alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Jelang Lebaran Seluruh Toko Pakaian di Mataram Tetap Boleh Beroperasi

MATARAM-Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengatakan, keputusannya sudah bulat. ”Tidak. Saya tidak akan menutup. Tapi akan mengatur,” kata Ahyar, Senin (18/5).

Meski beberapa masyarakat dan legislatif mengkritiknya, ia tak peduli. Kecuali, jika toko pakaian melanggar kewajibannya melakukan protokol pencegahan Covid-19. ”Kalau kondisinya memang sudah tidak bisa diatur, ya kita tutup,” tegasnya.

Wali kota dua periode ini menyebut tetap beroperasinya toko pakaian, dilakukan setelah mempertimbangkan banyak aspek. Bukan semata persoalan ekonomi. Bagi Ahyar, Kota Mataram tidak pernah mengambil langkah lockdown. Sehingga toko-toko yang menyediakan kebutuhan masyarakat bisa tetap beroperasi.

Pemkot kemudian mengatur soal operasional mereka. Yang berkaitan dengan protokol pencegahan Covid-19. Seperti membatasi jam buka tutup toko; mengatur akan tidak ada kerumunan selama berbelanja; wajib memakai masker.

”Ini untuk kebaikan kita semua,” tutur Ahyar.

Pemkot Mataram sebelumnya melakukan pertemuan dengan 13 pengusaha. Yang memiliki toko pakaian di Kota Mataram. Yang ketika menjelang lebaran, dipastikan akan ramai dikunjungi masyarakat.

Saat itu, kata Ahyar, pengusaha meminta untuk pemkot tidak menutup toko pakaian milik mereka. Mereka meminta agar bisa tetap buka, tapi dengan melaksanakan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat.

Tapi, praktik di lapangan tidak seperti itu. Banyak toko pakaian yang abai menerapkan protokol. Terutama dalam hal physical distancing. ”Itulah yang saya katakan, tidak semua yang kita inginkan dan sepakati itu bisa terlaksana,” dalih Ahyar.

Selain kepada ke-13 pengusaha, Ahyar juga mengaku telah mengirim surat kepada pemilik mall di Mataram. Mereka diperbolehkan tetap buka, namun hanya untuk tenant yang menjual bahan pokok dan makanan. Sama seperti di toko pakaian, beberapa tenant yang menjual baju di mall tetap buka seperti biasa.

Baca Juga :  Pelayanan Publik Mataram Mulai Digarap Tahun Depan

”Inilah yang akan kita tertibkan. Supaya tahu modelnya orang. Kita minta tanggung jawabnya untuk melaksanakan surat kita,” kata Ahyar dengan nada tinggi.

Polemik mengenai diperbolehkannya toko pakaian tetap buka, sementara masjid-masjid maupun rumah ibadah lain ditutup, ditanggapi Ahyar. Katanya, pemkot tidak pernah melarang masjid untuk tetap buka.

Pemkot, lanjut Ahyar, hanya memberi imbauan. Sebagai umat beragama, untuk wajib menjaga diri. Menghindari berkumpul. Ibadah-ibadah yang diminta untuk ditunda pelaksanaannya di masjid maupun musala, bisa dilaksanakan di rumah. ”Kita tidak boleh berpikir kenapa masjid dilarang,” tandas Ahyar.

Setelah beredar di media sosial soal keramaian di toko pakaian, Polresta Mataram langsung turun tangan. Salah satunya dengan meminta pemilik toko pakaian di kawasan Cakranegara, untuk tutup.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Guntur Herditrianto mengatakan, yang dilakukan Minggu malam bukan merupakan pembubaran atau penutupan paksa. ”Kita mengimbau kemarin. Supaya pengunjung segera menyudahi aktivitas berbelanja mereka,” kata Guntur.

Ia melanjutkan, toko tersebut telah melewati jam operasional yang diberikan Pemkot Mataram. Termasuk mengenai batasan pengunjungnya.

Terdapat juga pelanggaran lainnya. Seperti parkir yang melebihi badan jalan. Yang kemudian ditindaklanjuti kepolisian dengan memberikan tilang. Hingga pengunjung toko pakaian yang tidak menggunakan masker.

”Kita awasi terus agar protokol pencegahan Covid-19 bisa tetap dilaksanakan,” tandas Guntur.

Sementara Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Swandiasa mengatakan, salah satu toko pakaian di Kota Mataram terpaksa ditutup paksa, kemarin. “Toko F kita tutup paksa karena melanggar protokol pencegahan Covid-19,” bebernya.

Baca Juga :  Ratusan Hotel di Lombok Tutup, Ribuan Pekerja Dirumahkan

Sebelum ditutup, toko F sudah dipantau oleh petugas. Hasilnya, pemilik toko tidak membatasi jumlah pengunjung yang masuk. “Saya harap ini akan memberikan efek jera,” kata dia.

Sebelumnya, lanjut Nyoman, para pelaku usaha juga sudah menandatangani surat perjanjian dengan Pemkot Mataram. Mereka bisa beroperasi dengan catatan menerapkan protokoler pencegahan Covid-19. Namun pada realitanya, kesepakatan diabaikan. Pengunjung terlihat berdesak-desakan di sejumlah toko pakaian.

Tak hanya itu, jam tutup tak diindahkan. Hingga pukul 21.00 Wita lebih toko masih beroperasi. Padahal, sesuai kesepakatan para pelaku usaha, dibolehkan buka sampai pukul 21.00 Wita. “Kalau masih melanggar akan kita tindak lebih tegas,” kata dia.

Sementara Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Mataram H Ramadhani enggan menyalahkan para pelaku usaha. Menurutnya, sejauh ini para pelaku usaha sudah menerapkan protokoler pencegahan Covid-19. Mulai dari menyiapkan tempat cuci tangan hingga para pengunjung yang masuk di cek suhu tubuhnya.

“Yang gak bisa diterapkan membatasi jumlah pengunjung,” kata dia.

Menurutnya, para pelaku usaha tidak mungkin menolak pengunjung yang datang. “Tidak mungkin lah para pelaku usaha akan menolak rezeki,” ungkap dia.

Sebelumnya, lanjut dia, Disdag sudah membuat posko di depan toko-toko pakaian yang menjadi pusat keramaian. Namun karena keterbatasan personel, posko tidak ada penghuni. “Saya rasa kesadaran masyarakat juga sangat dibutuhkan,” ungkap dia.  (dit/jay/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/