alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Korona di Mataram Bisa Tak Terkendali Jika Warga “Pengkeh” Tak Patuhi Pemerintah

MATARAM-Angka positif Covid-19 terus merangkak naik. Hingga minggu keempat April, Kota Mataram mencatat 74 kasus positif. ”Dari pemerintah memohon dukungan juga dari masyarakat,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Penambahan kasus positif masih didominasi tiga klaster. Gowa, Bogor, serta Jakarta. Ditambah dengan transmisi lokal dari ketiga klaster tersebut. Yang jumlah penambahannya hampir berimbang setiap harinya.

Ahyar mengatakan, pemkot sedang bekerja keras. Mencegah dan menangani Covid-19. Tentunya itu semua membutuhkan peran serta masyarakat. Apa yang menjadi imbauan pemerintah, bisa dipatuhi masyarakat.

Upaya yang dilakukan pemkot, salah satunya dengan membatasi kerumunan masyarakat. Meminta warga kota untuk menunda kegiatan ibadah di rumah peribadatan. Seperti Masjid, Vihara, Kelenteng, Gereja, hingga Pura.

Aktivitas perekonomian non bahan pokok dan perdagangan, juga ditiadakan. Kafe, rumah makan, tempat hiburan, hingga destinasi wisata ditutup. Selain itu, selama Ramadan ini, pemkot telah mengeluarkan imbauan baru. Meminta agar warga melaksanakan salat tarawih di rumah masing-masing.

Kemudian, mereka yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) dalam keadaan sehat, diharapkan bisa melakukan isolasi secara mandiri. Jika tidak mau di rumah, pemkot menyediakan lokasi isolasi di wisma nusantara.

Hanya saja, belum semua warga mau mematuhi apa yang diimbau pemerintah. Minggu kemarin, beberapa lingkungan masih melaksanakan Salat Jumat. Ada juga yang tetap mengadakan salat tarawih di masjid.

Selain itu, pasar burung yang sebelumnya ditutup, ternyata masih beraktivitas. Kepolisian dan TNI terpaksa kembali melakukan penutupan ulang, kemarin.

Ada juga mereka yang berstatus ODP maupun PDP justru beraktivitas di luar rumah. Bukan menjalani isolasi mandiri. Warga membandel ini, diperparah dengan pengawasan yang lemah dari aparatur di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga lingkungan.

Ahyar pun mengakui hal tersebut. Katanya, ada PDP atau mereka yang berstatus reaktif hasil dari rapid tes, justru tidak kooperatif. ”Seperti kemarin itu, ada yang sebelum hasil swab keluarnya, malah di pergi dari rumah. Harusnya sebelum keluar hasil, dia isolasi di rumah,” tutur Ahyar.

Wali kota dua periode ini merujuk peristiwa perginya PDP positif nomor 107 berinisial HA. Ia sebelumnya dinyatakan positif terjangkit virus Korona pada Selasa malam, 21 April. Setelah petugas kesehatan dari RSUD Kota Mataram mengambil swab HA, beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan protokol kesehatan dari RSUD Kota Mataram, seluruh warga yang diambil swabnya, wajib menjalani isolasi. Jika kondisi kesehatannya baik, tanpa gejala sakit, yang bersangkutan bisa isolasi mandiri di rumah. Atau Wisma Nusantara, lokasi isolasi yang disediakan Pemkot Mataram.

Tapi tidak demikian dengan HA. Yang bersangkutan pergi ke Sekotong, Lombok Barat (Lobar). Kepergiannya dilakukan sebelum hasil swabnya keluar. Karena itu, ketika swabnya dinyatakan positif Selasa malam, petugas kesehatan kebingungan. Saat dijemput, mereka tidak mendapati HA di rumahnya. Di Kecamatan Ampenan.

”Ternyata kita melakukan pengawasan ini tidak mudah. Tidak mudah. Terus terang saja,” kata Ahyar.

Kasus HA bukan satu-satunya. Ahyar menyebut kasus lain. Yang membuat petugas kesulitan menemukan PDP, untuk kemudian dibawa ke rumah sakit. ”Tadi malam juga begitu. Kita cari, tidak ditemukan,” tuturnya.

Kerja penanganan Covid-19 akan terasa berat. Berkali-kali lipat. Begitu juga dengan pengawasan. Tanpa didukung masyarakat bakal terasa lebih sulit, kata Ahyar. ”Depan kita jaga, dia bisa lewat belakang. Ini yang perlu ada kesadaran bersama,” ujar Ahyar.

Ahyar ingin masyarakat tumbuh kesadarannya. Bahwa pandemi Covid-19 merupakan persoalan serius. Bukan saja membahayakan diri sendiri. Tapi juga keluarga. Seperti, anak, istri, hingga orang tua.

”Jadi yang kita mau, bagaimana persoalan ini bersama-sama kita hadapi. Sama-sama juga kita lewati,” kata Ahyar.

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra tak mempersoalkan terjadinya penambahan kasus. Bahkan ia menilai itu sebagai sesuatu yang baik untuk Kota Mataram. Menunjukkan hasil kerja dari tracing petugas kesehatan.

”Semakin banyak ketahuan, semakin baik. Semakin cepat juga kita mengambil langkah,” kata dia.

Dengan tren yang terus meningkat ini, dokter Jack sapaan karibnya percaya virus Korona bisa cepat berakhir di Kota Mataram. ”Saya yakin Mei ini tuntas. Yang penting semua klaster ini kita kunci,” tegas dia. (dit/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks