alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Ketika KUBe Bersatu Sukses Lindungi Anggota dari Jerat Hutang

Banyak jalan, menuju roma. Asal mau, ada saja cara berdaya. Biar gak selamanya ngutang ke bank rontok. Yang saban pagi datang nagih, lengkap dengan bunga-bunganya. Mau?

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

================================= 

SAAT merintis usaha abon, Nurul Azizah sebenarnya tak menaruh mimpi yang tinggi. Kelak usaha yang ia rintis dengan adiknya itu, tumbuh dan jadi andalan tetangganya.

Sekalipun pendapatannya belum berhasil menembus angka di atas belasan juta rupiah. Tapi ada manajemen keuangan yang baik dilakukan Azizah. Agar Anggotanya bisa terlidungi dan sejahtera. Bagaimana?

“Keuntungannya tidak dibagi rata. Tapi kita buat jadi iuran kesejateraan anggota, misalnya ada yang sakit dan butuh uang segera, baru kita pakai,” bebernya.

Sebelum akhirnya menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUBe), usaha ini telah ia rintis sejak lima tahun silam. Saat itu Azizah dan adiknya Aini, begitu ingin membantu suami masing-masing, mencari nafkah menambah penghasilan.

Tidak hanya itu, keinginan itu juga didorong oleh keadaan tetangga sekitar. Notabene mereka adalah nelayan. Bila cuaca buruk tiba, selalu akrab dengan persoalan.

“Saat cuaca buruk, tak bisa lepas dari lilitan utang,” kisahnya.

Tekad Azizah dan Aini pun bulat. Mereka pun coba membuat abon ikan dengan bumbu warisan. Pada awal produksi, mereka hanya membuat beberapa kilogram saja. Karena, sempat khawatir produknya tak ada  yang mau beli.

“Coba-coba, eh… ternyata banyak yang suka. Taruh di warung-warung habis,” ujarnya, tak mengira.

Tetangganya satu-persatu tertarik ikut membantu. Begitu melihat usahanya banyak yang meminati. Target warung-warung dan toko pun ditingkatkan. Tidak hanya satu dua warung saja. Varian abon pun tidak hanya ikan. Tetapi ditambah dengan dari bahan lain.

“Ada daging sapi dan ayam,” kisahnya.

Azizah sadar. teknik pengemasan mereka masih terkendala teknologi. Caranya masih sederhana. Ini membuat daya tahan abon paling lama hanya mampu sekitar tiga bulan. Lebih dari itu kedaluwarsa dan berjamur. Sekalipun begitu, untungnya penjualan mereka selalu lancar.

“Usaha ini kami beri nama, Abon Aini. Pakai nama adik saya,” akunya.

Belakangan, usaha Azizah dilirik Dinas Sosial Provinsi NTB. Selanjutnya dari usaha rumahan, didorong jadi Kelompok Usaha Bersama (KUBe). Varian yang dijual, tidak hanya berbentuk abon. Tapi ada juga keripik dari bahan singkong.

“Ya lumayan bisa dapat Rp 3 juta sebulan, cukup buat nambah-nambah isi dapur,” ujarnya syukur.

Tantangan terberat usahanya saat ini terletak pada pengemasan dan branding. Jika menjual ke ritel modern atau ke pejual oleh-oleh khas Lombok, Azizah harus rela melepaskan brandnya.

“Mereka mau menerima kalau brand diganti dengan brand mereka,” terangnya.

Hal itu secara tidak langsung membuat usaha mereka sulit berkembang. Sebab keberhasilan usaha, sebenarnya tidak bisa dilepas dari keberhasilan mempopulerkan brand. Sampai saat ini, pasokan produk abon pun masih terbatas. Baru buat warung-warung dan toko penjual oleh-oleh.

“Sedangkan ke ritel modern, belum. Sebab kami mau saat dijual di sana pakai brand kami,” harapnya.

Karenanya, ia berharap pemerintah bisa membantu. Pendampingan cara pengemasan produk, supaya tidak perlu ganti brand lagi. Dengan demikian para pelanggan akan selalu mengingat produk olahan mereka dan datang kembali membeli jika kepincut pada cita rasa olahannya.

“Orang kan tahunya ini produk toko oleh-oleh, nggak tahu kita yang buat,” cetusnya.

Usaha abon Azizah juga cukup berhasil dijual ke luar daerah. Beberapa kali, produk mereka dipesan dan dikirim menggunakan jasa jual beli online.

“Misalnya ke Sumba, NTT,” terangnya.

Namun sekali lagi persoalan brand dan daya tahan makanan masih jadi kendala. Andai saja daya tahan abonnya bisa lebih lama. Azizah berani untuk produksi lebih banyak lagi.

“Takutnya buat banyak, lakunya lama, nggak habis cepat, malah kedaluwarsa,” risaunya.

Tapi satu yang ia syukuri, setidaknya anggotanya yang notabene istri nelayan tidak lagi perlu ngutang. Meski musim paceklik nelayan ditandai cuaca buruk tiba, mereka tetap cuek pada rentenir atau Bank Rontok. Karena, anggotanya bisa memanfaatkan iuran memenuhi kesejahteraan masing-masing. “Syukurnya tidak ada yang ngutang lagi,” tandasnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Gowes di Jalan Raya Kini Tak Bisa Lagi Serampangan, Ini Aturannya

Belakangan tren bersepeda marak. Agar tertib, maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 Tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan pada 14 Agustus lalu. Kemenhub rutin untuk melakukan sosialisasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks