alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Tagih Janji Pemprov, RSUD Mataram Butuh Alat Tes Korona Segera

MATARAM-Direktur RSUD Kota Mataram dr H Lalu Herman Mahaputra mendesak RSUD NTB mendatangkan reagen untuk tes korona. “Kalau ada bilang ada, kalau tidak bilang tidak. Kita tak perlu pakai bahasa bersayap pada kondisi sekarang ini,” keluhnya pada Lombok Post, kemarin (29/3).

Sejauh ini lanjut dia, pemkot mempertaruhkan gedung graha RSUD Kota Mataram sebagai tempat penanganan pasien korona. Tidak seperti  RS lain ujar dia,  akan berpikir dua kali menangani pasien covid-19. Namun sampai saat ini pemprov yang menjadi perpanjangan tangan  pusat belum mendatangkan reagen pemeriksa tes Korona. “Jangan kita lagi yang disuruh nyari reagen,” kesal pria yang karib disapa dokter Jack ini.

Mestinya kata dokter Jack, pemprov belajar dari pasien PDP yang meninggal di Kota Mataram beberapa hari lalu. Bagaimana psikologis keluarga melihat SOP pemakaman meski belum keluar hasil swab (tes korona). “Seandainya kalau hasil swab sudah keluar dan negatif kan tidak seperti itu dimakamkan,” ujarnya.

Jika ada reagen ini, paling tidak enam sampai delapan jam akan keluar hasil swab. Namun jika terus mengirim sampel swab ke Surabaya maka akan tetap menunggu. Bahkan hingga kini hasil swab lima pasien PDP yang dirawat RSUD Kota Mataram belum keluar. “Kita ndak tahu kapan hasil swab keluar,” kata Jack.

Kemarin lanjut dia, ada penambahan pasien PDP di RSUD Kota Mataram. Namun begitu ia berharap hasil swab nantinya negatif. “Kalau PDP kan sesak. Mudahan sih sesak biasa,” harapnya.

Dari dua pekan lalu, pihaknya diminta menunggu kedatangan reagen tes pemeriksa korona oleh pemprov. Dengan  terus menunggu hasil swab di Surabaya ia juga khawatir. Seandainya kata dia, jika hasil swab pasien PDP positif maka potensi terpapar orang di rumah sakit cukup besar. Sebab, alat pelindung diri (APD) yang digunakan juga terbatas. “Kalau negatif bisa kita suruh pulang,” jelasnya.

Menurut dokter Jack, kasus positif korona di NTB bukan hanya dua orang. Namun ada juga di luar yang terpapar karena belum melakukan tes korona. “Kita kan tidak tahu,” ujarnya.

Dia meminta pemprov menggandeng Prodia mendatangkan reagen. Ia meyakini Prodia memiliki reagen pemeriksa tes korona. Jadi, pemprov harus mengajak Prodia guna mendatangkan alat ini. “Lab dari zaman bahulak (dulu) sampai modern saya yakin ada di Prodia,” kata dokter Jack.

Terpisah, Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito menyiapkan tunjangan kepada tenaga medis yang menangani Covid-19. Bahkan pihaknya sudah menyusun draf tunjangan untuk tenaga medis yang menangani pasien Korona. “Kita sudah siapkan semuanya,” tukas dia. (jay/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dompu Zona Merah, Simulasi KBM Tatap Muka Dua Sekolah Distop

Rinciannya, SMAN 1 dan 2 Kilo, SMAN 1 dan 3 Pekat, SMAN 1 Kempo, SMKN 1 Manggalewa, SMKN 2 Dompu, dan SMAN 1 Hu’u. Namun, hanya simulasi di SMKN 2 Dompu dan SMAN 1 Hu’u yang dihentikan. ”Pertimbangannya, karena sekolah itu ada di wilayah kota dan dekat kota, sebagai pusat penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Cegah Penyakit Jantung di Masa Pandemi

dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K),FIHA,FAPSC,FAsCC

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks