alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Berbincang dengan Michelle Ziudith, Bintang Film Calon Bini

Michelle Ziudith berkunjung ke Kota Mataram. Kali ini untuk mempromosikan film terbarunya: Calon Bini. Dua hari di kota Maju, Religius, dan Berbudaya ini, artis cantik itu mengaku jatuh cinta pada pedasnya sate Rembiga.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Perlimaan di Kota Tua Ampenan tampak ramai. Kendaraan lalu lalang silih berganti, menunggu lampu hijau menyala. Tampak di depan sebuah kafe, di jalan Koperasi. Puluhan orang berpakaian seragam kaos hitam terlihat menunggu tamu penting.

Penjagaan di halaman cafe cukup ketat. Undangan terbatas. Setelah menunjukkan kartu identitas, Koran ini masuk ke sebuah kafe, dimana tempat jumpa media digelar. Maklum saja, tamu penting itu adalah dua artis remaja ibu kota. Mempromosikan filmnya di Kota Mataram.

Aroma kopi begitu terasa di dalam kafe. Makanan dan minuman sudah disediakan. Baik untuk tamu undangan dan sang artis. Sambil menunggu kedatangan tamu penting, sang pemandu acara lebih dulu berinteraksi dengan para awak media.

Yang hadir saat itu, bukan hanya dari media cetak. Namun media elektronik, radio, sampai youtuber, selebgram, influencer hingga para penggemar, yang siap menyaksikan keseruan dua artis tersebut.

“Sabar ya, barusan saya dapat informasi kalau artisnya sudah dalam perjalanan ke sini,” kata pemandu acara.

Rasa lelah menunggu dan bosan itu sirna, saat kedua artis itu Michelle Ziudith dan Rizky Nazar memasuki cafe. Suasana yang awalnya diam, berubah menjadi riuh karena sikap friendly, menyapa semua yang hadir.

“Sudah lama menunggu?” kata Michelle Ziudith.

Kemudian disambut riuh dari para undangan yang hadir. Dirinya mengatakan, melakukan promosi di Kota Mataram memang sangat menyenangkan. Rasanya dua hari tidak cukup menikmati keramahan masyarakat, makanan, apalagi keindahan alamnya.

Menurut Michelle, memang benar apa kata orang diluaran sana, keindahan alam Lombok benar-benar terbukti. Ia belum bisa bebas menikmatinya, karena jatah waktu promosi film ‘Calon Bini’ hanya dua hari saja.

“Rasanya gak cukup promosi dua hari, maunya di sini tuh empat sampai tujuh hari,” tegasnya.

Ia pun mengakui, benar apa kata orang-orang yang pernah berlibur ke Lombok. Bahwa kalimat yang selalu ia dengar, ‘jangan ke Lombok, nanti gak mau pulang,’ membuat dirinya ingin berlama-lama.

“Tampaknya memang tagline yang sangat benar untuk menggambarkan tentang Lombok, luar biasa,” kata Michelle, yang disambut dengan riuh dari tamu undangan yang hadir.

Bagi Michelle, ini kali pertamanya ia menginjakkan kaki di Lombok, sementara bagi Rizky, ini yang kedua kalinya sejak 2017 silam dalam rangka project film juga. Pada jumpa media yang digelar, baik Michelle keduanya banyak bercerita bagaimana kesan berperan dalam film ‘Calon Bini’, yang mengangkat genre drama komedi.

Bagi Michelle dan Rizky, genre drama komedi adalah yang hal baru. Karena jauh sebelum itu, keduanya telah banyak membintangi film dengan genre drama romantis. Menurut Michelle sendiri, memainkan film bergenre drama komedi, tidak semudah drama pada umumnya. Karena ia dan Rizky tidak dituntut untuk melucu, tetapi bagaimana caranya menciptakan situasi komedi.

“Jadi emang itu jauh lebih sulit, kalau situasi komedianya gak dapet, kita harus ciptakan itu berulang kali dan take juga dilakukan berulang kali,” terangnya.

Michelle dan Rizky juga menjelaskan bagaimana makna dan lama proses penggarapan filmnya. Michelle seseorang keturunan melayu belanda, karena berperan sebagai ‘Ningsih’, dalam ceritanya gadis jawa tulen, belajar bahasa sekian lama jawa sampai harus blusukan ke pasar-pasar tradisional di Jogjakarta.

Begitu juga dengan Rizky, melakoni peran sebagai Satria. Harus berjuang dan belajar dengan para senior, demi menghidupkan genre komedi dalam film itu. Keduanya juga tidak lupa membaca saran, komentar dan kritik dari para penonton bahkan review film.

“Bagi kami, itu salah satu cara untuk terus belajar, mana yang harus diperbaiki agar kualitas akting dan film semakin bagus,” jelas Rizky.

Dalam promosi film kali ini, baik Michelle dan Rizky sangat terkejut dengan antusiasme para penggemar mereka di Kota Mataram. Promosi memang dilakukan selama dua hari, pada 19 promosi dengan cara jumpa penggemar dan nonton bareng di CGV Transmart Mataram, sementara 20 Februari, promosi jumpa media.

“Kita nggak nyangka, seramai dan seriuh itu, ada lima studio yang full seat, ngumpul semua disitu, luar biasa kita nggak nyangka,” tegas Rizky yang disambut dengan tepuk tangan.

“Kemudian animonya orang-orang Lombok untuk mendukung perfilman Indonesia, memang luar biasa,” tambah Michelle.

Dengan pencapaian seperti itu, tentu saja keduanya berharap film ‘Calon Bini’, ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kota Mataram, untuk ditonton bersama orang-orang terkasih.

Pada kesempatan itu, awak media juga sempat menyinggung soal kesan Lombok pascagempa. Baik Michelle dan Rizky tahu jika Lombok saat ini dalam tahap recovery. Bagi Michelle, sebuah keberuntungan bisa melihat langsung keindahan Lombok.

Ia bercerita, usai jumpa penggemar pada hari itu ia mencoba menikmati keindahan alam Lombok dengan menyantap masakan khas Lombok yaitu Sate Rembiga. Menyantapnya pun dipinggir pantai. Ia mengaku baru pertama kali mencobanya.

Woah… itu enak banget sumpah,” seru Michelle.

Meskipun Ia dan Rizky sempat telat meminta untuk dihidangkan Sate Rembiga. Kesan pertama soal masakan khas Lombok yang satu ini adalah pedas. Bahkan Michelle sempat tidak tahan karena rasa pedasnya sangat menohok lidah.

“Aduh pedas banget. Tapi pedasanya itu langsung hilang, ada merica atau ladanya gitu, tapi itu enak banget,” tegas Michelle.

Saking pedasnya, Rizky sempat mengatakan ‘lebay’ pada Michelle. Namun keduanya tidak bisa memungkiri, bumbu rahasia yang begitu meresap ke Sate Rembiga, membuat terutama Michelle langsung jatuh cinta. Kemudian aroma khas dari satenya membuat ingin terus melahap.

“Itu enak banget pokoknya, jadi pengen bawa pulang tapi masih promo lagi kan,” katanya sambil tertawa.

Ia memang sempat berpikir untuk membawa Sate Rembiga untuk dibawa kembali ke Jakarta, namun setelah melihat langsung dimana pusat kuliner satu ini dijual, dengan kondisi mengantre, Michelle kemudian mengurungkan niatnya.

“Oh oke! Kita bersyukur kok udah bisa nyoba,” pungkasnya. (*/r5)

Berita sebelumyaKabar Jadup Semakin Meredup
Berita berikutnyaJangan Menantang Maut!
- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks