alexametrics
Minggu, 19 September 2021
Minggu, 19 September 2021

Jangan Sakit Dulu, Stok Oksigen Medis NTB Kritis

MATARAM-Mengkhawatirkan! Stok oksigen NTB kini dalam kondisi sangat kritis. Peningkatan bed occupancy rate (BOR) berimbas pada melonjaknya kebutuhan oksigen medis di rumah sakit. Sejumlah daerah bahkan hanya memiliki ketersediaan oksigen medis yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu hari. Tak ada jalan lain. Rumah sakit pun kini sudah ada yang memilih menunda operasi pasien yang terjadwal.

”Kita sudah minta ke pemerintah pusat supaya kuota isotank oksigen bisa ditambah untuk NTB. Itu yang masih dicarikan pusat,” kata Ketua Satgas Pengendalian Ketersediaan Oksigen, Obat, dan Perbekalan Kesehatan NTB Ridwan Syah, kemarin.

Pekan lalu, memang sudah ada satu isotank berisi bahan baku sekitar 19 ton oksigen medis tiba di NTB. Namun, akibat kebutuhan oksigen lebih besar dari ketersediaan, stok 19 ton itu pun tak bisa bertahan lama.

Ridwan mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 membuat stok oksigen medis menipis. Terpaksa harus melakukan skala prioritas. Salah satunya menunda operasi yang risikonya rendah. Bukan membatalkan apalagi sampai meniadakan operasi untuk kondisi kedaruratan.

”Yang tidak bisa ditunda, seperti Cyto, itu tetap dilaksanakan,” ungkap Ridwan menirukan penjelasan dari Direktur RSUD Praya.

Kata Ridwan, oksigen saat ini menjadi barang langka. Stok oksigen medis bagi rumah sakit di NTB sangat bergantung pada ketersediaan di Pulau Jawa. Di waktu bersamaan, kondisi Pulau Jawa tak lebih baik dari NTB. Kasus Covid-19 juga meledak lebih tinggi di sana. Membuat kebutuhan oksigen semakin tinggi di Pulau Jawa.

”Jawa, Sumatera, kebutuhan meningkat. Tangkinya ada, tapi oksigen terbatas. Kita sangat bergantung pada produsen dari Jawa,” ujarnya.

Untuk menyiasati kekurangan oksigen, Kementerian Kesehatan telah memberi bantuan alat oksigen konsentrator. Sudah ada 50 alat yang disebar ke sejumlah rumah sakit di NTB. Alat yang bisa mengonversi udara menjadi oksigen medis. Mengatasi kebutuhan oksigen bagi pasien kategori ringan di IGD.

Ridwan meyakinkan, seluruh pihak yang tergabung dalam satgas terus bekerja keras mengendalikan kebutuhan oksigen di NTB. Memastikan ketersediaan hingga pola distribusinya.

Masyarakat diharapkan juga tidak panik. Ia meminta masyarakat ikut membantu pemerintah mengurangi pemakaian oksigen di rumah sakit. Caranya menjalankan secara disiplin protokol kesehatan agar tidak terpapar Covid-19.

”Patuhi prokes. Kita tekan jumlah penderita dari sana, agar kebutuhan oksigen tidak semakin meningkat,” imbaunya.

Satgas telah memetakan kebutuhan oksigenasi di NTB, per 2 Agustus hingga pukul 13.00 Wita. Kota Mataram memiliki ketersediaan 6.887 meter kubik oksigen dengan estimasi habis dalam waktu 21 jam; Lombok Barat tersisa 406 meter kubik oksigen, estimasi kurang dari 24 jam; Lombok Utara 70 meter kubik sekitar 21 jam.

Lombok Tengah 2.166 meter kubik, estimasi habis 24 jam; Lombok Timur 5.825 meter kubik, bisa hingga lebih dari tiga hari; Sumbawa Barat 277 meter kubik, diperkirakan habis satu hari; Sumbawa 497 meter kubik, habis dalam 21 jam.

Kemudian Dompu ada 4,9 meter kubik, dengan perkiraan habis kurang dari 36 jam; Kabupaten Bima 885 meter kubik, estimasi satu hari; dan Kota Bima sudah kosong persediaan.

Selain itu, jumlah oksigen cair untuk wilayah NTB ketersediaannya sekitar 10.586 meter kubik, cukup untuk 20 jam; tabung kecil tersedia 181 meter kubik untuk 53,63 jam; tabung sedang 50 meter kubik untuk 4,8 jam; tabung besar 6.684 meter kubik untuk 27,91 jam.

Asisten III Setda NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, ketersediaan oksigen dan pemakaiannya sangat bergantung pada jumlah pasien di rumah sakit. Sehingga sulit mengukur stok oksigen saat ini, bisa digunakan untuk berapa lama.

”Kita tidak tahu perkembangan pasien seperti apa. Kalau naik terus, tentu kebutuhan ikut naik,” kata Eka.

Kepala Dinas Kesehatan NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, satgas tetap berusaha memperkecil gap antara demand dan supply oksigen. Caranya dengan mengefisiensi pemakaian di rumah sakit besar.

”Yang dilakukan RSUD Praya itu strategi efisiensi. Tapi, kasus Cyto atau emergensi tetap diprioritaskan,” katanya.

Senada dengan Ridwan, Fikri mengajak masyarakat tetap disiplin menerapkan prokes. Sehingga meminimalisasi terpapar covid. ”Mencegah lebih baik dari mengobati. Preventif lebih baik daripada kuratif,” tandas Fikri.(dit/r6)

 

Stok Oksigen NTB

KOTA MATARAM

  • Tersisa 887 meter kubik
  • Estimasi habis 21 jam

LOMBOK BARAT

  • Tersisa 406 meter kubik
  • Estimasi habis kurang dari 24 jam

LOMBOK UTARA

  • Tersisa 70 meter kubik
  • Estimasi habis 21 jam

LOMBOK TENGAH

  • Tersisa 166 meter kubik
  • Estimasi habis 24 jam

LOMBOK TIMUR

  • Tersisa 825 meter kubik
  • Bisa hingga lebih dari tiga hari

SUMBAWA BARAT

  • Tersisa 277 meter kubik
  • Estimasi habis satu hari

SUMBAWA

  • Tersisa 497 meter kubik
  • Estimasi habis dalam 21 jam

DOMPU

  • Tersisa 4,9 meter kubik
  • Estimasi habis kurang dari 36 jam

KABUPATEN BIMA

  • Tersisa 885 meter kubik
  • Estimasi habis satu hari

KOTA BIMA

  • Sudah kosong persediaan.

 

Ketersediaan Oksigen Cair

  • Total ketersediaannya sekitar 586 meter kubik
  • Hanya cukup untuk 20 jam

TABUNG KECIL

  • Tersisa 181 meter kubik
  • Cukup untuk 53,63 jam

TABUNG SEDANG

  • Tersisa 50 meter kubik
  • Hanya untuk 4,8 jam

TABUNG BESAR

  • Tersisa 684 meter kubik
  • Untuk 27,91 jam

Sumber: Pemprov NTB

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks