alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Bantu Pemerintah Atasi Pandemi, PNS Malaysia Potong Gaji

GAJI pegawai negeri di Malaysia dipotong. Bukan untuk cicilan bayar utang. Melainkan untuk membantu pemerintah menangani pandemi Covid-19. Besaran potongan berbeda-beda, bergantung level jabatannya. Total ada 800 ribu PNS yang berpartisipasi.

’’Sumbangan itu adalah tanda kebersamaan untuk mendukung pemerintah memerangi Covid-19,’’ terang Kepala Sekretariat Negara Malaysia Mohd Zuki Ali seperti dikutip The Straits Times kemarin (1/6). Saat ini kasus penularan di Malaysia lebih dari 570 ribu. Sebanyak 2.796 orang meninggal dunia.

Khusus untuk menteri dan wakil menteri, gaji mereka dipotong sepenuhnya, tapi tunjangannya tetap diberikan. Mereka yang berada di kategori level A diminta menyumbangkan 50 persen gajinya. Kelompok level 29– 41 dipotong MYR 10 atau setara Rp 35 ribu. Level 44–56 dipangkas 5 persen. Pemotongan itu dimulai Juni– Agustus.

Gaji perdana menteri (PM) berkisar MYR 23 ribu (Rp 79,5 juta), wakil PM sekitar MYR 18 ribu (Rp 62,3 juta), dan menteri kabinet MYR 15 ribu (Rp 51,8 juta) per bulan. Jumlah itu tidak termasuk tunjangan bulanan. Diperkirakan, terkumpul MYR 30 juta atau setara dengan Rp 103,8 miliar dari program pemangkasan gaji tersebut.

Sehari sebelumnya, PM Muhyiddin Yassin memaparkan, pemerintahannya meluncurkan paket stimulus ekonomi baru senilai MYR 40 miliar atau setara Rp 138,3 triliun. Bantuan yang dinamai Program Strategis untuk Memberdayakan Rakyat dan Ekonomi (Pemerkasa) Plus itu diharapkan bisa mengurangi dampak lockdown total yang dimulai kemarin hingga 14 Juni.

Rencananya, anggaran itu dipakai untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur di ICU, peralatan perawatan pasien Covid-19, dan bantuan untuk mendukung bisnis serta rakyat. Ada alokasi anggaran MYR 2,1 miliar (Rp 7,3 triliun) bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari MYR 5 ribu (Rp 17,3 juta) per bulan. Ada pula bantuan tunai. Alokasinya untuk 17 ribu pemandu wisata, 40 ribu sopir taksi, 11 ribu sopir bus sekolah, 4 ribu sopir bus ekspres, dan 62 ribu sopir e-hailing.

Terpisah, PBB memberikan label atau nama untuk varian virus SARS-CoV-2 yang tersebar saat ini. Penulisannya menggunakan huruf Yunani. Varian dari Inggris diberi nama Alfa, Beta untuk varian Afrika Selatan (Afsel), dan dari India dilabeli Delta. Alasan pemberian nama itu adalah untuk menyederhanakan dalam diskusi. Selain itu, menghilangkan beberapa stigma. Negara-negara asal kali pertama varian tersebut muncul merasa tersudutkan.

Misalnya, India. Mereka tidak terima ketika jenis virus B.1.617.2 disebut sebagai varian India. WHO tidak pernah secara resmi menamainya sebagai varian India, tapi narasi itu dipakai oleh berbagai petinggi dan politisi untuk menunjukkan asal-muasalnya.

’’Tidak ada negara yang harus distigmatisasi karena mendeteksi dan melaporkan varian (Covid-19, Red),’’ cuit Pemimpin Teknis Covid-19 WHO Maria van Kerkhove di akun Twitter-nya. Dia menyerukan agar ada pengawasan ketat terhadap berbagai varian dan data ilmiah guna membantu menghentikan persebaran.

Pandemi memang masih jauh dari kata berakhir. Di beberapa negara, situasinya justru memburuk. Peru salah satunya. Berdasar data Johns Hopkins University, ia menjadi negara dengan angka kematian per kapita tertinggi di dunia akibat Covid-19. Penduduk yang meninggal akibat pandemi lebih dari 180 ribu nyawa. Padahal, total populasinya hanya 33 juta orang. Artinya, terdapat 500 kematian per 100 ribu orang. (sha/c6/bay/JPG/r6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks