alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Wapres Ajak Kampus di NTB Tangkal Radikalisme dan Terorisme

AGENDA pertama kunjungan Wapres selama dua hari di NTB dimulai dari Universitas Mataram. Di perguruan tinggi negeri terbesar di NTB tersebut, Wapres menyampaikan kuliah umum tentang “Penangkalan Paham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa”.

Kuliah umum digelar di Auditorium M Yusuf Abubakar. Sebanyak 1.500 mahasiswa hadir dalam kuliah umum tersebut. Kata Wapres, saat ini maraknya isu radikalisme dan intoleransi yang merebak di tengah masyarakat. Tak terkecuali di lingkungan kampus.

“Kampus selain tempat belajar juga sebagai tempat yang tepat membangun karakter anak bangsa,” terang Wapres.

Ia menjelaskan, radikalisme dalam pengertian negatif, yaitu seseorang atau kelompok tertentu yang memanfaatkan kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. “Pemerintah sepakat menyebutnya dengan radikal terorisme,” sambungnya.

Ada beragam jenis radikal terorisme. Radikal terorisme mengenai agama, supermasi etnis, kelompok tertentu, dan lain sebaginya. “Akan tetapi saat ini radikalisme agama menjadi yang paling sering digunakan untuk menjustisifikasi penggunaan kekerasan,” tegas Ma’ruf.

Ulama kharismatik tersebut tegas menyampaikan, radikalisme adalah cara berpikir sedangkan radikalisasi adalah transfer. Cara berpikir untuk mencapai tujuan tertentu.

Karena itu upaya menangkalnya, harus dimulai dari upaya menangkal cara berpikir radikal dan memutus proses transfer cara berpikir radikal tersebut dari satu orang ke orang lain. Atau dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Cara menangkal radikalisme yang bisa diterapkan, dengan memberikan imunisasi kepada masyarakat agar tidak mudah menerima pikiran-pikiran radikal tersebut. “Dengan dalih apapun termasuk dalih agama,” kata dia.

Sebab, proses transfer cara berpikir radikal, selalu dimulai dengan penyampaian pesan dan misi, yang bersifat kekerasan tetapi di kemas sedemikian rupa, sehingga dimengerti dan di terima.

Ditambah lagi, masifnya penyebaran paham tersebut bisa melalui mana saja. “Utamanya yang saat ini adalah media sosial, twitter, Whatsapp, Youtube, Facebook dan lainnya,” kata dia.

Ma’ruf menyebut ciri-ciri orang yang kerap paham radikal. Mulai dari orang yang termarginalkan, mengalami kemiskinan atau dipengaruhi kelompoknya.

Dengan memahami hal itu, ia mengajak semua pihak untuk mawas diri dan memastikan bahwa tidak sedang berada dalam proses transfer tersebut.

“Jika kita melihat dan mengetahui proses tersebut, kita dapat menghindari dan menghentikannya,” jelas Ma’ruf.

Dirinya juga membeberkan lima kelompok yang sudah terpapar paham radikalisme. Kelompok pertama adalah kelompok indifference atau kelompok yang tidak memiliki pikiran atau paham radikal, terorisme, tetapi mungkin terekspos pada narasi-narasi radikal, terorisme.

“Kelompok ini tidak bisa kita identifikasi,” terangnya.

Kedua, ada kelompok laten. Artinya, seseorang yang dalam hati menyetujui adanya tindakan radikal. Tetapi tidak mengekspresikan persetujuannya dalam bentuk apapun.

“Cara menangkalnya memperkuat imunitas dan memperbanyak narasi positif agar tidak mudah menerima pikiran radikal,” tegasnya.

Kelompok ketiga ekspresif. Kelompok yang menyetujui tindakan radikal. Kelompok keempat adalah involvement group atau kelompok yang sudah mulai terlibat turut serta dalam tindakan-tindakan yang memiliki unsur radikal terorisme melalui penegakan hukum dan deradikalisasi. Dan kelompok terakhir adalah action group atau kelompok yang telah terlibat aksi terorisme.

“Penanganan untuk kelompok ini dilakukan melalui penegakan hukum dan deradikalisasi serta bagi korban dilakukan upaya pemulihan, dan penanganan pascakrisis,” tegasnya.

Ia berharap, dengan memahami framework ini, semua pihak bisa memahami, tahapan perubahan seseorang, yang tadinya tidak memiliki pikiran radikal.

“Perlahan dicuci otaknya melalui proses radikalisasi, sehingga menjadi pelaku terorisme,” terangnya.

Dengan memahami frame work ini, diharapkan kalangan kampus bisa membantu pemerintah, dalam melakukan penangkalan radikalisme dan terorisme.

Wapres juga menyinggung soal intoleransi. Pasalnya, salah satu unsur radikal terorisme adalah intoleransi. Orang yang sudah terpapar paham radikal dan terorisme cenderung memiliki sikap yang intoleran.

“Cendrung tidak bisa menerima perbedaan. Terutama perbedaan agama dan keyakinan,” kata dia.

Pemerintah telah melalukan berbagai upaya dalam menanggulangi hal ini. Seperti, moderasi beragama untuk mencegah timbulnya sikap intoleran dan memperbanyak wawasan kebangsaan.

“Upaya-upaya ini melibatkan kementerian, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan serta dilakukan dari hulu hingga ke hilir,” tegasnya.

Selain itu, lingkungan pendidikan harus turut serta dalam upaya penanganannya. Menurut Ma’ruf, peran kampus sangat penting. Karenanya, ia menginginkan, Unram bisa menyampaikan lebih banyak hal positif kepada mahasiswa.

“Tentang cinta kepada sesama, nasionalisme, patriotisme dan bela negara,” harapnya.

Wapres juga membahas isu Khilafah yang sempat memanas di tanah air. Dirinya meminta, agar masyarakat tidak lagi meributkan tentang itu. Ditegaskannya, khilafah bukan ditolak di Indonesia, melainkan tertolak.

“Karena kita sudah punya kesepakatan mitzah alwatoni yaitu sebagai NKRI. Umat Islam tidak boleh melanggar kesepakatan itu,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah yang menyampaikan sambutan sebelum Wapres menyampaikan Kuliah Umum mengatakan, mengubah cara pandang atau cara berpikir merupakan fungsi pendidikan. Menjadikannya pengalaman, dan teman berinteraksi.

“Pemerintah Provinsi NTB dalam salah satu program unggulannya memberikan beasiswa kepada 1.000 putra putri terbaik daerah untuk menuntut ilmu di luar negeri,” tegasnya.

Politisi PKS ini berujar, pemberian beasiswa tersebut, bukan karena NTB kelebihan uang atau kualitas pendidikan dalam negeri yang tidak lebih baik. Namun, salah satu upaya Pemprov untuk menangkal radikalisme dan intoleransi.

“Saat di luar negeri anak-anak tidak lagi menyebut suku mereka tetapi sebagai bangsa Indonesia. Rasa Nasionalisme jadi lebih besar,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Unram H Lalu Husni mengatakan, upaya menangkal paham radikal sudah dilakukan sejak awal dilantik menjadi pimpinan kampus. Seperti mengambil alih aktivitas masjid Baabul Hikmah di bawah kendali rektorat.

“Dalam artian, menata siapa penceramah dan beribadah bersama dengan unsur pimpinan,” tegasnya.

Begitu juga pada saat penerimaan mahasiswa baru. Unram selalu menggelar ikrar kebangsaan, pada kegiaatan masa orientasi. Berisi anti radikalisme, anti terorisme, anti narkoba dan lainnya.

“Bahkan kami juga meminta pernyataan sikap mahasiswa lalu diteken, mengetahui orang tua,” pungkasnya. (yun/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Izin Tinggal Habis, WNA di NTB Siap-siap Kena Denda

Masa perpanjangan izin tinggal keadaan terpaksa berakhir Minggu (20/9) besok. Artinya, bagi warga negara asing (WNA) yang belum memperpanjang bakal dikenakan denda. ”Kalau tidak diperpanjang hingga batas waktu yang ditentukan maka dianggap overstay dan bakal dikenakan denda,” kata Kepala Imigrasi Kelas IA TPI Mataram Syahrifullah, kemarin (18/9).

Kasus Ikan Teri JPS Gemilang, Kejati Koordinasi dengan Inspektorat

Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB belum melangkah lebih jauh mengusut pengadaan ikan teri paket JPS Gemilang tahap II. ”Kita koordinasikan dulu dengan Inspektorat,” kata Asintel Kejati NTB Munif di ruangannya, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks