Sabtu, 4 Februari 2023
Sabtu, 4 Februari 2023

Harga Kedelai Melambung, Tahu Tempe Makin Ramping

MATARAM-Harga kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu kembali merangkak naik di Kota Mataram. Sontak, membuat perajin menjerit dan bingung.

Kenaikan harga bahan baku tidak serta merta membuat mereka menaikkan harga tempe dan tahu di pasaran. Untuk mengantisipasi kerugian, perajin terpaksa merampingkan ukuran tempe dan tahu.

Rusdi selaku perajin tahu dan tempe di Lingkungan Kekalek Gerisak Kota Mataram mengatakan, harga kedelai terus mengalami peningkatan. Saat ini harga kedelai lokal sudah tembus diangka Rp 14.500 per kilogram (Kg) dan kedelai impor seharga Rp 13.500 per Kg. Naik secara bertahap dari harga sebelumnya hanya Rp 11.700 per Kg.

“Harga kedelai tidak pasti, dengan harga kedelai sekarang kita terpaksa mengurangi produksi dan mengecilkan ukuran,” kata Rusdi, saat ditemui dirumah produksinya, kemarin (25/11).

Ia menjelaskan, sebelum harga kedelai naik untuk sekali produksi  ia mampu menghabiskan sekitar 80-100 Kg kedelai. Dengan produksi tahu sebanyak 25-30 papan per hari.

Baca Juga :  Pengusaha Tempe Menjerit, Kedelai Impor dari Amerika Terlalu Mahal

Namun setelah kenaikan harga kedelai yang cukup melonjak, lanjut dia, hanya mampu memproduksi sekitar 15-17 papan dengan menghabiskan 70 Kg kedelai per hari. Diakui, angka tersebut saat permintaan konsumen sedang tinggi. Sedangkan saat permintaan tahu sedikit, pihaknya hanya bisa memprodukai 60 Kg per hari dengan ukuran yang juga diperkecil.

Rusdi menyebut, ia terpaksa mengambil langkah ini agar omset penjualan yang didapatkan tidak mengalami penurunan terus menerus. Satu sisi pihaknya tidak mungkin menaikkan harga produk tahu secara mendadak. Lantaran dapat mengurangi pelanggan tahu miliknya.

“Yang buat tahu kan bukan saya saja tapi banyak dilingkungan ini (Kekalek, red). Takutnya pada kabur ke yang lain,” keluhnya.

Baca Juga :  Hujan Besar, Pak Joni Sendirian Bersihkan Selokan di Mataram

Senada, perajin tempe di Kekalek Jaya Siti Aisyah mengatakan, ia terpaksa mengecilkan ukuran tempe yang diproduksi mengingat harga kedelai yang biasa ia beli naik hingga Rp 1.500 lebih per Kg.

“Sekarang kami beli kedelai di koperasi Rp 13 juta lebih per ton. Biasanya tidak segitu walaupun kami dapat subsidi,” ujarnya.

Akibat mahalnya bahan baku, Aisyah terpaksa mengecilkan ukuran tempe untuk meminimalisir kerugian. Sebab saat ini omsetnya berkurang dan memaksa dirinya untuk mengurangi ukuran setiap tempe yang diproduksi.

“Kecilkan ukuran tempe ini, Alhamdulillah konsumen tidak mengeluh,” ucap Aisyah.

Ibu beranak tiga ini berharap, kepada pemerintah untuk memberikan solusi terbaik terhadap naiknya harga kedelai ini. Agar pengrajin yang membutuhkan bahan baku kedelai dapat menjalankan usahanya dengan normal seperti dulu. (ewi/r3)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks