alexametrics
Sabtu, 15 Agustus 2020
Sabtu, 15 Agustus 2020

Bunuh Suami, Istri Hakim Divonis Mati

MEDAN– ”Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Zuraida Hanum dengan pidana… mati!” tegas Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Erintuah Damanik kemarin (1/7). Vonis itu membuat Zuraida, 41, tak mampu menahan tangis. Air matanya menetes membasahi pipi dan masker yang diturunkan ke dagu.

Bak sinetron, sidang kemarin menjadi episode akhir dari kasus pembunuhan terhadap Jamaluddin, 55, hakim PN Medan. Otak pembunuhan adalah Zuraida, istrinya sendiri. Hal itu ditegaskan lagi dalam sidang virtual di Ruang Cakra 8 PN Medan kemarin.

Majelis hakim menjelaskan, hal yang memberatkan terdakwa adalah statusnya sebagai istri hakim yang otomatis menjadi anggota Dharmayukti Karini pada PN Medan. Status itu membuat Zuraida seharusnya menjaga citra sebagai istri seorang hakim.

”Bahwa selama pemeriksaan, terdakwa Zuraida Hanum tidak bersungguh-sungguh menunjukkan rasa penyesalan,” ucap hakim anggota Imanuel Tarigan seperti dilansir koran ini. ”Sedangkan hal yang meringankan, tidak ada alasan pemaaf padanya,” lanjutnya.

Putusan itu jauh lebih berat daripada tuntutan tim jaksa penuntut umum (JPU) Parada Situmorang cs. Dalam sidang sebelumnya, jaksa menuntut Zuraida dihukum penjara seumur hidup. Tuntutan yang sama diajukan kepada dua eksekutor pembunuh hakim Jamaluddin, yakni M. Jefri Pratama, 42, dan M. Reza Fahlevi, 29. Kemarin hakim memvonis Jefri dengan hukuman penjara seumur hidup. Sedangkan Reza dihukum hanya 20 tahun penjara.

”Kepada penuntut umum dan penasihat hukum terdakwa, kami memberikan tiga kesempatan untuk menanggapi putusan ini dalam waktu tujuh hari. Boleh terima, pikir-pikir, atau banding,” ucap Erintuah.

Seusai sidang, penasihat hukum Zuraida Hanum, Onan Purba, menyatakan menghargai putusan majelis hakim. Namun, dia merasa vonis itu tidak mencerminkan rasa keadilan. ”Jangan karena menerapkan hukum, lalu menimbulkan jerat hukum bagi orang lain. Ya, contohnya, anak mendiang itu kan jadi sama sekali kehilangan orang tuanya. Sisi ini yang tidak dipertimbangkan hakim,” cetusnya. Namun, Onan belum menyatakan banding. Sebab, tim kuasa hukum masih harus berkomunikasi dengan Zuraida.

Kasus pembunuhan tersebut sempat menjadi misteri selama berbulan-bulan. Sebab, tidak ada yang menyangka bahwa pelaku pembunuhan itu adalah istri korban sendiri. Apalagi, saat jasad suaminya ditemukan, Zuraida berakting dengan meyakinkan. Dia berpura-pura menangis hingga harus ditenangkan kerabatnya.

Jamaluddin dan Zuraida menikah pada 2011. Saat itu status Jamaluddin adalah duda cerai. Layaknya pengantin baru, kehidupan di awal pernikahan mereka diliputi kebahagiaan. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Namun, seiring berjalannya waktu, Jamaluddin dan Zuraida sering cekcok.

Setahun sebelum pembunuhan, Zuraida berkenalan dengan M. Jefri Pratama. Perkenalan terjadi karena anak mereka satu sekolah. Karena sering bertemu, mereka akhirnya terlibat jalinan asmara. Zuraida sering berkeluh kesah tentang kehidupan rumah tangganya yang berantakan.

Dalam rekonstruksi 13 Januari lalu, Zuraida mengaku merancang pembunuhan suaminya karena sering diselingkuhi. ”Saya lagi hamil pun, dia bawa perempuan ke rumah. Saya sudah mengadu ke keluarganya, ke kakak-kakak dan adik kandungnya, tapi mereka tidak berdaya apa-apa,” ungkapnya.

Saat reka ulang, ada 15 adegan yang diperagakan. Pada adegan pertama, tersangka Jefri bertemu Zuraida di Everyday Cafe, Jalan Ring Road Medan, awal November 2019. Saat bertemu sekitar pukul 11.00 WIB, Zuraida curhat perihal permasalahan rumah tangganya kepada Jefri.

Zuraida mengaku sempat meminta cerai. Tetapi, sang suami tidak setuju karena malu lantaran profesinya sebagai hakim. Karena itu, Zuraida meminta tolong kepada Jefri untuk membunuh korban. Awalnya Jefri menyarankan untuk bercerai saja.

”Rasanya mau mati saja karena banyak permasalahan yang dihadapi selama bersama dia (korban). Lebih baik dia mati atau saya yang mati,” cetusnya. Akhirnya Jefri setuju membunuh korban. Adegan pertama berakhir dan tersangka Jefri meninggalkan Zuraida.

Pada adegan kedua, Jefri menemui Reza Fahlevi yang juga adik tirinya di warung tempat usahanya, kawasan Jalan Setiabudi Ujung, Medan, 24 November 2019 sekitar pukul 19.00 dengan mengendarai mobil Toyota Calya putih BK 1757 HE. Jefri bertemu Reza dan menceritakan keluh kesah Zuraida. Selanjutnya, Jefri meminta Reza bertemu dengan Zuraida guna menjelaskan permasalahan rumah tangga yang dihadapi.

Berlanjut adegan ketiga, pada 25 November 2019 pukul 11.00, Jefri menghubungi Reza dan menyuruhnya datang ke The Coffee Town, Jalan Ngumban Surbakti, untuk bertemu dengan Zuraida. Zuraida juga meminta Reza datang ke kafe tersebut.

Pada adegan keempat, Zuraida datang bersama Jefri ke The Coffee Town dengan menggunakan mobil Toyota Camry BK 78 ZH. Tak lama (adegan kelima), Reza tiba di kafe itu dan bertemu dengan Jefri serta Zuraida. Saat itu Zuraida kembali curhat tentang rumah tangganya. Dia juga menyampaikan rencana pembunuhan tersebut. Zuraida juga mengatakan ingin menikah dengan Jefri.

Rencana eksekusi pun dimatangkan. Kamis malam, 28 November 2019, Jefri dan Reza tiba di kediaman Zuraida. Mereka dijemput Zuraida dengan mobil Toyota Camry. Di dalam rumah, Jefri dan Reza diajak Zuraida menuju lantai 3. Mereka menunggu kedatangan Jamaluddin. Tak lama kemudian, Jamaluddin datang dan langsung tidur di kamar bersama putrinya.

Sekitar pukul 01.00 Zuraida meminta Jefri dan Reza menuju kamarnya. Dua orang itu melihat Jamaluddin tidur memakai sarung dan tidak memakai baju. Jefri dan Reza membekap wajah Jamaluddin dengan kain. Sedangkan Zuraida menenangkan putrinya yang terbangun. Korban akhirnya meninggal karena kehabisan napas.

Jenazah Jamaluddin kemudian dimasukkan ke dalam mobil Toyota Prado miliknya bernomor polisi BK 77 HD. Lalu dibuang bersama mobilnya yang masih dalam keadaan menyala ke perkebunan sawit di Desa Sukarame, Kutalimbaru, Deli Serdang. (man/c9/oni/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Pandai Besi, Penyelamat Ekonomi Rarang saat Pandemi

EKONOMI Warga Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur tak meredup, meski pandemi Covid-19 masih berlangsung. Keberadaan pandai besi yang ditekuni warga setempat menjadi musababnya.

Desa Medana Buka Destinasi Wisata dengan Protokol Kesehatan Ketat

Dunia pariwisata memang lesu di tengah pandemi. Tapi tidak bagi Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Tiga destinasi wisata di desa ini justru berkibar. Ada jurus jitu membuka destinasi wisata meski pandemi tengah mendera.

51.200 Pekerja NTB Masuk Daftar Penerima Bantuan Tambahan Penghasilan

Perusahaan di NTB harus bertanggungjawab. Mereka harus memastikan pekerja dengan upah di bawah Rp 5 juta mendapatkan bantuan tambahan penghasilan dari pemerintah. Sebab, hingga kemarin, di NTB, belum semua pekerja masuk daftar penerima bantuan.

Waspada Bahaya Klaster Covid 19 Baru di Sekolah

BARU beberapa hari sekolah dibuka, muncul klaster baru. Ketegasan pemerintah diharapkan banyak pihak. Sayangnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melempar tanggungjawab ke pemerintah daerah.

Kantor Layanan Publik Harus Jadi Contoh Pencegahan Covid 19 di NTB

nstansi pelayanan publik, BUMN, dan BUMD harus menjadi contoh penerapan protokol pencegahan Covid-19. ”BUMN dan BUMD berperan penting dalam mendisiplinkan masyarakat melalui budaya kerja dengan protokol kesehatan,” kata Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi, selaku ketua pelaksana harian Gugus Tugas Covid-19 NTB, saat memimpin rapat pembahasan pencegahan Covid-19, Rabu (12/8).

BRI Dorong Loyalitas Nasabah dan Pengembangan UMKM

Acara Panen Hadiah Simpedes BRI kembali digelar untuk masyarat.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bukan Bunuh Diri, Terungkap Mahasiswi Unram Dicekik Lalu Digantung

Misteri kematian mahasiswi Universitas Mataram (Unram), Linda Novitasari yang ditemukan meninggal di rumah BTN Royal Mataram, Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram pada Sabtu (25/7) lalu akhirnya terkuak.

Ayo, Pekerja NTB Setor Nomor Rekening Dapat Bantuan Rp 600 Per Bulan

Para pekerja yang merupakan karyawan swasta di NTB tak boleh ketinggalan. Bagian Sumber Daya Manusia (HRD) di setiap perusahaan di NTB diingatkan agar proaktif menyetorkan rekening karyawan untuk mendapatkan bantuan Rp 600 ribu per bulan dari pemerintah.

Penggali Kubur LNS di Mataram Sakit, Arwah Minta Organ Dikembalikan

Penyidik telah melakukan otopsi terhadap jenazah Linda Novita Sari (LNS) maha siswi unram yang diduga jadi korban pembunuhan. Bagian tubuh LNS diambil dokter forensik untuk proses pemeriksaan.
Enable Notifications.    Ok No thanks