alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Di Balik Sanggah Cerucuk yang Membludak Jelang Nyepi

Jelang hari raya nyepi, tak hanya patung-patung Bhuta Kala pamer taring dan wajah menyeramkan. Tapi pintu rumah juga dihiasi Sanggah Cerucuk yang mampu mengalau energi jahat!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

POHON-pohon beringin berbaris di tepi jalan. Berdiri kokoh menghadang cahaya surya yang terik, menyengat. Semilir angin berhembus serupa bisikan pelan. Membakar semangat bertahan tak mudah menyerah. Jangan pula patah tumbang, terkapar tak berdaya!

Di salah satu pojok lapak bunga. Made Langkir berdiri tenang. Tangannya telaten menjumput beberapa kembang setaman. Lalu dimasukan dalam kantong-kantok plastik transparan.

Keyakinan Langkir tak pernah lekang. Hari Raya Nyepi selalu datang dengan berjuta kebaikan. “Naik keuntungan berkali-kali lipat,” ujar Langkir, penuh harap.

Siang boleh saja sangat terik bagi orang lain. Tapi bagi Langkir dan Istrinya Wayan Wugu percaya, itu cahaya energi dan semangat. Dari para dewata agung yang mulai menebar banyak kebaikan jelang hari raya Nyepi.

“Ya ini kan hari raya sekali setahun datangnya. Pasti kita sambut dengan perasaan senang dan bahagia,” imbuhnya.

Belasan Sanggah Cerucuk-ada pula menyebut Cucuk-terjejer rapi di sisi timur lapak. Belum dihiasi Ceniga karena dijual terpisah. Kalau cari yang dihiasi lengkap, harganya tentu disesuaikan. Sekalipun begitu jarang ada pembeli yang mau tawar-tawar.

Tempat persembahan yang bagus dan indah jauh lebih penting. Dari pada sibuk menawar harga yang masih terhitung masuk akal. “Ini untuk menyapu segala keburukan,” terang Langkir.

Tak hanya menyapu keburukan. Sanggah Cerucuk serupa penala kebaikan. Bagi Langkir perlengkapan persembahayangan itu tak hanya membawa untung. Tapi membawa energi kebaikan berkumpul di lapaknya.

“Bahagia jualan perlengkapan seperti ini, rasanya dekat dengan kebaikan Dewata,” imbuhnya.

Sanggah Cerucuk mungkin sudah sangat akrab bagi umat Hindu, Bali. Sanggah ini memang tidak bisa dipisahkan dengan Upacara di Agama Hindu. Sanggah sendiri bermakna penopang. Sedangkan Cerucuk artinya pemucuk atau puncak.

Perlengkapan ini untuk upasaksi. Dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya. “Khususnya pecaruan,” imbuhnya.

Semua umat Hindu pasti memasang benda ini. Di pekarangan rumah atau sebelah pintu masuk rumah. Hadirnya Sanggah Cerucuk ini ada kaitannya dengan tawur agung kesanga. Tawur bermakna membayar hutang. Pada siapa?

Pada, Bhuta Kala. Di dalam Tri Rna termasuk hutang pada dewa Rna. Dari hutang ini perlu dilaksanakan bhuta yadnya. Tujuannya agar energi-energi negatif dari para bhuta kala supaya tidak menganggu umat manusia di dunia. Begitulah penjelasan dari beberapa literatur umur.

“Sanggah itu ada telinga. Adapula tempat taruh arak dan brem. Selain itu dihiasi juga dengan Ceniga, dan hiasan lainnya,” jelasnya.

Jadi jelas sudah. Itu, bukan hiasan semata. Namun simbol penyucian. Dari energi jahat yang mengintai sebuah rumah. Satu Sanggah Cerucuk lengkap dengan Ceniga dijual Langkir dengan harga Rp 100 ribu. Jelang nyepi, permintaan bisa lebih dari 100 buah Sanggah Cerucuk.

“Masyarakat biasanya mulai pasang paling tidak, setelah pawai ogoh-ogoh,” terangnya.

Benda itu jadi sombol penghuninya telah ‘dijaga’ dari segala macam marabahaya. Menghadirkan rasa damai di dalam kelengangan suasana nyepi. Sehingga lebih mudah untuk merenungi perjalanan hidup di dunia selama ini.

Pasar perlengkapan Hindu di Karang Jasi termasuk yang lengkap menyediakan itu semua. Pesanan Sanggah Cerucuk tidak hanya datang dari sekitar Kota Mataram.

“Ada juga dari, Lombok Tengah atau Lombok Utara, banyak yang pesan di dari sini,” kisahnya.

Berjalan-jalan di pasar kelengkapan persembahayangan umat Hindu Karang Jasi, seperti menghadirkan wajah indah kota yang lain. Betapa, heterogennya keyakinan, tak membuat perbedaan justru semakin meruncing. Sebaliknya mengokohkan persaudaraan, sesama umat bergama di ibu kota.

Karang Jasi, sampai saat ini berhasil menghadirkan wajah Bali yang indah dan alami di bumi Mataram. Lengkap dengan karakter masyarakat yang ramah dan murah tersenyum.

“Semoga kita selalu dalam kebaikan dan lindungan Sang Maha Pencipta,” kata Langkir mengakhiri ceritanya seraya tesenyum ramah. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks