alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Pulang dari Sulsel Masuk Karantina, Dua Jamaah Tabligh asal Rembiga Kabur

MATARAM-Pihak kecamatan Selaparang akan menjemput paksa dua warganya yang kabur saat dikarantina di Bapelkes NTB. “Sekarang masih dilakukan pendekatan oleh lurah dan kepala lingkungan,” kata Camat Selaparang Lalu Muksan Jalaludin, Kamis (26/3).

Dua waga yang kabur dari Bapelkes NTB berasal dari Lingkungan Rembiga Utara. Mereka baru saja pulang dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Tak hanya itu, enam warga dari Kamasan juga dalam pengawasan setelah pulang dari Gowa. “Kalau yang dari Kamasan tetap dalam pengawasan,” ucap pria berkumis ini.

Saat ini, kata dia, kekhawatiran warga terkait virus Korona berlebihan. Orang batuk saja dikatakan Korona. Jadi ia ingin warga yang baru pulang dari acara Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona Asia di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu melakukan pemeriksaan.

Muksan sudah meminta lurah dan kaling untuk membujuk dua warga yang kabur dari Karantina Bapelkes NTB untuk kembali ke karantina. Jika pun nantinya tidak ada hasil, maka pihaknya akan melakukan penjemputan paksa kepada dua warga ini. “Kalau bisa kita minta warga cek pribadi,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan, Kecamatan Selaparang paling banyak warganya yang menjadi korban Deman Berdarah Dengue (DBD). Bahkan salah seorang warganya meninggal akibat DBD. “Satu warga kita meninggal akibat DBD beberapa hari lalu,” ujarnya.

Banyaknya warga yang terjangkit BDB di Kecamatan Selaparang tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat membersihkan lingkungan tempat tinggal. Bahkan saat pemkot melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), warga di sana hanya menonton saja. “Mestinya warga turun membantu pemerintah,” kesalnya.

“Ini malah ditonton,” kata Muksan menambahkan.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Usman Hadi mengatakan, puluhan warga Kota Mataram yang pulang dari Gowa, Sulawesi Selatan sudah didata. Jika ada yang sakit seperti batuk, flu, dan demam maka dikarantina di Bapelkes NTB. “Yang sehat sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun tetap diminta cek kesehatannya,” ucapnya.

Menurutnya, data yang didapatkan Dikes Kota Mataram, hanya ada 13 orang asal Kota Mataram dan sempat berangkat ke Gowa. Dari jumlah tersebut, ada dua orang yang sempat tinggal di Masjid Raya At-Taqwa, hingga Rabu (25/3).

Usman mengatakan, dua warga kota sempat menjalani pemeriksaan di Bapelkes. Sebab, ketika dikunjungi petugas, ada keluhan kesehatan dari keduanya. Seperti batuk, sedikit demam, hingga sakit kepala.

”Hasil pemeriksaannya ada di provinsi,” tuturnya.

Keputusan apakah jamaah tabligh ini akan dipulangkan ke rumah masing-masing atau menjalaani karantina di Bapelkes, sepenuhnya menjadi kewenangan Pemprov NTB. ”Kebijakannya dari satgas Covid-19 di pemprov. Kalau sembuh, boleh saja bisa pulang,” ujar Usman.

Dikes sedikit kesulitan melakukan pendataan untuk warga kota yang ikut ke Gowa. Apalagi kepulangan mereka dilakukan secara sporadis. Ada yang pulang secara mandiri atau rombongan melalui pelabuhan di Lombok Barat dan Bima hingga bandara di Lombok Tengah.

Jumlah warga Kota Mataram yang ikut ke Gowa sebenarnya lebih dari 13 orang. Untuk itu, Dikes Kota Mataram menyebut telah melakukan pengawasan. Mereka meminta petugas kesehatan di puskesmas untuk melakukan pemeriksaan.

Termasuk meminta para jamaah tabligh yang sudah pulang, untuk kooperatif. Melaporkan kondisi mereka ke kepala lingkungan dan lurah.

Sekarang ini, jamaah tabligh asal Kota Mataram tersebut masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP). ”Sesuai protokol kesehatan. Karena baru datang dari daerah endemis, jadi tetap dilakukan pemantauan,” kata Usman.

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang mengatakan, masyarakat tidak usah resah dengan kedatangan jamaah tabligh dari Gowa. Pemerintah sudah melakukan pengecekan kesehatan secara saksama.

Pengecekan kesehatan bahkan dimulai sesaat sebelum mereka meninggalkan Gowa. Di sana kondisi kesehatan jamaah tabligh dua kali dicek. Begitu pula saat tiba di Lombok. ”Pas di Lembar mereka dicek. Kemudian sempat menjalani isolasi juga kan di asrama haji dan masjid raya At-Taqwa,” kata Martawang.

Pemeriksaan kesehatan, disebut Martawang sebagai ikhtiar pemerintah. Memastikan kondisi warga kota yang baru pulang dari Gowa, dalam keadaan sehat. Sekaligus untuk mengurangi keresahan masyarakat.

”Ini juga untuk menghindari informasi yang simpang siur,” katanya. (jay/dit/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Izin Tinggal Habis, WNA di NTB Siap-siap Kena Denda

Masa perpanjangan izin tinggal keadaan terpaksa berakhir Minggu (20/9) besok. Artinya, bagi warga negara asing (WNA) yang belum memperpanjang bakal dikenakan denda. ”Kalau tidak diperpanjang hingga batas waktu yang ditentukan maka dianggap overstay dan bakal dikenakan denda,” kata Kepala Imigrasi Kelas IA TPI Mataram Syahrifullah, kemarin (18/9).

Kasus Ikan Teri JPS Gemilang, Kejati Koordinasi dengan Inspektorat

Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB belum melangkah lebih jauh mengusut pengadaan ikan teri paket JPS Gemilang tahap II. ”Kita koordinasikan dulu dengan Inspektorat,” kata Asintel Kejati NTB Munif di ruangannya, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks