Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Permintaan Daging Ayam Meroket Hingga 1 Ton Per Hari untuk Program MBG di Mataram

Sanchia Vaneka • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:07 WIB

 

Permintaan daging ayam menungkat dampak MBG
Permintaan daging ayam menungkat dampak MBG


LombokPost
– Kota Mataram menghadapi ancaman tekanan inflasi baru menjelang akhir tahun, meskipun inflasi year-on-year (yoy) hingga November 2025 masih terkendali di angka 2,8 persen. Indikasi lonjakan harga dipicu oleh tingginya permintaan komoditas pangan untuk kebutuhan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Asisten I Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, menyatakan bahwa kebutuhan untuk penyiapan dapur MBG akan sangat tinggi, terutama untuk komoditas utama seperti daging ayam, telur, beras, minyak, dan cabai.

“Tentu kebutuhan untuk penyiapan dapur MBG itu akan sangat tinggi... Nah ini bisa saja nanti akan prediksi kita akan memengaruhi adanya inflasi,” kata Miftahurrahman.

Saat ini, sudah ada 35 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang beroperasi di Mataram.

Proyeksi kebutuhan yang masif ini dikhawatirkan membalikkan kondisi harga, yang sebelumnya sempat mengalami deflasi pada komoditas tertentu seperti cabai rawit dan daging ayam di November.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, membeberkan angka kebutuhan yang mengejutkan. Berdasarkan koordinasi di lapangan, satu dapur MBG memerlukan pasokan daging ayam hingga 380 kilogram per hari.

Jika dikalkulasikan, kebutuhan harian satu dapur MBG mencapai sekitar 1 ton 80 kg per hari. Angka ini menjadi beban berat bagi pasokan harian di Mataram, mengingat saat ini ada 35 unit MBG yang aktif.

“Kalau satu dapur itu 380 kg per hari, kami harus memikirkan bagaimana mengantisipasi ketersediaan pasokan. Kami tidak menyalahkan programnya, tapi kami mencari celah agar pasokan ini tersedia,” tegas Nida.

Lonjakan permintaan ini semakin menekan harga lantaran dapur MBG hanya membutuhkan daging ayam segar, bukan ayam beku yang lebih banyak dialokasikan untuk sektor Horeka (Hotel, Restoran, dan Kafe).

Permintaan tinggi dari 35 dapur MBG membuat pasokan lokal cepat terkuras. Dampaknya, harga di tingkat pengepul sudah mencapai Rp 36.000 hingga Rp 37.000 per kilogram. Hal ini wajar membuat harga jual di pasar menembus Rp 40.000 setelah ditambah biaya operasional.

Selain faktor permintaan yang tak terhindarkan, kondisi hulu juga memperparah situasi, misalnya:

* Penurunan Hasil Panen: Peternak mengalami penurunan hasil panen, dari yang biasanya 1.000 ekor, kini hanya menghasilkan 600 ekor per panen.
* Pembatasan DOC: Terdapat informasi adanya pengurangan pasokan Day-Old Chicks (DOC) atau anak ayam dari pusat, yang secara langsung membatasi potensi produksi di daerah.

Pemkot Mataram saat ini belum berencana melakukan pemeriksaan langsung ke dapur-dapur MBG, namun memilih untuk melihat perkembangan di lapangan terlebih dahulu.

Sementara itu, Disdag Mataram mengambil langkah proaktif dengan berupaya berkoordinasi dengan distributor dan pengepul untuk mencari solusi dan menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan yang luar biasa tinggi ini. Disdag juga telah diminta oleh beberapa dapur MBG untuk menyediakan daftar harga acuan.

Selain efek dari MBG, faktor lain yang diwaspadai adalah musim hujan (November-Februari) yang rentan mengganggu ketersediaan komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat, yang merupakan penyumbang inflasi inti.

Editor : Siti Aeny Maryam
#SPPG #Inflasi #Mbg #makan bergizi #Mataram #dapur MBG #daging ayam