alexametrics
Jumat, 25 September 2020
Jumat, 25 September 2020

Biar Susah, asal Ngasap!

MATARAM-Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram seperti menampar prioritas hidup warga kota. Data tesebut menunjukan semua bahan pokok yang menganduk gizi, mengalami deflasi. Tapi, anehnya kebutuhan pada rokok (termasuk vape) dan alkohol malah sebaliknya.

Dalam teori pasar, barang yang mengalami deflasi atau penurunan harga diakibatkan oleh permintaan yang turun. Permintaan yang turun, lantas membuat stok barang meningkat. Sedangkan, barang yang mengalami inflasi disebabkan oleh permintaan yang naik. Sehingga mengakibatkan harga pun ikut naik.

“Inflasi terjadi tidak hanya saat produksi turun, tetapi saat produksi naik pun bisa naik,” terang Isa Ansori, Kepala Badan Pusat Statistik Kota Mataram.

Ia mencontohkan, misalnya dengan buah-buahan atau sumber protein dan kalori dari telur dan daging. Walaupun saat itu tengah terjadi panen besar-besaran, bila pasar terus meminta, maka bukan tidak mungkin inflasi terjadi.

“Saat Maulid, hari raya Idul Fitri, Idul Adha, biasanya para peternak sudah memprediksi agar panen di hari H-nya, tapi tetap saja inflasi,” ujarnya.

Hal ini disebabkan karena tingkat konsumsi dan permintaan meningkat tajam. Sampai pasar kesulitan untuk memenuhinya. Sehingga harus diimbangi dengan harga yang dinaikan untuk menjaga kesetabilan.

Tapi yang terjadi dengan rokok dan alkohol justru mengalami inflasi. Bahkan sampai 0.05 persen. Dan ini benar-benar mengaggetkan. Sebab, permintaan yang meningkat terjadi ketika pertumbuhan ekonomi daerah sedang lesu-lesunya pascagempa bumi.

Sebelum gempa bumi saja, pertumbuhan ekonomi Kota Mataram anjlok ke angka 6,42 persen, setelah sebelumnya bertengger di atas rata-rata nasional 8,11 persen.

“Tapi rupanya itu tidak menyurutkan orang untuk tetap membeli rokok,” heran Isa.

Orang-rang lebih memilih mengurangi atau tidak membeli daging, ikan segar, telur, susu, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Lalu menyisihkan uangnya agar tetap bisa merokok dalam setiap harinya. Beberapa bahan pokok itu semuanya alami inflasi.

“Deflasi tertinggi dialami daging dengan -4,23 dan sayur-sayuran -5,85,” kupasnya berdasarkkan data BPS.

 Data ini seharusnya ‘mengerikan’. Sekaligus cambuk bagi para praktisi dan organisasi perangkat daerah yang menangani kesehatan dan gizi. Betapa kampanye mereka dalam bentuk baliho-baliho, nyaris hanya buang-buang anggaran saja. Faktanya, masyarakat kota–notabene terdidik–lebih memilih merokok daripada memenuhi gizi keluarganya.

Apakah anekdot, biar susah asal ngasap ini sudah mencerminkan pribadi masyarakat kota? Entahlah. Tapi Wali Kota Matram H Ahyar Abduh pun berharap kebiasaan merokok sebaiknya dikurangi. Bila ada data seperti itu.

“Saya saja sudah kurangi merokok, sekalipun sulit menghentikannya,” kata Ahyar sembari tersenyum, geli.

Wali Kota dua priode ini, saat ini memang diminta mengurangi rokok oleh dokter. Karena kaitannya dengan kesehatan ia di usianya yang telah melebihi setengah abad. Ia pun mengimbangi kesehatan paru-parunya dengan rajin berolah raga.

“Bersepeda,” terangnya.

Seperti ditekankan BPS, rokok mengalami inflasi karena kesertaan masyarakat kelas menangah ke bawah ikut aktif membeli rokok. Padahal harga rokok relatif mahal, jika dibandingkan dengan harga makanan penghasil nutrisi.

Dengan kata lain, pilihan antara membeli makanan sumber gizi atau rokok itu hanya terjadi untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Karena mereka tidak punya uang yang cukup untuk membeli kedua-duanya. Sehingga harus memilih salah satu.

Sedangkan untuk masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas, pengaruh inflasinya tidak terlihat. Karena mereka mampu membeli makanan penghasil nutrisi setiap harinya, sekaligus juga tetap membeli rokok–bagi yang merokok.

“Saya belum melihat data statistik itu seperti apa rinciannya, sehingga kesimpulannya mengarah ke itu,” ungkap Ahyar.

Sekalipun data ini terkesan menyindir. Kampanye pemerintahan dibawahnya,  mengajak masyarakat kota hidup sehat terkesan gagal. Ahyar berdalih ia sudah berusaha mengajak masyarakat mengurangi rokok. Bahkan bila perlu, tidak merokok sama sekali.

“Bahaya rokok kan sudah kita sosialisasikan, melalui dinas-dinas terkait seperti dinas kesehatan, bahkan iklan rokok juga kita batasi,” sebutnya.

Data BPS ini sewajarnya tidak boleh dianggap sepele. Berapa anggaran untuk kampanye kesehatan nyatanya terbuang percuma. Sebab, gagal menekan angka perokok. Malah sebaliknya dalam keadaan susahpun, masyarakat lebih memilih untuk merokok. Daripada memenuhi kebutuhan kalori standar yakni 2100 kalori setiap hari.

Sudah seharusnya pemerintah mulai bekerja berdasarkan standarisasi target. Sehingga keberhasilan menekan rokok dan lebih mementingkan gizi itu, terukur secara statistik.

“Apalagi kaitanya merokok, korelasinya bisa mendorong ke kemiskinan, itu bagaimana kaitannya ya?” ujarnya heran.

Namun yang jelas, Ahyar memilih ingin mempelajari dulu. Hasil statistik BPS yang menyebutkan 22 persen, rokok berpengaruh terhadap kerentanan warga kota menjadi miskin. Tak hanya, itu bagiamana pula, rokok bahkan berhasil berada pada posisi nomor dua setelah beras menjadi konsumsi pokok masyarakat.

“Saya harus lihat datanya dulu, sebab setahu saya kemiskinan itu biasanya dengan tempat tinggal dan daya beli masyarakat,” tandasnya.

Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito pun ikut urun bicara soal langkah pemerintah. Mengurangi rokok di ibu kota. Misalnya dengan menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di beberapa tempat.

“Ada larangan rokok itu juga kan kita kurangi jumlah rokok,” kata Eko.

Namun sebenarnya argumentasi ini belum menjawab persoalan secara substansi. Akar persoalan rokok faktanya telah berhasil menyingkirkan makanan penghasil nutrisi dan kalori. Warga kelas ekonomi menengah ke bawah, lebih memilih rokok dari pada memperbaiki gizi keluarganya.

Beberapa tempat boleh saja diberi larangan merokok. Atau seperti rumah sakit yang akhirnya, dijadikan KTR. Tapi, apakah para perokok akhirnya sama sekali tidak merokok? Tentu saja tidak. Mereka bisa keluar dan mencari tempat merokok yang lain, tanpa terganggu oleh larangan apapun.

“Ini bagian dari upaya kita mengurangi konsumsi rokok itu,” imbuhnya. (zad/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Subsidi Kuota Internet, Daerah Blank Spot di NTB Pertanyakan Manfaat

”Kalau jangkauan towernya luas, tentu ini sangat menunjang sekaligus mendukung pemanfaatan kebijakan pusat,” tandasnya.

Anugerah Pewarta Astra 2020 Kembali Digelar

Astra mengajak setiap anak bangsa untuk menebar inspirasi dengan mengikuti Anugerah Pewarta Astra 2020. ”Di NTB sendiri kami membina warga Kelurahan Dasan Cermen yang merupakan wilayah Kampung Berseri Astra. Harapannya, masyarakat dapat menggambarkan dukungan Astra untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih optimis demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Gusti Ayu.

Pilwali Mataram, HARUM satu SALAM dua MUDA tiga BARU empat

Pengundian nomor Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Mataram berjalan di bawah protokol Pandemi Covid-19 dengan ketat, pukul 19.00 wita-selesai semalam.

Catat, Kampanye Undang Massa Bisa Dipidana

Seluruh calon kepala daerah yang akan berlaga dalam Pilkada serentak di tujuh kabupaten/kota di NTB telah ditetapkan, kemarin (23/6). Hari ini, para calon kepala daerah tersebut akan melakukan pengundian nomor urut. Kampanye akan dimulai pada 26 September. Seluruh kandidat harus hati-hati berkampanye di masa pandemi. Sebab, mengundang massa dalam kampanye bisa dikenakan pidana.

Dua Sopir Bupati Lotim pun Positif Tertular Covid-19

PELACAKAN kontak erat Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy yang positif terinfeksi Covid-19 masih terus dilakukan. Hingga kemarin, dari kontak erat yang telah menjalani uji usap atau swab, dua orang sopir Bupati Sukiman telah dipastikan positif Covid-19.

Dua Jempol untuk Penanggulangan Covid-19 Desa Bentek Lombok Utara

Desa Bentek meraih juara satu Kampung Sehat di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Berada di pintu masuk Kecamatan Gangga, desa ini memang dua jempol. Bidang kesehatannya oke. Bidang ekonominya mantap. Sementara bidang ketahanan pangannya juga menuai decak kagum. Pokoknya top!

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Tertular Korona di Luar Daerah, Bupati Lotim Sempat Drop

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy menjadi kepala daerah pertama di NTB yang positif terinfeksi Covid-19. Pemimpin Gumi Patuh Karya dua periode tersebut menjalani uji usap (swab) pada Senin (21/9) di RSUD dr Raden Soedjono Selong.
Enable Notifications    Ok No thanks