alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Budidayanya Murah, Untungnya Melimpah

MULIYADI, menanam dua jenis tembakau. Tembakau oven dan tembakau rajang. Petani asal Manggu, Desa Ganti, Lombok Tengah ini, punya lahan sekitar 83 are. Sebanyak 80 are digunakan menanam tembakau oven dan 3 are untuk tembakau rajang.

Pria yang akrab di sapa Uneq ini mengakui, sebenarnya keuntungan menanam tembakau rajang lebih banyak. Baik dari sisi tenaga, biaya penanaman, hingga harga jual.

Tetapi petani, tentu saja tidak hanya Uneq, tetap saja lebih memperioritaskan sebagian besar luas lahan untuk menanam tembakau oven. Maksudnya tembakau virginia. Alasannya sederhana, petani lebih cepat bisa memegang uang dalam jumlah banyak bila dibanding menanam tembakau rajang.

Padahal dari sisi perawatan, obat-obatan, hingga panen, butuh biaya lebih besar dibanding tembakau rajang. “Di luas 80 are, sekali panen saya bisa dapat 10 ton,” akunya.

Selama empat tahun sebelumnya, Uneq selalu memilih untuk menjual basah tembakaunya. Ia bisa mendapat Rp Rp 22 juta hingga finish panen, dengan rata-rata Rp 200 ribu per kwintal. Pendapatan itu bisa lebih tinggi lagi, bila harga tembakau lagi bagus. Kadang mencapai Rp 250 ribu per kwintal hingga Rp 300 ribu per kwintal.

Tembakau, paling lama bertahan di rumahnya selama tiga minggu. Setelah itu, pihak gudang akan datang mengambil. “Saya ikut di petani Bentoel,” terangnya menyebut nama perusahaan mitranya.

Tapi, sebelum Uneq mendapat Rp 22 juta dari hasil penjualan tembakau oven yang basah tersebut, ia harus mengeluarkan biaya produksi. Mulai dari membeli bibit sekitar Rp 1 juta, obat-obatan sekitar Rp 2 juta, sampai panen.

“Ada pupuk Urea, KNO, Fertila, Sp36, terus untuk semprot pakai Metindo, Antracol, Digrow,” rincinya.

Tapi musim tanam tembakau kemarin, Uneq dan istrinya tiba-tiba berpikir ingin mengoven tembakau. Ia tergiur, dengan penjualan tembakau kering atau pascaoven Rp 4,7-5 juta per kwintal.

Maka ia dan istrinya pun ‘ngojek’ di oven tembakau milik petani lain dengan biaya Rp 1 juta per ton.

“Kalau punya oven sendiri sebenarnya lebih untung,” terangnya.

Namun, Uneq belum cukup modal dan lahan untuk membangun oven tembakau. Gambarannya untuk pemilik oven, hanya butuh mengeluarkan Rp 1,6 juta untuk beli kayu satu truk. Dengan kayu satu truk bisa oven tiga kali. Satu kali oven bisa naik tembakau 12 ton.

“Jauh lebih untung punya oven daripada ngojek,” bandingnya.

Namun, apa mau dikata. Di luar dugaan, harga tembakau anjlok. Rata-rata harga tembakau basa yang biasanya Rp 200 ribu per kwintal, jatuh menjadi Rp 150 per kwintal. Begitu juga dengan tembakau kering. Jatuh menjadi Rp 2,8-3 juta per kwintal.

Tapi untungnya Uneq mengaku bisa tetap menjual Rp 4,7 juta per kwintal. Hal ini karena gudang Bentoel rupanya tengah menerima stok banyak.

“Karena itu saya termasuk yang sebenarnya tidak percaya harga jatuh karena ada tembakau luar atau dampak dari rencana kenaikan cukai rokok,” celetuknya.

Ia merasa turunnya harga tembakau sekarang karena beberapa gudang sedang membatasi stok. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya cukup banyak menerima stok tembakau dari petani.

“Buktinya saya di Bentoel bisa tetap menjual dengan harga yang tak terlalu jatuh,” ujarnya.

Itulah gambaran biaya tanam, produksi, hingga panen tembakau oven. Lalu bagaimana dengan tembakau rajang?

Di luas lahan 3 are miliknya, Uneq menanam tembakau rajang. Jenisnya yang ia tanam biasanya ada dua macam. Tembakau rajang kasturi dan tembakau rajang Scott.

“Sebenarnya ada jenis lain seperti Pender Jae, Bandung, tapi dua itu saja yang saya taman,” terangnya.

Di luas 3 are itu, Uneq bisa mendapat hasil panen tembakau rajang sampai 6 bal. Satu bal berisi 20 tumpi. Bila dijual rata-rata harga satu tumpi Rp 50 ribu. Berarti dalam satu bal ia bisa mendapat Rp 1 juta. Maka di lahan tiga are itu ia bisa mendapat Rp 6 juta.

Bandingkan dengan tembakau oven di luas 80 are, ia mendapat Rp 22 juta. Andai Uneq menanami 80 arenya dengan tembakau rajang dengan asumsi pertiga are mendapat Rp 6 juta seperti di atas, maka ia bisa mendapat paling sedikit Rp 156 juta di lahannya yang 80 are tersebut.

“Pupuk yang dipakai juga cuma dua macam, ada Urea dan KNO,” terangnya.

Untuk tiga are lahannya tembakau rajang itu, Uneq hanya menghabiskan sekitar 1 kilogram pupuk Urea dan KNO. Jadi total 2 kilogram. Satu kilogram pupuk ia menghabiskan biaya sekitar Rp 25 ribu.

“Jadi biayanya ya paling Rp 50 ribu,” ulasnya.

Proses produksi tembakau rajang pun relatif sangat murah. Satu tumpi tembakau biaya produksinya Rp 7 ribu. Hanya saja, tidak sembarang orang yang bisa merajang tembakau. Uneq mengatakan di kampungnya, hanya terisa dua orang yang bisa merajang.

“Sebenarnya ada alat merajang tapi hasilnya tidak bagus. Terlalu besar. Sehingga pembeli tidak menyukainya,” ulasnya.

Karena alasan itu pula, beberapa petani lebih memilih menggunakam jasa rajang dari orang-orang yang punya kemampuan dan ketelatenan merajang tembakau. Sekalipun jumlah mereka terbatas, namun para petani rela mengantre dengan sabar.

“Pernah kita coba sendiri tapi hasilnya juga tidak bagus,” terangnya.

Pisau yang digunakan pun bukan sembarang pisau. Hal inilah yang membuat proses perajangan relatif lebih lama. Bisanya untuk luas lahan 3 are miliknya di sekali panen, butuh waktu dua hari dua malam untuk menyelesaikannya.

“Ada namanya Amaq Muzhar sama Amaq Tim yang sering kami minta di sini,” ulasnya.

Namun, dengan segala keuntunan dan kelebihan menanam tembakau rajang itu, Uneq sama sekali belum mau berpikir untuk mengubah komposisi tanaman tembakaunya. Misalnya menaikan jadi 30 persen untuk tembakau rajang dan 70 persen di luas lahannya untuk tembakau oven.

“Alasannya ya karena proses menualnya lama, tidak seperti tembakau oven yang langsung diambil gudang,” terangnya.

Memang ada beberapa tengkulak yang berkeliling mencari tembakau rajang untuk dibawa ke pulau Jawa. Selain itu ada pula pemilik industri tembakau sachetan asal Lombok Timur yang datang membeli. Tapi permintaan belum terlalu besar. Sehingga Uneq merasa belum saatnya ia memperbesar porsi menanam tembakau rajang.

“Memang lebih murah tapi proses rajangnya lebih rumit dan lama, jualnya juga lebih lama,” cetusnya.

Kalaupun misalnya pemerintah menyiapkan mitra gudang yang siap menerima tembakau rajang. Hingga menyiapkan alat yang mampu merajang halus seperti tangan, Uneq tetap tak yakin untuk siap menanam tembakau rajang lebih banyak.

“Kembali lagi ke soal selera, ada orang yang suka Kesturi, Scott, Bandung, jangan-jangan yang ditanam nanti, tidak disukai di pasar,” cetusnya.

Tapi alasan ini hanya untuk Uneq saja. Sebab di desa lain seperti Semoyang, Lombok Tengah, ia mengaku mendengar ada petani yang bahkan benar-benar telah beralih ke tembakau rajang semua.

“Jadi sama sekali tidak tanam tembakau oven, ya nanti lihat-lihat pasarlah,” tandasnya.

Sementara itu, beberapa toko kecil di NTB bahkan sudah mulai menjual tembakau rajang dengan kemasan sachet. Satu sachet rata-rata dijual Rp 5 ribu. Toko Aqila di Labuapi misalnya mengaku selalu kehabisan stok tembakau rajang.

“Belum saja tiga hari, biasanya langsung habis,” kata Iwan pemilik toko.

Ia memang belum berani menyetok banyak sachet. Biasanya sebanyak 20 bungkus. Tapi beberapa minggu terakhir, sejak rokok sachetan itu beredar dan dicari banyak orang, ia melihat rokok itu cukup laku keras.

“Mungkin karena dengar rokok mau naik juga, makanya orang ramai-ramai beralih ke rokok tembakau,” duganya sembari tersenyum.

Pantauan Lombok Post di sejumlah kios lain pun menunjukkan hal serupa. Misalnya saja di Toko Riky Perdana di Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung. “Pasarannya lumayan laku. Seminggu bisa 80 bungkus yang terjual. Satu kemasan harga Rp 5 ribu,” jelas Badarudin, pemilik toko.

Setiap hari, peminat rokok tembakau rajang ini tidak pernah sepi. Sebagian besar memang peminatnya dari kalangan petani atau buruh tani yang bekerja di sawah. Sekali beli, biasanya mereka mengambil dua sampai tiga bungkus.

Per bungkus kemasan harga Rp 5 ribu, bisa dilinting menjadi 25-30 batang rokok. Jauh lebih banyak dibandingkan dengan satu bungkus rokok pabrikan yang harganya rata-rata Rp 15 ribu per 12 batang.

“Rata-rata yang beli memang orang tua. Ada beberapa anak muda yang beli tapi agak jarang,” akunya.

Selain kemasan Rp 5 ribu, ada juga kemasan yang jauh lebih hemat yakni kemasan Rp 1.000. Untuk kemasan ini, tembakau rajang dijual dalam bungkusan lengkap dengan kertas rokok. Isinya lima sampai enam lembar kertas rokok. Sehingga dengan uang Rp 1.000 saja bisa menghisap lima sampai enam batang rokok.

“Makanya yang harga Rp 1.000 ini kadang lebih laku. Karena murah meriah,” jelas Badarudin.

Badarudin mengaku biasanya mengambil rokok rajang ini di kios besar wilayah Pasar Gerung. Tidak terlalu sulit dicari. Karena pasokannya cukup banyak. Bahkan, ada juga beberapa grosir keliling yang membawa rokok ini ke tokonya.

“Rata-rata produknya ini dari Lombok Timur. Ini dari Masbagik,” ucapnya menunjukkan salah satu produk temabakau rajang.

Masni, pemilik toko lainnya di desa sebelahnya, Desa Taman Ayu juga mengungkapkan demikian. Ia mengaku warga yang mencari rokok yang biasa dikenal dengan ‘pilitan’ ini cukup banyak.

“Meskipun banyak yang kita ambil, seminggu pasti sudah habis,” akunya.

Lantaran, rokok ini dikatakannya memang sangat terjangkau oleh masyarakat. Khususnya yang kemasan harga Rp 1.000. Masni menuturkan, mereka yang biasa datang membeli sangat jarang membeli satu bungkus. “Ya rata-rata tiga sampai lima bungkus,” akunya.

Masni mengaku selalu menyediakan rokok tembakau rajang ini. Karena ia tak ingin membuat pelanggan kecewa. “Selalu ada yang cari soalnya,” cetusnya.

Rokok tembakau rajang ini memang menjadi solusi bagi perokok yang memang dompetnya sedang tipis. Namun demikian, kualitas rasanya bukan asal-asalan. Jayadi, salah satu perokok aktif mengaku cukup suka dengan aroma dan rasa rokok tembakau rajang. “Rasanya mirip dengan rokok kemasan pabrikan. Ya lumayanlah,” ungkapnya.

Ia mengaku lebih memilih rokok ini ketika nongkrong dan kumpul bersama teman. Karena biaya yang dihabiskan jauh lebih hemat jika dibanding menggunakan rokok pabrikan. (zad/ton/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks