alexametrics
Senin, 28 September 2020
Senin, 28 September 2020

Jelang Panen, Petani Tembakau Virginia di Lombok Timur Kebingungan

SELONG–Memasuki masa panen, para petani tembakau di Lombok Timur mulai kebingungan. Hal ini akibat perusahaan mitra yang tak kunjung membeli tembakau petani.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) NTB Sahminuddin mengatakan, hingga kini baru PT Djarum dan PT Bentoel yang sudah melakukan rapat harga untuk membeli tembakau sesuai standar harga. Sedangkan perusahaan lain belum ada kabarnya.

”Padahal sudah jelas dalam Perda No 4 Tahun 2006 bahwa perusahaan wajib untuk bermitra dengan para petani. Namun hingga kini belum ada gambaran jelas berapa harga yang akan dibeli oleh perusahaan-perusahaan itu,” katanya.

Ia memperkirakan tahun ini luas tanam tembakau Virginia Lombok turun 20-25 persen. Dari 20.250  hektare dengan hasil 40.500 ton, menjadi 15.700 hektare dengan 31.400 ton.

”Yang jelas terbeli sekitar 12.500 ton dari dua perusahaan dengan harga yang sesuai. Sedangkan sisanya masih belum jelas pembelinya,” katanya.

Dijelaskan, biaya produksi saat musim tanam tembakau tahun lalu Rp 65 juta per hektare. Dengan asumsi produksi rata-rata dua ton per hektare maka biaya produksi sekitar Rp 32.500 per kilogram. Harga jual tertinggi tahun 2019 mencapai Rp 45 ribu– Rp 47 ribu per kilogram oleh perusahaan yang konsisten dengan kemitraan dengan petani. Tapi di perusahaan yang tidak melakukan kemitraan, hanya membeli dengan harga tertinggi Rp 25.000 per kilogram.

”Harga ini tentu sangat jauh di bawah biaya produksi. Jangan sampai hal ini terulang kembali ditambah alasan Covid-19,” imbuhnya.

Untuk menghindari terjadinya peristiwa serupa, ia berharap pemprov NTB bisa transparan dalam mengawal perusahaan saat melakukan rapat harga. Juga diharapkan, pemprov dan Pemkab Lotim memberikan pengawasan ketat selama proses transaksi. Diingatkan, Lombok adalah penyuplai Tembakau Kering Indonesia 80-90 persen setiap tahun.

Terpisah, petani Tembakau Rajangan di Desa Perigi, Suela, Lombok Timur justru sedang memanen penjualan. Menurut Darmawan, kepala Desa Perigi, hal ini karena tembakau rajangan bersifat dijual lepas,  alias bukan dengan perusahaan.

”Tembakau Rajangan dijual ke kelontong atau pengusaha asal Masbagik, dengan harga terendah Rp 150 ribu – Rp 200 ribu untuk daun terendah. Termahal di daun terakhir mencapai Rp 1,5 juta per bal atau sekitar 15-17 kilogram ukuran satu meter dengan ketebalan 40 centimeter,” katanya.

Sebagai lokasi penghasil Tembakau Rajangan terbesar di Lombok, Desa Perigi memiliki luas tanam 750 hektare. Seluruh warga juga berprofesi sebagai petani tembakau. ”Alhamdulillah lancar. Karena harga standar untuk perusahaan, tak berlaku bagi tembakau rajangan ini. Sehingga semua warga berpenghasilan meski di tengah Pandemi Covid-19,” jelasnya. (eka/r9)

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Distribusi Bantuan Beras Lelet, Dewan Minta Pemprov NTB Ambil Alih

”Pemda harus secepatnya koordinasi ke pusat, kalau ada kemungkinan ambil alih, take over secepatnya, kasihan masyarakat,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah, Minggu (27/9/2020).

Kantongi Persetujuan Mendagri, Pjs Bupati Boleh Lakukan Mutasi

”Bisa (rombak) tetapi ada kendali di situ yakni rekom KASN. Pejabat definitif saja harus ada rekom KASN,” katanya.

Akhir September, Tren Konsumsi BBM dan LPG di NTB Meningkat

”Jumlah ini meningkat dibandingkan Bulan Mei 2020, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan di berbagai daerah,” kata Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji, Jumat (25/9/2020) lalu.

LEM Hadirkan Baby Crab dan Gelar Plants Exhibition

Kami terus menghadirkan apa pun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Terpenting bisa menghibur mereka selama masa pandemi ini,” imbuh Eva.

Soal Kuota Gratis, Sekolah di Mataram Masih Validasi Data

”Verval ini kita lakukan  secara bertahap juga, setiap hari ada saja yang divalidasi,” jelas Suherman.

Simulasi Pembukaan Sekolah di NTB, Kerumunan Siswa Masih Terjadi

”Kalau di dalam lingkungan sekolah, semuanya tertib, tetapi pada saat pulang, masih ada kita temukan (kerumunan) meski tidak terlalu banyak ya,” ujarnya.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks