasaan trauma tak bisa disembunyikan.

Kondisi Desa Madayin tak berbeda jauh dengan desa Obel-obel, Belanting, Sugian, dan desa lainnya di Kecamatan Sambelia. Persis seperti ketika gempa bumi terjadi, warga akan terlihat berkumpul di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan pulang, penulis Koran ini melihat kerumunan beberapa warga.

Memang kesan keterbiasaan pada gempa sudah ada. Tak seperti ketika gempa di akhir Juli 2018 lalu terjadi. Di mana, saat pertama kali guncangan dahsyat meluluhlantahkan rumah mereka, banyak sekali wajah-wajah pucat dan trauma yang terlihat. Tapi kini, kondisi begitu cepat pulih. Warga kembali beraktivitas seperti biasa.

“Kita memang tidak mau terpuruk. Kita harus lanjut bekerja. Kalau tidak, mau makan apa,” kata Zul menimpali rekannya.

Tapi di malam hari, mereka akan berjaga. Memastikan jika ada gempa, tak ada lagi korban nyawa. Apalagi dari keluarga mereka sendiri. Saat menjawab beberapa pertanyaan dari penulis Koran ini, salah seorang dari warga mengatakan jika getaran-getaran kecil masih terasa.

Ya, jika Anda tidak pernah ke Sambelia saat gempa terjadi, maka apa yang dirasakan warga  dua kali lipat akan Anda rasakan. Bumi yang terasa terus berguncang itu begitu terasa. “Beberapa minggu lalu juga terasa. Tapi saya pikir saya saja yang merasakannya. Sekarang terbukti kan, yang besaran datang,” kata ibu-ibu yang duduk di samping Roni.

Beberapa menit sebelum penulis Koran ini meninggalkan lapangan umum desa Madayin, warga yang mencari aman di lapangan berangsur-angsur kembali ke hunian sementara mereka. Perlahan-lahan kondisi kembali seperti sedia kala.

“Tapi kita terus waspada. Trauma jangan di kata. Rumah yang kita mau bangun rasanya akan runtuh saja. Huntara terlihat seperti rumah hantu. Kami tak berani memasukinya,” kata Roni saat Koran ini pamit meninggalkannya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Penataan Kawasan Wisata Senggigi Dimulai

Penataan kawasan wisata Senggigi direalisasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat (Lobar). Sayang, dari tujuh proyek dalam perencanaan, hanya lima yang bisa dieksekusi.

LPPOM MUI NTB Target Sertifikasi Halal 125 Usaha Rampung Tahun Ini

”Rinciannya, dari Dinas Perindustrian NTB dan pusat sebanyak 75 usaha, serta Dinas Koperasi Lombok Barat sebanyak 50 usaha,” katanya, kepada Lombok Post, Rabu (23/9/2020).

Solusi BDR Daring, Sekolah Diminta Maksimalkan Peran Guru BK

Jika terkendala akses dan jaringan internet, layanan dilaksanakan dengan pola guru kunjung atau home visit. ”Di sanalah mereka akan bertemu dengan siswa, orang tua, keluarga. Apa permasalahan yang dihadapi, kemudiann dibantu memecahkan masalah,” pungkas Sugeng.

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks