alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Kalau Tak Penting Banget, Plisss!!! Jangan ke Mataram Dulu!

MATARAM-Pemkot Mataram terus meningkatkan kewaspadaan. Warga luar kota diimbau jangan ke Mataram dulu.

”Kita imbau ya. Kalau tidak ada yang urgent, ditahan dulu untuk masuk wilayah kota,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, kemarin.

Kebijakan tersebut masih bersifat imbauan. Ahyar mengatakan, apa yang dilakukan pemkot untuk menjaga kepentingan masyarakat kota. Memutus mata rantai penyebaran virus Korona.

Penyebaran Korona yang masif, tak lepas dari interaksi di masyarakat. Potensinya semakin besar, ketika ada warga yang baru datang dari luar kota. Terutama dari wilayah endemis virus Korona.

Ahyar ingin memutus mata rantai tersebut. Sehingga meminta warga luar kota untuk menahan diri. Tidak datang ke Kota Mataram apabila memang tak ada keperluan yang sangat penting. ”Kita tahu penyebaran itu dari interaksi,” ujarnya.

Sejauh ini, pemkot juga telah melarang pertemuan. Termasuk keramaian di tempat hiburan dan jalan-jalan. Yang melibatkan massa dalam jumlah banyak. Imbauan juga dikeluarkan untuk pelayanan publik agar menerapkan physical distancing.

Penanganan dan pencegahan, bagi wali kota dua periode ini, tidak bisa hanya dilakukan pemerintah saja atau kelompok. Secara sendiri-sendiri. Tapi harus dilakukan bersama. Dengan semangat yang sama. Sehingga Kota Mataram tetap terbebas dari wabah Korona.

”Mudah-mudahan tidak ada yang positif,” kata Ahyar.

Lebih lanjut, sebagai ketua gugus tugas penanganan virus Korona, Ahyar meminta camat serta lurah mengantisipasi warga kota yang mudik. Tenaga kerja maupun pelajar dari luar daerah. Harus ada data yang detail. Mengenai jumlah dan kapan kedatangan mereka.

Warga kota yang baru datang, diminta untuk tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan melalui proses screening kesehatan. Yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dikes) maupun RSUD Kota Mataram.

Pemkot juga telah menyiapkan lokasi screening. Dengan menyewa wisma nusantara. Nantinya, warga dikarantina terlebih dahulu selama 14 hari di sana. Jika sehat dan tak menunjukkan gejala sakit, warga boleh pulang ke rumah.

”Begitu juga yang ternyata sudah pulang ke rumahnya, kita minta mereka melapor,” imbaunya.

Disinggung mengenai beberapa lingkungan yang melakukan lockdown, Ahyar menilai itu tidak bijak. Pemerintah hanya meminta lingkungan menjaga wilayahnya dengan cara siskamling. Bukan dengan menutup diri.

”Jangan berlebihan,” kata Ahyar.

Akan lebih bijak, lanjutnya, jika warga melakukan upaya preventif dengan menanyakan setiap orang yang datang. Yang ingin masuk ke lingkungan mereka. ”Kalau memang orang luar, ditanyakan saja apa keperluannya. Di cek dulu. Sebagai upaya antisipasi,” saran Ahyar.

Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito mengatakan, pemkot akan mengontrak satu tempat. Di Wisma Nusantara. Yang nanti bisa digunakan untuk keperluan karantina.

”Kalau asrama haji, penanganan di provinsi. Dan kita tidak tahu keseriusan mereka,” kata Eko.

Dengan mengontrak satu tempat, pemkot bisa mudah melakukan pengawasan. Sekaligus memantau pergerakan setiap orang di lokasi tersebut.

Kata Eko, biaya untuk menyewa akan disiapkan dari kantong APBD. Pemkot ingin segala penanganan pencegahan penyebaran virus Korona bisa dilakukan dengan cepat. Tanpa harus terganjal wilayah birokrasi.

”Memang ada beberapa tempat yang bisa kita kontrak. Gak masalah disewa, ini juga untuk kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Lockdown Mandiri

Sementara itu, Lingkungan Karang Bedil, Kelurahan Mataram Timur merespons merebaknya virus Korona dengan melakukan langkah-langkah strategis. Sejak kemarin (30/3), lingkungan yang terletak di jantung Kota Mataram ini melakukan lockdown mandiri.

Warga menutup akses masuk dan hanya membuka satu pintu yang dijaga selama 24 jam. “Di pintu masuk kita siapkan handsanitizer dan sabun cuci tangan. Steril dulu baru masuk,” kata Kepala Lingkungan Karang Bedil Mirwandi Fiqri, kemarin.

Diungkapkan, Lingkungan Karang Bedil memiliki tujuh pintu masuk. Guna mengantisipasi penyebaran Korona, enam pintu masuk ditutup. Apalagi dari data lingkungan kata dia, terdapat sepuluh rumah pondokan di lingkungan ini. “Setiap tamu yang berkunjung harus lapor,” ujarnya.

Langkah tersebut dilakukan mengingat semakin merebaknya Korona di berbagai wilayah di Kota Mataram. Hal itu membuat warga Karang Bedil tergerak melakukan usaha dan upaya pencegahan penyebaran virus tersebut. Apalagi saat ini, Covid-19 menjadi ancaman di negara-negara seluruh dunia. “Kita ingin memutus rantai penyebaran Korona,” tutur dia.

“Dengan satu pintu masuk ini akan memberi rasa aman dan nyaman bagi warga,” imbuhnya.

Sejauh ini lanjut dia, lockdown tidak ada penolakan dari warga. Karena ini merupakan kesepakatan warga. Penutupan ini akan dilakukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Sementara itu Hendra, warga Lingkungan Karang Bedil mengapresiasi apa yang dilakukan Lingkungan Karang Bedil memberlakukan satu pintu  masuk ke lingkungan. “Saya rasa ini cukup bagus,” ujarnya.

Antisipasi penyebaran Korona harus dilakukan sedini mungkin. Warga yang berkunjung ke lingkungan ini harus jelas. Pun juga dengan warga, terutama warga yang keluar, terutama yang berjualan di pasar disiapkan alat pelindung diri (APD) berupa masker. “Pulang nanti cuci tangan,” ujarnya.

Dengan sistem lockdown mandiri, ia merasa nyaman. Tidak lagi was-was dengan penyebaran Korona. “Kita  merasa aman dengan lockdown mandiri ini,” tukasnya. (dit/jay/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks