alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Stok Semakin Langka, Pemprov Dorong UMKM di NTB Produksi APD Korona

MATARAM—Wabah korona yang melanda seluruh dunia membuat permintaan ragam Alat Pelindung Diri (APD) tertama masker sangat tinggi. Bahkan di NTB stok APD di sejumlah distributor  semakin terbatas.

Karena itu Pemprov NTB berencana memberdayakan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk memproduksinya. Masker sendiri sudah mulai banyak diproduksi, sementara APD masih dikaji. ”Kita usahakan karena kalau kita tunggu dari luar indennya terlalu lama,” kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Jumat (27/3).

Dia meminta Dinas Perindustrian NTB mempelajari spesifikasi APD. Jika memungkinkan IKM akan dikerahkan untuk membuat. ”Mudahan bisa. Sudah saya tanya dinas perindustrian, katanya bisa,” ujar Zul.

Tapi di sisi lain, para pelaku IKM diharapkan tidak terlalu sibuk sehingga lupa menjaga keselamatan dirinya sendiri. Proses produksi harus tetap memperhatikan protap pencegahan Covid-19.

 

Polisi : APD dan Alkes Masih Langka

Sementara itu Tim Subdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda NTB  telah turun mengecek kebutuhan alat kesehatan. ”Kita turun langsung mengecek ke para distributor di NTB,”  kata Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana P, Jumat (27/3).

Hasilnya, beberapa alat kesehatan dan alat pelindung diri (APD) masih langka.  ”Alat itu semua masih kosong,” jelasnya.

Pihak distributor sudah didorong segera menyediakan alat tersebut. Mereka sudah menyanggupi hal tersebut. ”Mereka sudah memesan langsung dari pabriknya,” jelasnya.

Tetapi, pemesanannya juga terbatas. Karena, kebutuhan alat kesehatan tersebut saat ini juga banyak dipesan daerah lain. ”Rencananya, pekan ini alat-alat kesehatan tersebut akan didatangkan dari Surabaya dan Jakarta,” ungkapnya.

Dari informasi yang didapat distributor, alat-alat kesehatan tersebut lebih banyak diperuntukkan untuk wilayah Jakarta. Maklum daerah tersebut paling banyak masyarakat yang positif terkena korona,” kata dia.

Itupun alat kesehatan tersebut bukan didistribusikan untuk khalayak. Alat tersebut harus didistribusikan bagi tim medis penanggulangan virus korona. ”Kita sudah peringatkan untuk menjual ke tim kesehatan,” ungkapnya.

Eka mengatakan, sampai saat ini belum ada indikasi adanya penimbunan penjualan alat kesehatan. ”Kalau penimbunan belum ada kita temukan. Kita sudah kontrol langsung di lapangan,” jelasnya.

Jika ditemukan penimbunan dalam kondisi wabah virus korona ini mereka bakal ditindak tegas. ”Kalau menimbun dalam kondisi saat ini, resikonya sangat berat. Harus dihukum maksimal,” tegasnya. (ili/arl/r2)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks