alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Andre, Bocah Penderita Lumpuh Syaraf Otak di Lingsar Lobar Butuh Bantuan Anda Para Dermawan

Sejak menderita lumpuh syaraf otak, Andre Putra Mahendra  bergantung sepenuhnya pada orang tua. Hari-harinya pun berubah. Tak lagi ceria seperti anak-anak seusianya. Susan dan suaminya terus berikhtiar, meski di tengah keterbatasan mereka.

———————-

 

Bocah tiga tahun ini didiagnosa mengidap Andre menderita cerebral palsy atau lumpuh otak. Juga epilepsi. Sudah hampir satu tahun penyakit ini dideritanya.

Tangis Andre membuat Susana Andri Puspita tergopoh. Meninggalkan pekerjaan rumahnya. Langkah kaki Susan langsung mengarah ke kamar anak bungsunya itu. Dia menggendong Andre dan membawanya ke luar rumah.

”Kalau capek (tidur) kadang nangis begini. Harus digendong terus diajak keluar,” kata Susan.

Tak ada lain yang bisa dilakukan Andre. Hari-harinya dihabiskan untuk berbaring di kasur. Penyakit lumpuh syaraf otak, membuat Andre yang baru berusia tiga tahun dua bulan ini tak bisa banyak beraktivitas. Apalagi bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Akibat lumpuh syaraf otak, kemampuan motorik Andre tidak seperti anak seusianya. Begitu juga dengan indera di tubuhnya. Mata Andre untuk melihat sudah jauh berkurang. Sulit untuk bisa fokus. Pendengarannya juga begitu. Hanya satu yang berfungsi. Itu juga tidak begitu maksimal.

Andre juga sudah susah untuk makan. Asupan gizinya diperoleh dari susu formula yang diberikan Susan setiap hari. ”Berat Andre maksimal 11 kilogram. Tidak pernah lebih dari itu,” tuturnya.

Susan mengatakan, di dua tahun pertama, Andre seperti bayi-bayi pada umumnya. Tawanya mewarnai hari-hari Susan dan suaminya.

Namun, semua berubah ketika Andre menginjak usia dua tahun empat bulan. Ia tiba-tiba kejang dan tak sadarkan diri. Saat itu, Susan dan suaminya langsung membawa Andre ke rumah sakit. Di RS, Andre sempat koma hingga tingga minggu.

”Total dirawatnya itu dua bulan,” kata Susan.

Susan dan suaminya berupaya keras. Berikhtiar dan berdoa agar Andre bisa sembuh. Mereka yakin, tetap ada jalan untuk kesembuhan anak pertamanya. Meski Susan sadar upaya kesembuhan Andre membutuhkan biaya yang cukup besar. Apalagi untuk dirinya yang hanya ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai karyawan swasta.

Karena itu, melalui laman kitabisa, Susan berharap ada orang-orang dermawan yang membantu kesembuhan Andre. Di halaman penggalangan dananya, Susan menulis membutuhkan biaya hingga Rp20 juta.

Rinciannya, masing-masing Rp5 juta untuk pembelian vitamin khusus otak dan obat khusus syaraf. Serta Rp10 juta untuk biaya operasi. Sayangnya, setelah diunggah pada 6 Mei lalu, hingga kemarin sumbangan yang terkumpul baru Rp180 ribu.

Kata Susan, Andre sebelumnya direncanakan berangkat ke Semarang. Dioperasi di salah satu RS di sana. Hanya saja, covid membuat rencana tersebut berantakan. ”Gak dapat izin ke sana. Mungkin nanti dirawat lagi di sini,” ujarnya.

Dengan keterbatasan yang mereka miliki, Susan bersyukur bisa bertemu kawan-kawan dari Aliansi Peduli sesama. Penggalangan dana yang dimotori mereka cukup membantu biaya perawatan Andre di rumah.

Pola penggalangan dana dari aliansi peduli sesama tidak melulu dengan turun ke jalan. Tapi juga dengan cara digital. Memanfaatkan kreativitas. Seperti yang dilakukan Amaq Ohan. Salah satu seniman di aliansi peduli sesama, yang memiliki akun Youtube Bajang Tony dan Amaq Ohan.

”Secara tidak langsung, yang subscribe channel itu, ikut menyumbang,” katanya.

Amaq Ohan mengatakan, semua hasil dari channel mereka untuk kegiatan sosial. Termasuk kepada Adik Andre. ”

Selama eksis, Aliansi Peduli Sesama sudah banyak membantu warga yang membutuhkan uluran tangan. Wakil koordinator dari aliansi ini, Salim Budi Utomo mengatakan, bantuan yang diberikan tidak terbatas untuk anak-anak. Tapi, juga orang dewasa maupun lansia.

”Gerakan kita ini, diharapkan bisa membuat pemerintah bergerak. Lebih peduli kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan seperti Adik Andre ini,” kata Budi.

 

Butuh Banyak Bantuan 

Aliansi Peduli Sesama ini berisi banyak warga dari  berbagai latar dan komunitas. Mulai dari anak-anak motor, seniman, musisi, hingga fanbase grup band. Sejak 2017 mereka bergerak di kegiatan sosial. Membantu masyarakat yang butuh pertolongan.

”Tapi waktu itu gerak sendiri-sendiri. Akhirnya, supaya lebih kompak dan gerakannya masif, kita gabung di aliansi peduli sesama ini,” ujarnya.

Untuk Andre, penggalangan dana sudah dimulai satu pekan terakhir. Menyebar di seluruh Pulau Lombok. Komunitas yang berada di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Kota Mataram bergerak. Mengetuk empati masyarakat untuk membantu Andre.

Akhir pekan kemarin, Budi bersama belasan anggota aliansi menggalang dana di sejumlah titik di Kota Mataram. Di simpang empat Jalan Sriwijaya, Kantor Bank Indonesia, Jalan Catur Warga, dan Rembiga.

Masa pandemi membuat mereka cukup berhati-hati. Jangan sampai niat baik untuk membantu, malah menjadi bumerang bagi mereka. Karena itu, kata Budi, seluruh kawan-kawan yang turun harus tetap mematuhi protokol pencegahan covid.

”Tetap pakai masker,” tuturnya.

Selama satu minggu terakhir, Budi menyebut donasi yang sudah terkumpul mencapai Rp 9 juta. Sebagian sumbangan masyarakat telah diserahkan kepada orang tua Andre. ”Sisanya kita berikan dalam waktu dekat ini,” ujar Budi.

Andi Mulyadi, yang juga tergabung dalam aliansi peduli sesama mengatakan, penggalangan dana untuk Andre sudah dimulai dari laman pengumpul dana kitabisa. ”Kita juga dapat info dari sana. Kemudian ada pihak keluarga yang menghubungi. Jadi ini inisiatif dari aliansi untuk turun ke jalan,” kata Andi.

Andi mengaku sedikit was-was menggalang dana di masa pandemi. Takut terpapar virus Korona. Tapi, rasa empati dan ingin membantu mengalahkan ketakutan mereka. Kekhawatiran itu juga bisa diminimalisasi dengan mematuhi protokol covid.

”Biasanya kita pakai musik gitu sebelum covid. Kalau sekarang gak berani,” ujarnya.

Biaya pengobatan untuk Andre cukup besar. Apalagi bagi orang tua Andre yang hanya ibu rumah tangga serta suaminya yang bekerja sebagai karyawan swasta. Susani Andri Puspita, ibu dari Andre mengatakan, anaknya sekarang menjalani rawat jalan di rumahnya. Setiap hari harus diberikan vitamin dan susu.

Biaya vitamin, yang untuk dua kali minum, menghabiskan Rp450 ribu. Sementara susu menyedot biaya juga Rp450 ribu setiap lima hari. ”Itu harus diminum terus sampai Andre sembuh,” kata Susan.(Wahidi Akbar S/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dorong Kampung Sehat, Polda NTB Gelar Panen Raya di Kembang Kuning

Polda NTB menggelar panen raya di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, kemarin (9/7). Panen raya ini bagian dari program Kampung Sehat yang dinisiasi Polda NTB yang salah satu tujuannya mewujudkan ketahanan pangan NTB di tengah pandemi Covid-19.

Polres KSB Launching Transportasi Sehat

Polres Sumbawa Barat punya terobosan lain dalam mensukseskan Lomba Kampung Sehat

Kampus Belum Boleh Buka, Mahasiswa Belajar dari Rumah

Kemenag tidak tergesa-gesa mengizinkan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) membuka kuliah tatap muka. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Arskal Salim mengatakan kuliah tatap muka baru diizinkan saat semester genap tahun akademik 2020-2021 nanti.

Pecah Rekor, Sehari Penularan Korona Capai 2.567 Kasus

KASUS positif infeksi Covid-19 lagi-lagi mencetak rekor terbaru dengan pernambahan 2.567 orang pada periode 8 hingga 9 Juli 2020. Jumlah ini lebih dari 2 kali lipat rata-rata pertumbuhan kasus seribu orang per hari dalam dua minggu terakhir.

Akurasi Alat Rapid Test Buatan NTB Mampu Saingi Produk Impor

Indonesia akhirnya resmi melaunching alat rapid test inovasi dalam negeri. Diberi nama RI-GHA Covid-19, alat ini diklaim memiliki akurasi nyaris sempurna.

Menyoal Pengetahuan dalam Penanganan Covid-19 Menghadapi New Normal

KASUS covid-19 sudah lebih dari empat bulan berjalan sejak kasus pertama, tanda-tanda penurunan belum juga terlihat. Prediksi para ahli terancam gagal, usaha-usaha pemerintah melalui program stimulus ekonomi dan bantuan sosial lainnya belum mampu mengatasi dampak ekonomi dan sosial covid-19.

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks