alexametrics
Senin, 28 September 2020
Senin, 28 September 2020

Nasib Pedagang Mutiara di Tengah Lesunya Sektor Pariwisata

Mataram Craft Center (MCC) menjadi saksi bagaimana lesunya pariwisata di Kota Mataram saat ini. Salah satu sentra penjualan mutiara itu, kini seperti mati suri. Para pedagang bahkan mulai terbiasa tidak mendapatkan konsumen satu pun meski membuka tokonya seharian.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Lampu lalu lintas di perempatan Pagesangan, sangat asyik melayani para pemilik kendaraan. Antrean kendaraan sangat ramai. Menunggu giliran lampu hijau menyala.

Keadaan itu sangat berbanding terbalik dengan kondisi MCC. Bangunan itu masih tampak megah. Berdiri kokoh. Meski di beberapa bagian sudah tidak terurus.

Ikon patung yang memegang cangkang mutiara besar, yang menjadi kebanggaan MCC, sudah tidak lagi menunjukkan keindahannya. “Ya begitulah, kusam karena nggak pernah di cat,” kata seorang tukang ojek yang enggan disebutkan namanya itu.

Koran ini berkeliling. Melihat situasi di beberapa toko yang ada di MCC. Kondisinya sangat miris. Sepi dan nyaris tidak ada pembeli.

Perjalanan pun lanjut ke lapak paling ujung. Berhenti di Toko Emas Mutiara Alam milik Pak Sahnan. Pria 50 tahun ini sedang asyik melayani seorang pembeli mutiara di lapaknya.

“Alhamdulillah, hari ini baru Ibu ini yang datang ke lapak saya,” ucapnya sambil tersenyum.

Sambil terus menemani pembeli, melihat koleksi mutiara yang ia miliki. Sahnan bercerita, kondisi sepi seperti ini sudah berlangsung kurang lebih selama tiga tahun terakhir. MCC yang dulu terawat dan ramai oleh pembeli, sekarang seperti sekarat. Tinggal menunggu ajal.

“Saya rindu masa-masa itu, saat kami kewalahan melayani pembeli. Saat kami kewalahan melayani pesanan dari wisatawan luar kota. Tetapi sekarang hanya cerita saja,” ujarnya miris.

Dalam sehari, syukur-syukur ada satu atau dua orang pembeli. Ada yang datang, namun hanya untuk bertanya-tanya saja. Bahkan ia sering mengalami, dalam sehari tidak ada pembeli yang datang. Toko Sahnan sendiri buka dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore.

Meski MCC berada di perempatan jalan yang cukup padat dan ramai, rupanya itu tidak menjamin bahwa pelanggan akan datang dalam kondisi yang sama. Menurut Sahnan, MCC berlokasi pada ruang yang strategis, namun kurangnya promosi dan banyaknya PKL mutiara, membuat keberadaan MCC seperti terlupakan.

Terlebih lagi, pascagempa yang melanda Pulau Lombok sejak akhir Juli 2018 lalu, membuat MCC semakin terpuruk. Karena tingkat kunjungan wisatawan juga turun drastis.

Sahnan mengakui, ia pernah menutup lapak sampai sebulan. Menunggu situasi kondusif. “Nggak tahu lagi mau bilang apa, sepi se sepi-sepinya,” kata Sahnan gusar.

Dengan kondisi itu, jangankan untung mau balik modal saja susahnya minta ampun. Bus-bus travel agent yang seharusnya memadati area parkir MCC, sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Wisatawan dalam maupun luar negeri, rasanya tidak pernah tahu keberadaan MCC yang masih berdetak.

“Dengan kondisi begini, ya makan modal saja, mana dapat untung, pembeli aja nggak ada yang datang,” kata Sahnan.

Ia tidak ingin kondisi ini berlarut-larut. Dalam mimpi Sahnan, MCC harus menjadi sentra mutiara Lombok seperti dulu.

Dikatakan Sahnan, ekonomi pedagang pascagempa semakin terpuruk. Lapak yang tersisa hanya diisi di lantai bawah saja. Di lantai atas, dibiarkan kosong tak berpenghuni.

Ia ingin Pemkot Mataram harus bergerak mengatasi hal ini. Harus ada inovasi dari pemangku kebijakan. Karena ini berkaitan dengan kelestarian mutiara Lombok.

Dirinya berharap, pemkot bergerak misalnya membuat kebijakan agar lapak-lapak di lantai atas, bisa diisi UMKM yang menjual makanan khas atau pakaian khas Lombok.

“Pokoknya yang berkaitan dengan oleh-oleh,” tegasnya.

Kemudian, saat Pemkot Mataram menjamu tamu-tamu di hotel atau kedatangan delegasi untuk urusan kedinasan di Kota Mataram, pemkot seharusnya bisa mengambil peran dalam ikut mempromosikan MCC sebagai sentra mutiara Lombok di Kota Mataram. Bukan membiarkan mereka membeli sembarang mutiara di PKL-PKL.

Ia sudah sering mendengar, kalau MCC akan direnovasi. Janji demi janji sudah menjadi santapannya setiap hari. Tidak masalah untuk merenovasi, malah bagus akan mempercantik sehingga MCC memiliki daya tarik kembali. Namun, yang harus diperkuat, promosi MCC agar kejayaannya kembali.

“Permintaan saya nggak banyak kok, cuma itu aja karena pada intinya kami tetap ingin bertahan, melestarikan keaslian mutiara Lombok,” tegasnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

LEM Hadirkan Baby Crab dan Gelar Plants Exhibition

Kami terus menghadirkan apa pun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Terpenting bisa menghibur mereka selama masa pandemi ini,” imbuh Eva.

Soal Kuota Gratis, Sekolah di Mataram Masih Validasi Data

”Verval ini kita lakukan  secara bertahap juga, setiap hari ada saja yang divalidasi,” jelas Suherman.

Simulasi Pembukaan Sekolah di NTB, Kerumunan Siswa Masih Terjadi

”Kalau di dalam lingkungan sekolah, semuanya tertib, tetapi pada saat pulang, masih ada kita temukan (kerumunan) meski tidak terlalu banyak ya,” ujarnya.

15 Ribu Suara Partai Non Parlemen Siap Dukung MUDA

"Kami berterima kasih atas dukungan tiga partai ini kepada kami," ujar HL Makmur Said memberikan apresiasi.

Bale Honda, Permudah Konsumen Servis dari Kantor

”Harapannya melalui aktivitas ini mampu meningkatkan kepedulian masyarakat agar tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan dari kendaraan pribadinya,” ujar Technical Service Sub Dept Head Astra Motor NTB Anton Prihatno.

Selain Pro-KES, MUDA Tawarkan Program Mataram Mudah

Berhasil menarik simpatik masyarakat dengan program Kartu Pro-KES, pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram HL Makmur Said-H Badruttamam Ahda (MUDA) kembali menawarkan program menarik. Pasangan ini memawarkan program Mataram MUDAH yang berkaitan dengan reformasi pelayanan birokrasi di Pemkot Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks