alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Cerita Warga Kota Melawan Rasa Trauma Gempa

Gempa bumi menyambung ceritanya. Lama menghilang, Minggu lalu bencana itu kembali datang. Trauma warga Kota Mataram pun muncul lagi. Tapi tidak lama. Karena kini, mereka seakan sudah terbiasa.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Suara musik khas yang diputar di pusat perbelanjaan Transmart Mataram, begitu terasa menyapa telinga. Ada yang ikut menggumamkan liriknya, pelan. Ada juga yang sibuk memilih dan memilah, barang mana yang akan dibeli. Semuanya larut dalam aktivitas masing-masing.

Mereka seperti lupa. Atau memang tidak mau memikirkannya lagi. Soal gempa yang kembali mengguncang pada Minggu (17/3).

Kekuatan gempa itu sejatinya cukup terasa. Mampu membuat warga lari tunggang langgang. Pokoknya harus keluar dari gedung.

Siang itu, Koran ini sedang asyik memantau aktivitas warga kota saat sedang berbelanja. Maklum saja, berkaca dari kejadian tahun lalu, memasuki pusat perbelanjaan seperti sebuah uji nyali. Takut kalau terjadi gempa susulan.

Gusti Ayu, seorang wanita paro baya yang sedang asyik menikmati aktivitas belanjanya di Transmart Mataram, pun membenarkan. “Memasuki gedung bertingkat atau semacamnya, memang harus menanamkan keberanian pada diri sendiri,” terangnya.

Ia tidak akan lupa. Seumur hidup akan terus mengingat, bagaimana kejadian sejak akhir Juli sampai guncangan kuat pada malam 5 Agustus 2018, membekas dalam benaknya. Namun, berkaca dari kejadian itu, sekarang dirinya seperti sudah terbiasa.

Wanita 49 tahun mengakui, rasa trauma masing-masing pribadi pasti berbeda. Namun baginya, rasa trauma harus segera diatasi. Agar tetap beraktivitas kembali.

“Seperti saya sekarang, belanja kebutuhan keluarga ke Transmart Mataram, biar saya semakin terbiasa saja,” kata Ayu.

Ia percaya, bangunan Transmart Mataram sudah teruji katahanannya. Bahkan ada hal menarik yang telah ia pelajari dari kejadian gempa ini. Sebelum ia memasuki gedung, ia selalu memperhatikan mana jalur yang lebih cepat untuk mengeluarkan diri dari dalam gedung. Itu sebagai langkah antisipasi Ayu jika terjadi gempa susulan.

“Sambil jalan, sambil merhatiin lewat jalan mana, kalau ada jalur evakuasi, saya bisa tenang,” kata dia.

Sebagai orang beragama, ia hanya memasrahkan diri pada Tuhan. Hidup dan tinggal ditanah yang selalu berguncang. Seperti Lombok. Ayu juga selalu berdoa sebelum keluar rumah.

Dirinya juga menyebut, harus ada manajemen waktu. Mengatur berapa lama dirinya berada di luar rumah. Bahkan untuk membeli kebutuhan apa saja, juga harus diatur.

“Itu sebagai tindakan mawas diri aja. Kalau di bilang trauma sih udah gak ada ya, mungkin karena sudah terbiasa. Jadi kita jalanin aja semuanya, pasrah sama Tuhan,” tutupnya.

Setelah bertemu dengan warga kota di Transmart Mataram, Koran ini pun bergeser ke pusat perbelanjaan terbesar di NTB. Yaitu Lombok Epicentrum Mall. Di sini, bertemu dengan warga pendatang dari Jawa Tengah, yang telah tujuh bulan bekerja di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Namanya Zein Malik.

Saat bertemu dengan Koran ini, sama seperti Ayu. Ia sedang disibukkan dengan memilih beberapa pakaian di salah satu tenant. Sempat berbincang mengenai gempa beberapa hari lalu. Zein bercerita, pada saat kejadian ia juga tengah berada di pusat perbelanjaan.

“Ya sempat lari sih karena kerasa,” tuturnya.

Meski begitu, ia mengakui sama sekali tidak trauma. Bahkan untuk tidak mengunjungi pusat perbelanjaan, adalah hal yang mustahil bagi Zein. Gempa memang sudah sering menyapa Lombok, jadi jika ada guncangan, ia sudah terbiasa.

“Pas 5 Agustus itu, saya udah kerja di sini dan saya merasakan gempa susulannya. Bahkan sampai sekarang,” kisahnya.

Bekerja di daerah dengan kuatnya intesitas gempa, tidak membuat Zein ingin kembali ke Jawa. Sama seperti Ayu, apapun bencana alam yang terjadi, semuanya ia pasrahkan pada Tuhan. Makanya ia tidak segan-segan untuk kembali mengunjungi pusat perbelanjaan.

“Bagi saya, mal itu tempat bersenang-senang. Jadi pas masuk ke sini, malahan saya gak mikir gempa lagi. Jangan di pikirin lah. Namun tetap waspada,” pungkasnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hari Pertama Razia Masker di NTB, Pemda Kumpulkan Denda Rp 9,1 Juta

Sebanyak 170 orang tidak menggunakan masker terjaring razia di hari pertama penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan di seluruh NTB, kemarin (14/9). Dari para pelanggar di semua titik operasi ini, Badan Pendapatan Daerah NTB pun mengumpulkan uang sebesar Rp 9,1 juta.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks