alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Cuaca Buruk, Nelayan Ampenan Takut Melaut

MATARAM-Nelayan di kawasan Ampenan sudah satu pekan tidak berani melaut. Penyebabnya, gelombang tinggi. “Jarang ada nelayan yang melaut minggu-minggu ini,” kata Sumarli, nelayan di kawasan Ampenan, kemarin (20/2).

Ia bersama nelayan lainnya hanya bisa pasrah. “Saya nunggu anak saya. Kemarin dia nekat melaut dan sampai sekarang belum pulang,” kata Sumarli khawatir.

Sebagai orang tua, ia mengkhawatirkan anaknya yang belum pulang hingga pukul 14.00 Wita. Ditambah lagi ombak cukup besar. “Di tengah laut, selain gelombang, hujan disertai petir dan kilat sangat menakutkan. Yang punya nyali saja berani melaut,” ujar Marli.

Biasanya, lanjut dia, nelayan yang sudah tua tidak berani mengambil risiko. Mereka lebih memilih untuk tidak melaut di saat musim angin dan gelombang besar. “Tapi, tergantung nyali,” singkatnya.

Nelayan lainnya, M Syafii juga memilih tidak melaut di saat ombak besar. Ia tidak berani mengambil risiko. “Endak berani saya melaut kalau ombaknya seperti ini,” kata Syafii sembari melihat gelombang di laut.

Ia berharap ada bantuan bagi nelayan. Karena sejauh ini ia cukup kesulitan menopang kebutuhan sehari-hari karena tidak pernah melaut. “Kita tak melaut, uang tidak ada,” ujarnya.

Ia meminta pemkot melihat kondisi para nelayan di kawasan Ampenan. Karena saat ini mereka membutuhakn uluran tangan. “Paling tidak kita dikunjungi,” ungkap pria asal Lingkungan Bintaro Jaya ini.

Kepala BPBD Kota Mataram Mahfuddin Noor mengatakan, sesuai dengan perkiraan BMKG, tiga hari berturut-turut curah hujan sedang dan lebat. Disertai petir dan kilat.

“Ini akan terjadi sampai besok (Hari Ini, Red),” ucapnya.

Meski begitu, kata dia, tidak ada laporan genangan atau pun pohon tumbang dari satgas BPBD. Bahkan, satgas dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) tetap siaga jika terjadi bencana.

Sampai hari ini, ujar dia, debit air normal meski kerap terjadi hujan. Tidak ada gangguan. Untuk genangan sendiri biasanya terjadi di beberapa jalan dan kelurahan. Seperti Kelurahan Sekarbela, Jalan  Udayana, Jalan Brawijaya, Kelurahan Kekalik, dan Kecamatan Ampenan di Jalan Yos Sudarso. “Kalau hujan lebat baru ada genangan,” ucapnya.

Untuk gelombang laut, diakuinya sedang tingi-tingginya. “Anginnya juga kencang di tengah laut,” tuturnya. (jay/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.
Enable Notifications    Ok No thanks