alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Malaysia Tak Larang Warganya Berwisata ke Lombok

MATARAM-Semua wisatawan korban longsor akibat gempa di Air Terjun Tiu Kelep telah berhasil dievakuasi. Dua meninggal dunia dan 26 orang lainnya selamat. Pagi kemarin, jenazah wistawan yang kemarin malam tidak bisa dievakuasi berhasil diangkat tim SAR.

Jenazah pun telah dipulangkan ke Malaysia menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dengan transit di Jakarta. Biaya pemulangan ditanggung Kementerian Pariwista. Demikian juga korban yang luka-luka. Sementara korban selamat juga disiapkan hotel berbintang di Kota Mataram.

Kemarin pagi, Abu Bakar, Petugas Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta juga sudah berada di Mataram. Abu Bakar memastikan, Pemerintah Malaysia tak menerbitkan larangan berwisata bagi warganya ke Lombok.

”Oh tidak-tidak (menyetop wisatawan). Tidak ada,” tandasnya.

Abu Bakar mengatakan, Pemerintah Malaysia memahami, bencana tidak bisa diprediksi. Bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Semua itu diluar kendali manusia. Dan semuanya merupakan kuasa Tuhan.

”Kami datang ke sini membantu semuanya. Baik yang meninggal, sakit, dan yang selamat,” katanya.

Atas nama Pemerintah Malaysia, Pihak Kedutaan pun berterima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan pemerintah Indonesia. Mulai dari penginapan, pelayanan rumah sakit, hingga proses pemulangan.

”Saya mewakili Kedutaan Malaysia di Jakarta sangat berterima kasih atas segala bantuan,” katanya.

Dua warga Malaysia yang menjadi korban longsor di Tiu Kelep atas nama Tai Siew Kim, 56 tahun dan Lim Sai Wah, 56 tahun. Sementara bagi wisatawan yang selamat, Pemprov memfasilitasi penginapan hingga penjadwalan ulang pesawat. Bagi yang ingin tinggal sementara di Lombok diizinkan sembari menuggu sembilan orang wisatawan lainnya yang masih dirawat di RSUD NTB.

Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal menjelaskan, terhadap  korban yang selamat, pemerintah memberian pelayanan terbaik. Mereka diinapkan di hotel-hotel yang ada di Kota Mataram. Pemprov menyiapkan tujuh hotel tempat mereka beristirahat. Bagi yang ingin pulang mereka bisa langsung berangkat, tapi bagi yang ingin tinggal sementara diberikan tempat menginap.

”Kami fasilitasi untuk hotel-hotelnya,” kata Faozal.

Rombongan wisatawan Malaysia itu sebanyak 28 orang. Mereka menginap di salah satu hotel di Senggigi. Mereka sudah dua hari berada di Lombok dan rencananya Senin kemarin pulang ke Malaysia menggunakan maskapai AirAsia. Namun, karena kejadian longsor di Tiu Kelep itu menyebabkan kepulangan mereka tak bisa tepat waktu. Pemerintah pun memastikan akan membantu mempermudah proses pemulangan.

”Semua biaya free termasuk biaya pengobatan,” kata Faozal.

Proses Evakuasi

Sementara itu, proses evakuasi jasad Lim Sae Wai sendiri dipimpin langsung Komandan Korem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani. Tim evakuasi terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, dan Polri. Tim bergerak dari posko ke lokasi pukul 07.30 Wita.

Pukul 08.05, tim mulai melakukan evakuasi. Selama kurang lebih 25 menit korban bisa diangkat tim. Proses evakuasi tidak berlangsung lama. Tim hanya terkendala medan yang cukup curam dan licin. Jenazah kemudian dibawa ke RSUP NTB di Mataram.

“Kami pastikan, korban sudah tidak ada lagi. Sehingga evakuasi selesai dan ditutup,” kata Kolonel CZI Ahmad Rizal Ramdhani di posko TNI usai evakuasi.

Menurut Alumni Akmil 1993 tersebut, pihaknya juga sudah mengerahkan seluruh Babinsa untuk melakukan pendataan terkait akibat gempa tersebut. Pendataan untuk memastikan jangan sampai ada rumah yang rusak, atau korban yang kalau saja mungkin belum tertangani. TNI juga akan terlibat dalam pendataan rumah warga yang rusak akibat gempa bermagnitudo 5,8 tersebut.

Suara Gemuruh

            Secara terpisah di Mataram, Alan Pang, 56 tahun, salah seorang wisatawan asal Johor, Malaysia yang selamat menuturkan, dirinya belum bisa tenang. Perasaanya masih campur aduk. Cemas dan takut.

Dia trauma dengan kejadian di Air Terjun Tiu Kelep. Bebatuan dari atas tebing air terjun berjatuhan dan mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

”Nasib baiklah (masih selamat),” katanya sambil mengelus dada.

            Saat gempa terjadi, mereka tengah berada di Air Terjun bersama wisatawan yang lain. Dia dan istri sudah siap-siap untuk pulang sambil menikmati suasana alam sebelum pulang. Namun, gempa tiba-tiba terjadi dalam sekejap dan membuat mereka kaget.

Beberapa saat kemudian batu berjatuhan dari atas tebing air terjun. ”Begitu meletup macem bom, batu same sekali turun (batu berjatuhan),” katanya.

Bersama 10 orang lainnya mereka langsung menyelamatkan diri di balik batu besar bersama warga lokal. Untungnya mereka selamat meski dua orang lainnya meninggal dunia. Alan bersama teman-temannya dari Johor dan Kuala Lumpur berlibur ke Lombok untuk merayakan reunian teman sekolah sejak kecil.

Hal yang sama juga dirasakan Koks Shao Tye, 60 tahun. Saat kejadian dia hanya bisa pasrah dan ingat mati saja. Sebab, gempa terasa sangat besar, lalu disusul suara dentuman dan batu berjatuhan dari atas tebing. Tanganya terkena luka gores namun tidak parah.

 ”Saya ingat mati saje,” ujarnya.

Untungnya mereka cepat dievauasi dan keluar dari kawasan tersebut dengan selamat. Dia mengaku baru pertama kali datang ke Lombok, dan belum berpikir untuk kembali lagi.

”Saya belum bisa berkata apa-apa dulu. Pikiran masih belum tenang,” ujarnya dalam bahasa Malaysia.

            Sedangkan untuk korban bernama Tomi yang berusia 14 tahun, warga Senaru, Kepala Desa Senaru Lalu Wira Sakti mengatakan, Tomi memang menggantungkan hidupnya di obyek wisata Air Terjun. Ia merupakan guide lepas di kawasan tersebut.

Wira menuturkan, selain 16 orang wisatawan dari Malaysia yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan sisanya perempuan, terdapat 8 orang wisatawan lokal dan porter termasuk Tomi.

Terkait beredarnya informasi masih ada sekitar enam wisatawan yang terjebak, ia mengaku sudah melakukan penyisiran bersama warga. Informasi itu beredar disaat para porter panik, karena wisatawan yang mereka antar belum mereka temukan saat kejadian gempa.

“Kami sisir semua, dan kami bisa pastikan sudah tidak ada lagi,” katanya.

Pola Penanganan Sama

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum mengatakan, akibat gempa 5,4 SR tersebut, 525 unit rumah rusak. Korban luka-luka 119 orang dari Lombo Timur dan 37 orang di Lombok Utara, dan meninggal dunia tiga orang atas nama Tomi Albayani, 14 tahun asal Desa Senaru, Lombok Utara, dan dua warga Malaysia yakni Tai Siew Kim, 56 tahun dan Lim Sai Wah, 56 tahun.

Korban luka-luka dirawat di Puskesmas dan RSUD. Sementara untuk bantuan rumah rusak, BPBD belum memverifikasi. Tapi pola penyaluran bantuan akan sama seperti pembangunan rumah tahan gempa yang sudah ada.

”Sama saja, nanti  kami akan proses,” ujarnya.

Bagi rumah rusak berat diberikan dana stimulan Rp 50 juta, rusa sedang Rp 25 juta dan rusak ringan Rp 10 juta. Namun rumah tersebut harus diproses terlebih dahulu, warga dimasukkan ke dalam data penerima baru. Rumah-rumah yang rusak sebelumnya sudah akibat gempa Agustus. Tapi ia memastikan tidak ada rumah tahan gempa yang rusak. (ili/fer/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.
Enable Notifications    Ok No thanks