alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Tangani Korona, Janji Insentif Untuk Tenaga Medis di NTB Tak Kunjung Cair

MATARAM-Dana insentif tenaga medis yang diusulkan ke Kementerian Kesehatan tidak kunjung cair.

”Kami sudah mengusulkan, sekarang masih menunggu pencairan,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, Kamis (2/7).

Total dana insentif yang diajukan sekitar Rp 6 miliar periode Maret, April, dan Mei. Itu untuk 500 tenaga medis yang bekerja menangani Covid-19 di RSUD NTB, RS Manambai Abdulkadir-Sumbawa, RSJ Mutiara Sukma, dan RS Darurat Covid-19.

Usulan itu di luar insentif tenaga medis kabupaten/kota. ”Kami tidak tahu persis jumlah keseluruhan karena mereka langsung mengajukan sendiri ke pusat,” jelasnya.

Pemprov berharap dana insentif tersebut segera dicairkan agar penanganan Covid-19 di daerah lebih maksimal. ”Dana ini menjadi harapan bagi semua tenaga kesehatan,” ujarnya.

Nilai insentif yang diterima masing-masing tenaga medis tidak sama, tergantung beban berja. ”Maksimal mereka mendapatkan Rp 5 juta, kalau beban kerjanya sedikit dapatnya juga di bawah itu,” jelas Eka.

Pemprov, kata Eka, terus berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan agar insentif tersebut segera diberikan. Terlebih tenaga medis saat ini masih berjuang menangani pasien Covid-19. Belum pasti sampai kapan.

Di sisi lain, pemerintah pusat memberikan insentif hanya untuk tiga bulan, Maret sampai Mei. Setelah itu belum ada kepastian ada insentif lagi atau tidak. ”Kita harus menunggu lagi,” katanya.

Eka berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, kasus positif terus berkurang sehingga beban biaya dan tenaga kesehatan juga berkurang. Biaya penanganan tidak murah. Satu orang pasien bisa menghabiskan Rp 146 juta.

 

Ngutang ke Rumah Sakit

 

Untungnya klaim biaya penanganan Covid-19 ke Kementerian Kesehatan sudah mulai cair, meski baru sebagian. Misalnya klaim pelayanan RSUD NTB baru dibayar bulan Januari, Februari, dan awal Maret.

”Tapi (klaim) yang  rawat jalan ditolak, jadi yang dibayar hanya rawat inap saja,” jelasnya.

Selain itu, beberapa rumah sakit yang menangani Covid-19 juga belum dibayar utuh. Mereka hanya diberikan uang muka, termasuk rumah sakit swasta  yang ikut menangani Covid-19. ”Mereka sudah mengajukan tetapi baru diberi uang muka sebagai modal kerja,” katanya.

Hingga 2 Juli, total kasus positif Covid-19 di NTB 1.283 orang, dengan perincian 861 orang sudah sembuh, 65 meninggal dunia, serta 357 orang masih dirawat.

Kemarin tambahan kasus baru 23 orang dan sembuh 25 orang. Sebagian besar kasus baru dari Mataram. Namun beberapa kasus baru berasal dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, Sumbawa, dan Kota Bima. Kota Bima masih zona hijau karena warga yang positif berada di Mataram.

Eka mengharapkan, warga tidak kembali lengah dan menganggap remeh Covid-19. Memang banyak pasien tanpa gejala dan tampak sehat, tapi virus tersebut tetap berbahaya. ”Sudah ada yang  menjadi yatim piatu karena penyakit ini,” katanya.

Beberapa waktu lalu, pasangan suami istri penderita Covid-19 meninggal dunia. Sehingga dua orang anaknya kini menjadi yatim piatu. ”Meski anaknya sudah dewasa tetapi kehilangan bapak dan ibu dalam waktu seminggu cukup menyedihkan,” katanya.

Pemprov belum mau membeberkan identitas keluarga itu sebab mereka masih berduka. ”Itulah, supaya kita tetap wasapada,” katanya.

Dalam kasus tersebut sang ibu tidak pernah keluar ke mana-mana karena sedang sakit, namun banyak orang datang menjenguk, salah satunya orang tanpa gejala (OTG). ”Dia sudah lansia terkena Covid-19 dan meninggal karena disertai komorbid,” katanya.

 

Disayangkan Dewan

 

Sementara itu, Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah sangat menyesalkan belum cairnya dana insentif tenaga medis. ”Harus segera diberikan dong, itu sangat penting agar mereka tetap semangat bekerja,” katanya.

Pemberian insentif bukan berarti mereka bekerja mengharapkan imbal jasa, tapi insentif menunjukkan penghargaan terhadap jasa mereka. Risiko yang dihadapi tenaga medis tidak ringan. ”Pemprov harus gedor terus pemeritah pusat,” ujarnya.

Lebih lanjut, politisi PKB ini menantang pemprov membuat terobosan untuk bisa menekan penularan Covid-19 dengan cepat. Pemerintah tidak bisa menghadapi situasi ini dengan cara yang biasa. ”Perlu ada lompatan agar masalah ini cepat selesai,” ujarnya.

TGH Hazmi Hamzar, anggota komisi V lainnya juga menyesalkan pencairan dana penanganan Covid-19 dari pusat seret. ”Pantas ditegur sama presiden,” katanya.

Meski demikian, ia meminta penanganan Covid-19 tidak boleh kendor. Semangat para tenaga medis perlu dijaga agar bisa melayani dengan maksimal.

Menurutnya, hal yang tidak kalah penting saat ini sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya Covid-19. Ia menilai, akhir-akhir ini, warga kembali meremehkan bahaya Korona.

Beberapa pasien Covid-19 sembuh kini justru bercerita  bahwa mereka sebenarnya baik-baik saja. Selama perawatan mereka diberi makan enak dan bergizi, seolah-olah tidak ada penyakit sama sekali. ”Katanya dia malah ingin ajak istrinya masuk agar bisa makan enak,” tutur Azmi.

Dampak buruknya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam menangani Covid-19 hilang. Seolah-olah Covid-19 hanya barang yang sengaja dibuat-buat. ”Harusnya mereka yang sudah sembuh dijadikan duta untuk sosialisasi melawan Covid-19,” sarannya. (ili/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks