alexametrics
Rabu, 30 November 2022
Rabu, 30 November 2022

Kematian demi Kematian pada Dini Hari Itu

Oleh:

Bagus Putra Pamungkas

(Wartawan Jawa Pos yang meliput laga Arema FC versus Persebaya)

 

TIBA-TIBA saja, booom! Gas air mata meletup. Seingat saya, itu diarahkan ke gate 10 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Disusul tembakan menuju gate 7 dan 12. Asapnya mengepul. Saya langsung setengah berlari menuju ruang pers.

Laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya yang dimenangi tim tamu 2-3 baru berakhir. Jumpa pers rutin seusai laga akan diadakan di ruangan tersebut.

Saya berdiri di dekat meja. Dari jauh, pelatih Persebaya Aji Santoso sudah tampak. Dia berjalan bersama salah seorang pemainnya, Marselino Ferdinan. Tapi, mendadak ada teriakan dari belakang, ’’Ayo semua balik ke Surabaya sekarang.’’

Aji dan Marselino balik kanan. Mereka menuju kendaraan taktis milik pihak keamanan. Sesi konferensi pers dari Persebaya pun batal.

Hanya pelatih Arema FC Javier Roca yang akhirnya datang ke ruang pers, ditemani Dedik Setiawan. Tapi, itu pun hanya sebentar dan tampak terburu-buru.

Di ruangan yang sama, saya dan sejumlah jurnalis bertahan. Ada tenggat yang menunggu saya. Tapi, tiga pria merangsek masuk. ’’Medis-medis. Iki wes ape mati (Ini sudah mau meninggal)!’’ teriak mereka.

Tiga pria itu membopong rekannya. Pria berbaju putih yang dibopong tersebut tergeletak tak sadarkan diri. Para jurnalis yang ada di ruang pers langsung membantu. Ada yang mengecek detak jantung, ada pula yang memegang urat nadi. Masih ada denyutnya, tapi tipis.

Kardus air mineral pun segera disobek, dijadikan kipas. Semua wartawan mengipasi pria itu. Termasuk saya. Tekanan ke dada juga sudah diberikan, juga napas buatan. Tapi, muka pria tersebut malah membiru. Tangisan teman-temannya langsung pecah. Kawan mereka pergi untuk selama-lamanya.

Saya langsung lemas. Bagaimana caranya bisa kembali menulis berita dalam kondisi jenazah ada di samping saya?

Di sebelah ruang pers, ada suara pria yang tak kalah histeris. Pria bertato itu mengutuki dirinya sendiri.

’’Iki salahku. Laopo awakmu melu aku nang stadion (Ini salahku. Kenapa kamu ikut aku ke stadion)?’’

Baca Juga :  Warga Diminta Taat Prokes, Gubernur NTB Malah Berkerumun Lepas Masker

Pria itu berteriak tepat di depan jenazah temannya. Menangis sambil memukuli dadanya. Saya mbrebes mili. Tapi, saya berusaha kuat. Kemudian melanjutkan tugas menulis berita.

Setelah selesai, saya dan jurnalis lain mencoba keluar dari ruang pers. Kami kembali masuk ke lapangan, mencari jalan keluar.

Tapi, di sana suasana tidak kalah mencekam. Ada dua mobil polisi K-9 yang terbakar. Beberapa suporter juga mendapat pertolongan medis.

Tenaga medis yang minim membuat polisi dan tentara ikut membantu. Manajer Arema FC Ali Rifky juga wira-wiri. Kami sebenarnya saling mengenal, tapi dalam kondisi setegang itu, sudah tidak ada waktu untuk saling sapa.

Saya kemudian memilih menunggu di dekat tribun VIP. Memastikan kalau keluar stadion, kondisi sudah aman.

Tiba-tiba seorang ibu paro baya datang. Dia tidak beralas kaki. Memakai daster cokelat. Bawahannya digulung ke atas. Kemudian berlari kencang ke arah lapangan. Dia melewati saya dengan air mata bercucuran.

’’Ya Allah, anakku gak onok (Ya Allah, anakku meninggal),” teriaknya.

Tidak ada yang lebih menyayat hati selain tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dan, itu terjadi di depan mata saya.

Kematian demi kematian saya saksikan dari jarak yang sangat dekat pada Sabtu (1/10) tengah malam lalu yang hendak beranjak ke Minggu (2/10) dini hari itu. Saya juga melihat sejumlah jenazah yang dikumpulkan. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali mata saya basah.

Tepat pukul 01.00 WIB, kami akhirnya bisa keluar lapangan dan langsung menuju parkiran mobil. Tapi, tetap tidak bisa langsung pulang.

Ada salah satu mobil polisi yang baru saja dibakar. Tepat di tikungan menuju jalan keluar. Asapnya masih mengepul. Kami memutuskan menunggu situasi kondusif. Di situ, saya melihat truk pihak keamanan yang dipakai untuk membawa para korban.

Satu jam berselang, situasi mulai kondusif. Kami keluar stadion pukul 02.00. Di sepanjang jalan, mobil yang saya tumpangi selalu berpapasan dengan ambulans.

Baca Juga :  BRI Sampaikan Belasungkawa Kepada Korban Insiden di Stadion Kanjuruhan

Saya tidak menyangka bakal melihat langsung bencana yang lebih buruk dari Tragedi Hillsborough pada 1989 yang menewaskan 96 suporter Liverpool dan Tragedi Heysel empat tahun sebelumnya yang memakan korban 39 nyawa pendukung Juventus. Saya cuma punya satu pertanyaan: siapa yang akan bertanggung jawab untuk semua kepiluan ini?

 

Perjuangan Keponakan

 

Dimas baru tahu bahwa tiga keponakannya mungkin menjadi korban tragedi Kanjuruhan, Kabupaten Malang, setiba di rumah. Ayah Astrid, salah seorang keponakannya, memberi tahu bahwa Astrid belum pulang.

Begitu pula dua keponakan Dimas lainnya, Haikal dan Irsyad. Menurut dia, tiga keponakannya itu tinggal bersama di rumah sang nenek yang tidak jauh dari rumahnya di Mergosono, Kedungkandang, Kota Malang, tersebut.

Astrid masih kelas XI SMKN. Adapun Irsyad dan Haikal masih duduk di bangku SMP. Orang tua Irsyad menetap di Tulungagung, sedangkan orang tua Haikal di Jombang. ”Mereka nggak bareng sama saya berangkatnya ke Stadion Kanjuruhan untuk nonton Arema FC melawan Persebaya Surabaya,” kata Dimas.

Dimas sebenarnya jarang menonton langsung pertandingan di stadion. Namun, dia mengaku terus didesak temannya untuk ikut. Dia menyebut tiga keponakannya selama ini juga tidak terlalu fanatik. ”Bisa jadi karena pertandingan derbi Jatim, jadi akhirnya datang ke stadion,” ungkapnya.

Bersama ayahanda Astrid, Dimas berinisiatif mencari titik terang ke rumah sakit (RS) di sekitar stadion. Upaya itu membuahkan hasil di RS Wava Husada Kepanjen. Namun, yang didapati tidak sesuai harapan. Astrid ditemukan dalam kondisi meninggal. ”Di ruang perawatan tidak ada, ternyata di kamar jenazah,” ucapnya lirih.

Tetapi, di RS tersebut dua keponakannya yang lain tidak ada. Dimas kemudian mencari ke RS Teja Husada yang berdekatan dengan RS Wava. ”Mereka juga kami temukan sudah meninggal di sana,” katanya.

Dimas tidak mendapat penjelasan faktor yang membuat ketiga keponakannya meninggal. Dia menduga mereka tidak hanya kekurangan oksigen, tapi juga terinjak-injak. ”Banyak lebam di wajah dan tubuh mereka,” ungkapnya. (edi/c9/ttg/JPG/r6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks
/