alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Rak Giant Sudah Kosong

MATARAM-Rak-rak barang Giant Ekstra Gegutu sudah kosong dari barang dagangan. Memang, belum semua. Masih ada yang tersisa. Tapi rak itu pun barang-barangnya kian menipis.

Hanya banner bertulis: Diskon 30 Persen, Promosi, hingga Cuci Gudang yang masih betebaran dan tak diserbu para pembeli.

Salah satu rak yang masih menyediakan barang cukup banyak adalah susu formula, makanan kemasan, dan sejenisnya. Di sana pembeli yang ingin dapat harga miring pun bejibun. Berebut barang yang dimau.

“Lumayan bisa buat stok kebutuhan susu, dua-tiga bulan,” kata seorang ibu berbelanja.

Tangannya lincah menyambar-nyambar barang. Lalu melihat harga yang menggoda. Ia tak boleh lambat, jika tak mau keduluan yang lain. Bahkan ada pula yang datang membeli barang diskon di sana dengan tujuan dapat utung.

“Nanti bisa dijual lagi,” sahut ibu yang lain.

Kesibukan dan keseruan orang-orang berbelanja di sana nyaris membuat mereka enggan bicara satu sama lain. Layaknya berada di swalayan atau ritel modern pada umumnya yang biasanya sangat hati-hati dan lama memilih barang.

Troli-troli mereka penuh dengan barang belanjaan. Sudah pasti juga dengan diskon atau potongan harga yang menggiurkan.

Kesunyian juga terlihat di deretan kasir. Hanya dua kasir yang terlihat melayani pembeli. Sisanya sepi. Kasirnya juga entah ke mana. Manajemen Giant seperti biasa, memilih tutup mulut. Meminta, semua pertanyaan tentang Giant diarahkan ke manajemen pusat.

Para Wakil Rakyat pun mengaku sedih dengan kondisi ekonomi daerah. Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram Herman, kondisi perekonomian daerah memang sedang berada di titik nadir.

“Ya harus kita akui kondisi saat ini memang sedang jatuh,” kata Herman.

Baca Juga :  Sistem Pembayaran DAK Fisik Dikeluhkan

Tak hanya ritel modern yang alami nasib tragis. Bahkan usaha akomodasi perhotelan pun hanya mampu mencatatkan okupansi di bawah 10 persen. Angka yang sangat mengerikan bagi usaha dengan biaya operasional tinggi.

Giant Eksra Gegutu, salah satu investasi yang terlambat diselamatkan. Penjualan yang tidak sesuai harapan sudah dialami sejak lama. Ini lantas memicu ritel raksasa itu kolaps. Sebelumnya, sudah ada Smart Club yang gulung tikar. Bahkan, sekelas mal Transmart pun nyut-nyutan.

Sekalipun agak terlambat menyadari, pemerintah pun berupaya menyelamatkan para investor di ibu kota. Agar jumlah pengusaha yang gulung tikar tidak bertambah banyak.

“Mau dikasih potongan atau diskon pajak atau ditunda pembayaran, ya silakan saja eksekutif merancang yang terbaik,” ujar Herman.

Tapi ia berharap, pemerintah tidak terlalu royal. Ia yakin, di balik yang kolaps pasti ada yang kondisinya relatif stabil. Sehingga, sebenarnya kalau kebijakan itu benar-benar dikeluarkan, tidak diberikan pada semua. Tapi pada yang benar-benar membutuhkan saja.

“Supaya adil dan PAD kita juga turunnya tidak terlalu drastis,” cetusnya.

Bahkan Herman berharap, pemberian potongan pajak atau penundaan pembayaran pajak sebaiknya diberikan pada usaha menengah ke bawah saja. Sedangkan usaha besar, ia nilai tidak layak diberi ‘subsidi’ pajak.

“Saya rasa mereka punya persiapan untuk menghadapi situasi sulit atau tak terduga,” ujarnya.

Inilah yang membedakan antara usaha kakap dengan usaha kelas menengah ke bawah. Mereka bisa dimaklumi telah menyiapkan segala sekenario untuk menghadapi kondisi pailit sekalipun. Herman pun lebih setuju, agar pemerintah memprioritaskan menyelamatkan usaha-usaha menengah ke bawah.

Baca Juga :  Giliran Pengurus PHDI Dapat Pelayanan Kesehatan Gratis IDI Kota Mataram

“Ini yang disebut konsep ekonomi kerakyatan itu,” terangnya.

Menyelamatkan ekonomi menengah ke bawah jauh lebih menguntungkan. Karena usaha itu jelas-jelas milik rakyat. Ia tak memungkiri usaha besar akan berdampak pada PHK hingga pegangguran.

“Tapi bentuk ‘subsidinya’ ya disesuaikan, jangan dipukul rata. Nanti kalau dibuat sama, bagaimana dengan PAD yang jadi sumber dana pembangunan kita? Bisa terhambat,” cetus, politisi Demokrat ini.

Senada disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram HM Zaini. Sebelum pemerintah menyetujui langkah ‘subsidi’ pajak ada baiknya dibentuk tim. Untuk menyimpulkan seperti apa kondisi riil usaha-usaha yang ada di kota. Apakah kondisi ini memukul rata semua pengusaha. Dari pengusaha besar hingga kecil.

“Atau hanya sebagian kecil saja, itu perlu kita lihat datanya dulu,” kata Zaini.

Sehingga kebijakan yang dikelurakan nanti, tidak sampai membuat PAD ibu kota terjun bebas. Dari taget yang dibuat. Toh, beberapa usaha ia lihat masih cukup kuat dengan kunjungan konsumen yang relatif tinggi. Sehingga, dinilai tidak adil bila dipukul rata.

PAD selama ini digunakan sebesar-besarnya untuk membangun daerah. Jika terjadi pelemahan drastis dalam penerimaan tentu, pembangunan akan melambat. Hingga risikonya kesejahteraan dewan ikut ambruk.

“Termasuk juga itu (gaji dewan bisa berkurang),” akunya.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, semakin bulat tekadnya untuk memberikan ‘subsidi’ pajak pada para pengusaha. Setelah sebelumnya AHM pun bersurat secara resmi pada pemerintah daerah. Hanya saja, Ahyar belum bisa memastikan bentuk ‘subsidinya’ seperti apa. Apakah akan diberi diskon atau hanya penundaan pembayaran pajak.

“Itu perlu kita kaji dulu, agar semua sesuai aturan,” tegas Ahyar. (zad/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/