alexametrics
Kamis, 6 Agustus 2020
Kamis, 6 Agustus 2020

Protokol Pencegahan Covid 19 Mataram Jebol, Pasien Korona Leluasa Pergi ke Bali

MATARAM-Pemkot Mataram gagap melakukan pencegahan penyebaran Covid-19. Hanya mengandalkan kesadaran masyarakat, tanpa dibarengi dengan pengawasan ketat dari aparatur pemerintah.

Kepergian HT, salah satu anggota DPRD Kota Mataram positif korona menuju Bali, menambah deretan lemahnya pengawasan di tingkat lingkungan dan kelurahan. Padahal, sudah ada program pencegahan Covid-19 berbasis lingkungan, yang diklaim Wali Kota Mataram, mampu mengawasi dengan baik ODP maupun PDP di setiap lingkungan.

HT diketahui pergi ke Bali setelah melakukan swab di RS Universitas Mataram (Unram), 22 April. Seharusnya, berdasarkan protokol Covid-19, setelah di swab, HT semestinya mengisolasi diri di rumah.

Pemkot Mataram melalui satgas di gugus tugas seharusnya bisa memastikan HT tetap berada di rumahnya. Guna mencegah potensi penyebaran lebih luas, apabila hasil swab di Unram dinyatakan positif.

Yang terjadi justru sebaliknya. HT berangkat menuju Bali pada 24 April. Kemudian, Senin 27 April, hasil swab HT di RS Unram dinyatakan positif Covid-19.

Hasil Swab RS Unram kemudian menjadi pegangan Pemkot Mataram. Untuk menyatakan HT terkena Covid-19. ”Kami mendapatkan satu laporan dokumen secara resmi, hasil Swab di RS Unram, HT dinyatakan positif. Maka kita menjalankan protokol Covid,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, kemarin.

Protokol Covid-19 yang dimaksud Ahyar adalah dengan melakukan penjemputan terhadap pasien. Untuk dilakukan perawatan di RSUD Kota Mataram.

Tapi protokol ini tak berjalan mulus. Saat penjemputan di kediaman HT, petugas tak menemukan yang bersangkutan. ”Petugas sudah pergi mencarinya. Tapi ternyata HT tidak ada di alamatnya,” tutur wali kota dua periode ini.

Ahyar mengaku tak mengetahui keberadaan HT di mana. Meski santer beredar informasi bahwa HT sudah berada di Bali. Jauh sebelum petugas kesehatan menjemput HT, Senin malam.

”Saya tidak boleh mengada-ada. Kecuali saya terima secara resmi informasinya,” ujar Ahyar.

Menyikapi peristiwa HT, Ahyar mengembalikan kepada imbauan maupun edaran yang telah dikeluarkan. Ia sekali lagi meminta semua warga untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

”Berbagai arahan kita sudah mengerti semua. Kita minta warga menjaga kesehatan diri dan keluarga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menilai HT sudah sangat paham soal protokol Covid-19. Sehingga ketika disinggung apakah nantinya meminta HT untuk pulang dan menjalani isolasi di Mataram, keputusan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada HT.

”Yang penting jelas. Kalau isolasi di Bali, jelas di Bali. Tidak mesti di sini. Laksanakan protokol Covid-19, supaya masyarakat tidak khawatir,” katanya.

”Yang jelas semua kita harus kooperatif, demi kesehatan diri, keluarga, dan masyarakat,” tambah Ahyar dengan imbauan.

Sementara itu, setelah hasil positif Covid-19 yang dirilis Unram, 27 April, pada hari yang sama RSUP Sanglah, Bali merilis hasil Swab untuk HT. Ia dinyatakan negatif Sars-CoV2 alias negatif virus Korona.

”Iya ini masih di Bali. Menunggu hasil Swab kedua,” kata HT, dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

 

HT Bantah Kabur, Percepat Hasil Tes ke Bali

Kemarin, HT mengonfirmasi kepergiannya ke Bali bukan untuk melarikan diri. Tapi ingin mempercepat mengetahui hasil tes swab. Apakah negatif atau positif Covid-19.

HT mengatakan, selama ini ia melihat proses untuk hasil swab cukup lama. Kadang sampai dua minggu. Di beberapa kasus, ada yang lebih dulu melakukan swab, namun hasilnya keluar lebih lama, dibandingkan yang memeriksa belakangan.

Atas dasar itu, ia melakukan musyawarah bersama penanggungjawab jamaah tabligh (JT) NTB. Dengan kesimpulan, untuk mereka yang memiliki uang dipersilakan melakukan pengecekan Swab secara mandiri.

”Maka saya minta izin melalui kawan pimpinan (jamaah) tabligh untuk Swab mandiri,” ujarnya.

Ketika melakukan Swab di RS Unram, Rabu, 22 April, HT sempat menanyakan kapan hasilnya akan keluar. Petugas, kata HT, mengatakan hasilnya keluar sekitar lima hari ke depan. Bagi HT, jangka waktu lima hari terlalu lama. Sementara, ia harus berangkat ke Denpasar untuk menghadiri acara keluarga.

”Akhirnya tanggal 24 April saya ke Denpasar,” kata pria yang juga sebagai Ketua Tim Advokasi, Edukasi, dan Kesehatan JT NTB ini.

Setelah tiba di Bali, HT menyebut tidak langsung ke rumah. Melainkan datang ke RSUP Sanglah. Dari sana, ia diarahkan untuk melakukan skrining di RS Universitas Udayana (Unud). Sebab, riwayat rapid tesnya menunjukkan reaktif.

”Jadi saya isolasi di RS Unud sampai sekarang. Tanggal 26 April saya Swab, tanggal 27 keluar hasilnya negatif,” jelas HT.

Mengenai hasil yang berbeda dengan RS Unram, HT tak begitu mempersoalkan. Ia juga menyebut tak ada keinginannya sedikitpun untuk tidak mengikuti anjuran pemerintah.

Apalagi, lanjutnya, arahan dari pimpinan tabligh, agar seluruh jamaah mempedomani dua hal dalam menghadapi Covid-19. Pertama, mengikuti semua ikhtiar yang dilakukan pemerintah. Kedua, dengan pendekatan rohani. Menyerahkan dan menguatkan hubungan kepada Allah.

”Tidak ada miss sebenarnya. Saya cuma ingin cepat saja. Kebetulan mau ada acara di Bali,” imbuhnya.

Terlepas dari kondisinya, HT meminta pemerintah bisa memproses hasil swab lebih cepat. Untuk memberi kepastian kepada mereka yang melakukan Swab. ”Sebagai ketua tim (advokasi JT), saya berterimakasih kepada Gubernur dan Wali Kota, Bupati. Tapi kami minta juga, kalau hasil swab itu bisa dipercepat,” tandas HT.

 

Direktur RSUD Mataram Sebut HT langgar Protokoler Penanganan Covid 19

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram dr H Lalu Herman Mahaputra menilai HT telah melanggar protokoler penanganan Covid-19. Seharusnya ketika Swab HT sudah dikarantina. “Ketika hasilnya reaktif pada rapid test lalu, harusnya dilakukan isolasi mandiri,” kata pria yang akrab disapa Jack itu.

Diungkapkan, perbedaan hasil Swab HT di Rumah Sakit Universitas Mataram dan Rumah Sakit Sanglah Bali bukan masalah. Tapi, yang kini menjadi masalah serius adalah, kepergian HT ke luar daerah padahal ia baru selesai menjalani Swab.

Seperti diberitakan Koran ini kemarin, hasil Swab yang dilakukan di RS Unram 22 April lalu, HT dinyatakan positif Korona. Namun HT pergi ke Bali dan melakukan Swab ke RSUP Sanglah, Bali pada 26 April dan hasilnya negatif.

“Hasil seperti ini bisa saja terjadi. Pada Swab pertama hasilnya positif, lalu swab kedua negatif. Banyak kasus seperti ini,” kata dia.

Kini lanjut dia, HT harus menunggu Swab ketiga di RS Sanglah, Bali. Jika hasilnya negatif, bisa menjadi rujukan untuk tidak dilakukan Swab lagi di Mataram.

Dokter Jack mengaku sudah ditelepon HT. Kini ia melakukan isolasi mandiri di Bali sebelum melakukan Swab kembali. Ia tidak dibolehkan pulang sebelum melakukan Swab.

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Penangangan dan Pencegahan Covid-19 I Nyoman Swandiasa mengatakan, HT di Bali informasinya sudah melakukan Swab sebanyak tiga kali. Dua kali hasilnya positif, dan swab ketiga hasilnya negatif. Artinya, sejak 22 April lalu, HT sudah melakukan swab empat kali. Satu kali di RS Unram, dan tiga kali di RS Sanglah, Bali. “Kalau diswab lagi, tidak ujuk-ujuk langsung negatif,” kata dia.

Dia sangat menyayangkan HT tidak kooperatif. Mestinya saat rapid test atau saat di Swab, ia tidak keluar daerah. “Harusnya HT tahu diri,” ujarnya. (dit/jay/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Totalitas dalam Melindungi Hak Pilih

SALAH satu asas penting dalam pelaksanaan pemilu/pemilihan adalah asas jujur. Kata jujur ini tidak hanya muncul sebagai asas penyelenggaraan pemilu/pemilihan, namun juga hadir sebagai prinsip dalam penyelenggaraannya. Setiap kata yang disebut berulang-ulang apalagi untuk dua fondasi yang penting (asas-prinsip) maka kata itu menunjukkan derajatnya yang tinggi.

Sanksi Tak Pakai Masker, Bayar Denda atau Bersihkan Toilet Pasar

Peraturan daerah (Perda) tentang Penanggulangan Penyakit Menular berlaku efektif bulan ini. Denda bagi aparatur sipil negara (ASN) yang melanggar lebih berat dibandingkan warga biasa.

Pertama Sejak 1998, Ekonomi RI Kembali Minus, Resesi Sudah Dekat

Usai dua dekade berlalu, kini sejarah kelam pertumbuhan ekonomi minus kembali terulang. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin (5/8) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal II 2020 tercatat -5,32 persen.

Kisah Para Korban PHK yang Menolak Menyerah di Desa Sokong

Pandemi Covid-19 membuat banyak warga yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan di Desa Sokong. Tapi, mereka menolak menyerah. Hasilnya kini, mereka bukannya mencari pekerjaan. Malah mereka justru mencipta pekerjaan.

Begini Cara Booking Service Online Via Motorku X

”Caranya sangat mudah, semua hanya dalam genggaman saja,” ucap Marketing Sub Dept Head Kresna Murti Dewanto.

Minyak Jaran Peresak Sakra, Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Lawan Korona

PANDEMI Covid-19 membuat banyak inovasi yang dilakukan warga. Terutama untuk menjaga dan menguatkan sistem kekebalan tubuh. Seperti rajin berolahraga, mengkonsumsi madu alami, obat herbal, istirahat cukup, hingga berjemur dibawah matahari pagi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Ungkap Dugaan Pembunuhan LNS, Polres Mataram Periksa 13 Saksi

Penemuan jasad LNS, 23 tahun dalam posisi tergantung di dalam sebuah rumah di di perumahan BTN Royal, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram menyisakan tanda tanya. Penyidik Polresta Mataram  memeriksa sejumlah saksi secara maraton.
Enable Notifications.    Ok No thanks