alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Termasuk di NTB, Varian Baru Virus Korona Terdeteksi di Semua Pulau

JAKARTA-Wajib waspada. Varian baru mutasi Covid-19 yang dinilai lebih menular rupanya kini sudah terdeteksi nyaris di seluruh pulau di Indonesia. Paling banyak temuan varian baru Covid-19 ini terdeteksi di Pulau Jawa.

“Berdasar data whole genome sequencing (WGS) per tanggal 30 Mei 2021. Saat ini varian mutasi virus Covid-19 telah terdeteksi di hampir semua pulau di Indonesia,” kata Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, kemarin (1/6).

Wiku menegaskan, varian baru tersebut terdiri dari berbagai varian of concern (VOC). Dan umumnya paling banyak telah menyebar di pulau Jawa. Sementara tidak dirinci, penyebarannya di pulau-pulau utama lainnya, termasuk di Lombok dan Sumbawa.

Varian baru Covid-19 ini sendiri mulai terdeteksi di Indonesia akhir April. Dan pada 4 Mei 2021, varian baru ini sudah ditemukan di provinsi tetangga NTB yakni di Bali. Saat itu, Terdeteksinya varian baru Covid-19 di Bali diumumkan dengan ditemukannya varian baru dari India di Jakarta yakni mutasi Covid-19 varian B1617. Sementara di Bali ditemukan kasus Covid-19 varian B1351 dari Afrika Selatan.

Varian B1617 dan varian 1351 dari Afrika Selatan saat ini merupakan varian Covid-19 yang menjadi perhatian khusus World Health Organization (WHO) karena memiliki tingkat penularan yang relatif lebih tinggi.

Varian tersebut terdeteksi dari hasil Whole Genome Sequencing (WGS). Spesimen tersebut berasal dari dua Warga Negara Asing (WNA) India dan Warga Negara Indonesia (WNA) yang terdeteksi positif Covid-19.

Dalam perkembangannya, hingga 24 Mei 2021, Kemenkes mengumumkan total sudah ada 54 varian baru mutasi Covid-19 di Indonesia. Dan kini, sepekan setelah itu, varian baru ini dikonfirmasi telah terdeteksi nyaris di seluruh pulau Indonesia.

 

PPKM Mikro

Di sisi lain, pemerintah mulai memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarkat (PPKM) Mikro di seluruh Provinsi terhitung sejak tanggal 31 Mei 2021 termasuk di NTB. PPKM Mikro ini akan berlangsung selama dua pekan ke depan hingga 14 Juni.

Wiku Adisasmito mengungkapkan, pemberlakukan PPKM ini berdasarkan instruksi Mendagri Nomor 12 tahun 2021 yang telah dirilis. Isinya adalah amanat pada Pemerintah Daerah untuk melakuka PPKM Kabupaten/Kota dan Mikro bagi seluruh provinsi di Indonesia.

Beberapa provinsi yang baru dalam pemberlakukan PPKM mikro meliputi Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Barat. ”Dengan adanya kebijakan ini daerah yang sudah lama menerapkan PPKM maupun yang baru dapat lebih optimal dalam mengendalikan kasus Covid-19,” jelas Wiku kemarin (1/6).

Wiku menjelaskan, kenaikan kasus yang terjadi pada rentang waktu 2 minggu pasca periode Idul Fitri tahun 2021 mirip dengan yang terjadi pada Idul Fitri tahun 2020 meskipun jumlahnya masih di bawah tahun 2020.

Pasca Idul Ftiri tahun 2020 lalu, Indonesia mengalami kenaikan kasus positif mingguan hingga 65,5 persen.  Sementara pada  tahun 2021 kenaikan kasus positif tercatat 56,6 persen pada rentang waktu yang sama.

Sementara untuk kasus kematian, malah terjadi penurunan prosentase kenaikan kasus. Pasca Idul Fitri tahun 2020 terjadi kenaikan angka kematian hingga 66,34 persen.  Sementara pada tahun 2021, terjadi penurunan kematian 3,52 persen  pada rentang waktu yang sama.

Provinsi Jawa Tengah mencatatkan diri sebagai provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi nasional pada periode pasca Idul Fitri baik tahun 2020 maupun tahun 2021. Pada tahun 2020, Jateng mengalami kenaikan kasus tertinggi hingga 368 persen. Disusul Sulsel yang naik 280 persen, Kalsel naik 99 persen. Jatim naik 45 persen. Serta DKI Jakarta yang naik 33,2 persen.

Sementara pada tahun 2020, Jawa Tengah masih tertinggi dengan tingkat kenaikan lebih rendah. Yakni 103,2 persen. Disusul Kepri 103 persen. Riau 69 persen. DKI Jakrta 49,5 persen. serta Jabar 25 persen. “Kenaikan kasus positif maupun kematian tidak setinggi tahun 2020 lalu,” kata Wiku.

 

Daerah Harus Bersiap

Sementara itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa saat ini jumlah kasus aktif telah kembali menyentuh angka 100 ribuan orang. Padahal beberapa bulan belakangan, kasus aktif turun drastis hingga pernah menyentuh angka 90 ribu saja. Namun kata Budi, angka ini masih jauh di bawah puncak beban kasus aktif pada Februari lalu yang pernah mencapai 170 ribu orang.

Budi menyebut, dari pengalaman kondisi kasus pasca libur panjang yang sudah-sudah, kenaikan kasus akan sampai puncaknya sekitar 5 sampai 7 minggu. ”Jadi kemungkinan kenaikan kasus ini  diperkirakan akan sampai puncaknya di akhir bulan ini (Juni,Red),” jelas Budi.

Untuk saat ini, Budi menghimbau kepada seluruh kepala daerah untuk menyiapkan pelayanan rumah sakit. Saat ini, Indonesia memiliki total 72 ribu tempat tidur. Budi menyebut pernah berkurang keterisiannya (BOR) hingga titik terendah 20 ribuan.

Namun laporan terbaru menunjukkan keterisian terus naik. ”Saat ini terisi 25 ribu tempat tidur. Jadi peningkatan keterisiannya 20 sampai 25 persen. Memang kenaikannya agak tinggi, tapi masih ada cukup kapasitas yang kita miliki,” jelasnya.

Beberapa kabupaten/kota kata Budi tidak merata tingkat keterisiannya. Ada beberapa kab/kota yang tinggi BOR-nya seperti Aceh, sebagian Sumbar, Kepri, Riau serta Jambi. Sebagian Jawa Tengah, Kalbar dan sedikit di Sulawesi.

Budi khusus memberikan perhatian pada Kudus yang mengalami peningkatan kasus yang cukup tinggi. Baik dari sisi kasus konfirmasi maupun yang dirawat di RS. Kemenkes sudah memeberikan pendampingan pada daerah dan mendistribusikan pasien ke daerah-daerah terdekat Kudus termasuk ke Ibukota Provinsi di Semarang.

“Kita koordinasi terus dengan pak Gubernur (Ganjar Pranowo,Red). Pasien kita arahakn ke RS-RS lain sekitar kudus. Diterapkan juga micro lockdown. Kamu juga sudah minta untuk dilakukan whole genome sequencing (WGS) untuk mengetahui apakan kenaikan kasus ini karena mutasi virus,” jelasnya.

Budi menambahkan, saat ini Indonesia sudah mencapai 27 juta total vaksinasi. Kecepatan penyuntikan juga sudah kembali pada 500 ribu suntikan per hari. Saat ini ia menyebut juga tersedia stok sampai 20 juta dosis vaksin . Jika dibagi 30 hari, maka bisa disuntikkan 500 sampai 650 ribu dosis per hari.

Budi meminta pada kepala-kepala daerah untuk mempercepatn program vaksinasinya dan memprioritaskan lansia. “Karena yang banyak masuk RS dan wafat itu lansia. Jadi harus dipercepat vaksinasi ke lansia agar yang dirawat dan yang wafat berkurang,” jelasnya.

 

Vaksinasi Jamaah Haji

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas merespon kebijakan Arab Saudi yang hanya menerima empat jenis jamaah haji untuk jamaah haji. Keempat vaksin Covid-19 yang diterima oleh Saudi adalah Pfizer, Oxford AstraZeneca, Johnson & Johnson, dan Moderna.

Kebijakan Arab Saudi tersebut tentu kontras dengan kondisi calon jamaah haji di Indonesia. Seperti diketahui hampir seluruh calon jamaah haji Indonesia disuntik vaksin Covid-19 merek Sinovac. Maka dengan merujuk ketentuan Saudi tersebut, calon jamaah haji Indonesia tetap tidak bisa masuk Arab Saudi.

Terkait kondisi tersebut Yaqut mengatakan sudah koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). ’’Dari isu ini, kami sudah merespon. Kami usahakan mendapatkan salah satu dari empat vaksin itu,’’ katanya.

Yaqut mengatakan yang sedang diusahakan saat ini adalah vaksin Johnson & Johnson. Ada sejumlah keunggulan vaksin ini untuk diterapkan ke calon jamaah haji. Yaitu cukup sekali suntik. Berbeda dengan vaksin Sinovac yang harus dua kali suntikan. Yaqut mengatakan sudah ada komitmen mendapatkan vaksin Johnson & Johnson untuk calon jamaah haji. Tetapi semua ini dengan catatan jika Indonesia mendapatkan kuota haji 2021.

Seperti diketahui calon jamaah haji Indonesia mayoritas berusia lanjut (lansia). Sementara itu masih banyak lansia di Indonesia yang belum menerima suntikan avksin Covid-19.

Guru besar Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama memberikan sejumlah saran kesehatan untuk lansia yang belum menerima vaksinasi Covid-19. ’’Seperti juga saya lakukan karena sudah berusia 66 tahun,’’ katanya.

Sarannya adalah lansia harus mengetahui bagaimana keadaan kesehatannya. Termasuk apakah ada penyakit atau gangguan kesehatan tertentu. Kemudian perlu cek kesehatan secara berkala. Lalu selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat. Kemudian menjaga makan yang bergizi, olahraga teratur, istirahat cukup, dan perlu mengelola stres.

’’Kalau diberi obat untuk dimakan rutin, maka harus dikonsumsi secara disiplin,’’ jelasnya. Sehubungan dengan kasus Covid-19 yang masih tinggi di Indonesia, dia menuturkan para lansia memang sebaiknya segera divaksin. Ketika muncul keluhan setelah vaksinasi seperti demam dan batuk, harus segera cek ke fasilitas layanan kesehatan. (tau/wan/JPG/r6)

 

Varian Baru Covid-19 di Nusantara

Pemerintah mengumumkan bahwa varian baru mutasi Covid-19 kini sudah terdeteksi di nyaris seluruh pulau di Indonesia. Sejauh ini yang sudah diungkap ke publik oleh Kementerian Kesehatan ada 54 kasus. Sebanyak 35 kasus di antaranya melibatkan orang yang sudah melakukan perjalanan ke luar negeri. Sementara 16 kasus lainnya terdeteksi pada mereka tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri.

 

VARIAN B.1.1.7

  • Pertama kali terdeteksi di Inggris
  • Sudah 18 kasus ditemukan di Indonesia

 

VARIAN MUTASI GANDA B.1.617

  • Pertama kali terdeteksi di India
  • Sudah 32 kasus ditemukan di Indonesia

 

VARIAN B.1.351

  • Pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan
  • Sudah 4 kasus ditemukan di Indonesia

Sumber: Kemenkes

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks