alexametrics
Rabu, 23 September 2020
Rabu, 23 September 2020

Kendala Rekonstruksi Rumah Korban Gempa, Bata Mahal, Tukang Langka

MATARAM-Pembangunan rumah korban gempa terus menunjukkan progress membaik. Kemarin (28/3), jumlah rumah yang sudah rampung  mencapai 10.218 unit rumah. Jumlah tersebut dicapai dengan waktu delapan bulan sejak gempa Agustus 2018. Namun begitu, hambatan lain datang. Yakni menyangkut kelangkaan tenaga tukang dan bahan seperti batu bata.

Sudah langka, harga bata merah juga naik. Dari sebelumnya Rp 600 ribu untuk 1.000 biji, menjadi Rp 800 ribu untuk jumlah yang sama. Hal tersebut pun sangat memengaruhi  proses pembangunan rumah korban gempa.

Jika kondisi itu terus menerus terjadi, dana stimulan bagi korban gempa tidak bisa maksimal untuk membangun.

”Harusnya rumah warga yang lebih bagus lagi menjadi berkurang,” kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD NTB Agung Pramuja, kemarin.

Hukum ekonomi kini memang sedang bermain. Kenaikan harga batu bata itu disebabkan lantaran permintaan yang tinggi. Sementara di sisi lain, produksi bata merah juga terbatas. Apalagi saat ini hujan kerap melanda. Menambah sulitnya pembuatan bata merah. Karenanya, batako kini diperbolehkan sebagai bahan bangunan.

”Tidak masalah (batako) yang penting strukturnya kuat,” kata Agung.

            Di sisi lain, kelangkaan tenaga tukang juga menjadi masalah yang lebih sulit. Jumlah tenaga tukang dari Lombok terbatas. Sementara jumlah rumah yang dibangun ratusan ribu. Untuk itu, tenaga tukang dari luar Lombok bisa didatangkan agar pembangunan bisa lebih cepat. Masih banyak tukang dari daerah lain seperti Sumbawa, Bima dan Dompu yang bisa didatangkan ke Lombok.

”Kita butuh 30 ribuan tenaga tukang. Itu saja masih kurang,” katanya.

            Sebagai gambaran, untuk mengerjakan satu unit rumah rusak sedang rata-rata dibutuhkan empat orang tukang agar lebih cepat. Kalau rumah rusak ringan membutuhkan dua tukang dan dua orang peladen. Bila dikalikan dengan jumlah rumah rusak tentu membutuhkan ratusan orang tukang.

Saat ini, masing-masing desa di Lombok memiliki tukang. Tetapi, satu tukang saat ini mengerjakan lebih dari satu rumah. Bahkan, bisa sampai empat rumah untuk satu orang tukang. Sehingga akan sangat sulit bekerja cepat.

”Tukang dari luar silakan datang yang penting tidak terlalu ribet,” katanya.

            Kelangkaan bahan bangunan juga pernah diungkapkan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke NTB beberapa waktu lalu. Namun, khusus untuk pasokan semen dan baja ringan. Presiden saat itu menginstruksikan langsung kepada Menteri BUMN untuk mengirim bahan-bahan tersebut langsung ke Lombok. Sementara bata merah, diproduksi warga lokal langsung.

Sementara terkait progres rehab rekon pembangunan rumah, Kepala Pelaksana BPBD NTB H Muhammad Rum merincikan 10.218 unit rumah sudah jadi. Sebanyak 2.193 unit rumah rusak berat (RB), rumah rusak sedang (RS) 1.845 unit, dan rumah rusak ringan (RR) 6.180 unit.

Sedangkan 38.324 unit rumah masih dalam proses pembangunan. Terdiri dari 16.600 rumah rusak berat, 7.253 rumah rusak sedang, dan 14.471 unit rusak ringan.

Saat ini, untuk mempercepat pembangunan, proses rehab rekon dibantu 3.338 orang tenaga fasilitator. Mereka diharapkan dapat bekerja secara maksimal. Keberadaan fasilitator juga sangat menentukan percepatan pembangunan rumah. (ili/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Gali Terowongan, Napi Narkoba asal China Kabur dari Lapas Tangerang

KAPOLRES Metro Tangerang Kota Kombes Pol Sugeng Hariyanto mengungkapkan, pihaknya menemukan beberapa barang bukti berupa linggis, pahat, obeng dan lainnya yang digunakan terpidana mati kasus narkoba asal Tiongkok tersebut. Pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang pegawai dan satu orang sipil.

Desa Mantang Masuk Nominasi Juara Lomba Kampung Sehat

Desa Mantang menjadi salah satu desa yang masuk nominasi juara pada Lomba Kampung Sehat di Lombok Tengah. Total ada 10 desa terbaik dari 139 desa dan kelurahan yang mengikuti lomba dari Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Jasa Raharja NTB turut Berpartisipasi Meriahkan Hut Lantas Ke-65

Sebagai bentuk koordinasi dan memperkokoh sinergi Kepala Cabang Jasa Raharja (JR) NTB bersama jajaran, Selasa (22/9) turut serta memeriahkan puncak HUT Lalu Lintas Bhayangkara Ke-65.

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks