alexametrics
Senin, 28 September 2020
Senin, 28 September 2020

Curhat Papuq Irah : Dipeluk Prabowo, Rasanya Dipeluk sang Ayah

Video Papuq Irah dapat Rp 500 ribu dari Prabowo viral di media sosial. Dengan cepat pula disambar jadi gorengan politik kubu yang berseberangan. Lalu, seperti apa cerita sebenarnya Papuq Irah?

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

======================================

SUMIRAH tak pernah menduga. Di usianya yang satu abad kurang 15 tahun, bakal jadi omongan banyak orang. Nenek dengan lutut gemetaran itu sangat ingin memutar waktu. Lalu menolak ajakan seorang remaja yang ia kenal baik, selalu menyapanya ketika lewat di sebuah apotek.

Sayang nasi telah jadi bubur. Videonya sudah terlanjur dan dipakai kubu politik untuk saling menjatuhkan. “Irfan namanya, dia jadi tukang parkir di sana,” kata perempuan yang lebih akrab di sapa Papuq Irah itu.

Sembari terus mengelus lututnya Papuq Irah ingat betul. Bagaimana gelora dadanya ingin ikut kampanye Prabowo di Lapangan Karang Pule, Selasa (26/3) lalu. Sekalipun dengan keterbatasan tenaga yang ada, ia tetap ngoyo datang ke tempat itu. Lalu ikut berteriak mengelu-elukan nama Prabowo, bersama warga yang tumpah ruah di lapangan itu.

“Saya memang pendukung Prabowo, lihat saja itu,” tunjuknya sambil memperlihatkan beberapa stiker dan kalender Prabowo dan Partai Gerindra.

Stiker itu sudah dipasang jauh-jauh hari sebelum Prabowo datang. Papuq Irah mengenal Prabowo dari televisi butut di dalam kamarnya. Saban hari ia menonton televisi bersama kucingnya yang telah punya anak empat ekor. “Iya saya tinggal dengan kucing-kucing saya,” akunya, sembari terkekeh.

Papuq Irah sebenarnya sudah tidak ingin membahas tentang video viral itu lagi. Terlalu banyak orang yang datang dan bertanya dan ia merasa lelah mengulang jawaban yang sama. Sampai harus sumpah segala. Tapi pada Lombok Post ia kembali luluh, bercerita duduk persoalannya.

“Ia memang ngotot ingin ikut, ‘siapa tahu saya bisa salaman sama pak Prabowo (kata Papuq Irah)’,” timpal Ibu Farida, sahabat PapuqIrah yang siang itu datang juga ke kontrakannya.

Farida sedikit tahu tentang peristiwa itu. Ia kebetulan ikut bersama Papuq Irah ketika Prabowo datang kampanye ke Kota Mataram.

Sebelum meminta Papuq Irah melanjutkan cerita, Lombok Post memutar ulang videonya yang viral bersama seorang remaja yang disebut-sebut bernama Irfan. Usai diputar, dengan berlinang air mata Papuq Irah, menyebut video itu ia sebut hanya bercanda. Bentuk keakraban antara nenek dan cucu. Ia tak pernah menyangka bila pada akhirnya video itu akan jadi pembahasan banyak orang. Keterbatasan pengetahuannya tentang cara kerja teknologi saat ini membuat Papuq Irah, menyesali telah mau saja direkam menggunakan smartphone kala itu. “Kita bercanda-bercanda,” sebutnya.

Tapi ia kembali bersumpah. Prabowo yang ia kagumi tidak pernah memberinya sepeser pun uang seperti dalam pengakuannya. Bagaimana bisa diberi? Orang-orang yang hadir dalam kampanye, tentu dengan mudah akan melihat dan merekam, ia dapat uang dari Prabowo. Jika pemberian itu, langsung di atas panggung.

Sedangkan sejak ia naik dari panggung sampai turun lagi, Prabowo tidak pernah beringsut dari tempatnya berdiri, di sana. “Sepeser pun secuilpun tidak ada,” tegasnya.

Ia pun tak pernah menyangka. Jika kesempatan ingin berjabat dengan Prabowo itu tiba-tiba jadi kenyataan. Bahkan lebih dari itu, ia punya kesempatan istimewa berdiri berdua di atas panggung. Lalu menitipinya harapan agar ia menang dan jadi Presiden.

Mengapa Papuq Irah sangat ingin Prabowo jadi Presiden?

Rupanya, selain ia yakin Prabowo bisa bawa bangsa ke arah lebih baik, papuq Irah punya alasan sendiri. Alasan ini erat kaitannya dengan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku. “Saya sebenarnya bukan orang asli sini, tapi saya dari Ujung Pandang, Makassar,” kisah Papuq Irah.

Saat ia masih berumur 10 tahun dan duduk di kelas 3 SD, ibunya meninggal, di Makassar. Hatinya hancur kehilangan sang ibu tercinta. Di usia yang masih sangat belia. Belakangan kemudian, sang ayah kemudian dapat tugas khusus untuk ke Mataram, Lombok. “Ayah saya seorang Opasus, kalau sekarang polisi,” kisahnya.

PapuqI Irah menyebut Opasus. Tapi mungkin maksudnya adalah Opsus. Akronim dari Operasi Khusus. Opsus adalah Lembaga Intelijen di masa Orde Baru di bawah pimpinan Ali Moertopo.

Tugas negara itu akhirnya membawa Papuq Irah kecil bersama sang ayah tiba di Mataram. Tapi saat ia baru saja duduk di kelas 1 SMP, ayah yang ia cintai menyusul ibunya ke alam kubur. “Saya pun jadi anak sebatang kara,” ujarnya.

Kehilangan sosok ayah yang tegas dan disiplin, membuat Papuq Irah rapuh. Di usia belia ia pun telah luntang-lantung mencari sesuap nasi dengan bekerja serabutan. Ia begitu menganggumi sang ayah.

Sosok yang tegas dan sangat jelas perintahnya. Jiwa militer dalam diri ayahnya begitu kuat memancar. Hingga mampu mendamaikan hatinya, sekalipun ia tak punya ibu.

“Karenannya saat pak Prabowo memeluk saya, rasanya seperti dipeluk ayah saya,” ujarnya berkaca-kaca.

Ia merasa ayahnya hidup kembali. Dalam pancaran semangat Prabowo. Ia merasakan damai yang begitu kuat. Setelah puluhan tahun dipisahkan, oleh takdir. Karena itu, memilih dan mendukung Prabowo menjadi presiden bagi Papuq Irah, sama saja dengan memilih dan mendukung ayahnya sendiri.

“Makanya saya berbisik, ‘bapak harus menang dan jadi presiden’,” ulangnya pada bisikannya ke telinga Prabowo di atas panggung kala itu.

Seusai dapat pelukan istimewa itu, Papuq Irah pun turun. Dengan dibantu beberapa wanita yang memapahnya agar tak terjatuh karena tenaganya yang lemah. Ada beberapa di antara mereka yang akhirnya iba pada papuk Irah. Lalu menyodorinya beberapa lembar uang, sekadar untuk beli es.

“Bukan Rp 500 ribu, tapi Rp 5 ribu, ada yang Rp 10 ribu, mereka kasihan ke saya, mungkin karena saya tua dan kelelahan, apa itu salah?” ujarnya lagi.

Ia merasa dukungannya ke Prabowo, tidak pernah dibeli dan tidak bisa dibeli. Kalaupun tidak ada yang menyodorinya uang, ia tetap akan memilih Prabowo. Karena baginya ia sedang memilih sang ayah. Setulusnya. Apa itu salah?

“Saya keliru (menyebut dalam video) itu cuma Rp 5 ribu, ada yang kasih Rp 10 ribu, karena kasihan, sedekah,” ungkapnya.

Papuk Irah pun menerima. Dan menganggap itu uluran kebaikan. Bukan untuk membeli suaranya. Ia butuh asupan tenaga, dari seteguk es untuk kembali memulung sepulang dari kampanye itu.

“Saya mau tidak mau harus kerja, karena harus bayar kontrakan Rp 500 ribu setiap bulan,” kisahnya.

Jika pemberian beberapa orang yang iba itu salah. Apa orang-orang yang juga kerap iba padanya di jalan saat ia sedang jalan memulung juga salah? Papuq Irah mengaku benar-benar tidak mengerti dengan dunia politik. Di mana orang berbuat baik pada orang tua renta dan ringkih sepertinya, dianggap seperti dosa besar. “Mereka kan cuma sedekah,” ucapnya.

Ia tak ada lagi tempat bergantung dan berkeluh kesah. Dari tiga kali menikah Papuq Irah tak dikaruniai anak. Dua kali menikah dengan pria asal Lombok, dua kali pula ia akhirnya cerai. Terakhir menikah dengan orang Surabaya, suaminya itu pun meninggal dunia. “Saya memang sebatang kara, tapi saya tidak pernah mau menyerah (bekerja),” tutupnya. (*/r7)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Proyek Pembangunan Dermaga Senggigi Tak Jelas

Dermaga Senggigi berpotensi mangkrak lebih lama. Meski Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Barat (Lobar) tetap mengupayakan kelanjutan pembangunannya. ”Mau tidak mau harus kita lanjutkan. Itu kewajiban kita,” kata Kadishub Lobar HM Najib.

Distribusi Bantuan Beras Lelet, Dewan Minta Pemprov NTB Ambil Alih

”Pemda harus secepatnya koordinasi ke pusat, kalau ada kemungkinan ambil alih, take over secepatnya, kasihan masyarakat,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah, Minggu (27/9/2020).

Kantongi Persetujuan Mendagri, Pjs Bupati Boleh Lakukan Mutasi

”Bisa (rombak) tetapi ada kendali di situ yakni rekom KASN. Pejabat definitif saja harus ada rekom KASN,” katanya.

Akhir September, Tren Konsumsi BBM dan LPG di NTB Meningkat

”Jumlah ini meningkat dibandingkan Bulan Mei 2020, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan di berbagai daerah,” kata Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji, Jumat (25/9/2020) lalu.

LEM Hadirkan Baby Crab dan Gelar Plants Exhibition

Kami terus menghadirkan apa pun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Terpenting bisa menghibur mereka selama masa pandemi ini,” imbuh Eva.

Soal Kuota Gratis, Sekolah di Mataram Masih Validasi Data

”Verval ini kita lakukan  secara bertahap juga, setiap hari ada saja yang divalidasi,” jelas Suherman.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks