alexametrics
Kamis, 4 Juni 2020
Kamis, 4 Juni 2020

Innalillahi, Wabah Korona Renggut Nyawa 25 Dokter di Indonesia

JAKARTA–Wabah Covid-19 di Indonesia sudah merenggut nyawa para pejuang kesehatan. Para tenaga medis baik dokter maupun perawat yang berada di garda terdepan harus kehilangan nyawa. Data para dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sedikitnya sudah ada sekitar 25 dokter yang wafat.

Umumnya, mereka bukanlah dokter yang langsung menangani pasien Covid-19 di ruang isolasi. Tapi para dokter pelayanan (front liners) yang membuka praktik pribadi atau melayani pasien umum.

Misalnya ada Dokter Spesialis THT, Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Gigi, dan dokter umum. Mereka tentu tak langsung menangani pasien Covid-19 di ruang isolasi tapi bertemu pasien secara tak sengaja di ruang praktik mereka yang ternyata sudah tertular Covid-19. Baik tanpa gejala maupun dengan gejala tapi tak disadari.

Kondisi ini dinilai oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB sebagai situasi yang terlambat. Sesama rekan sejawat, ia melihat, Indonesia terlambat mengantisipasi virus ini saat sudah masuk ke tanah air.

“Memang Indonesia termasuk terlambat. Saya juga enggak mau salahkan para dokter. Kalau kami dan saya pribadi sejak awal muncul kasus itu di Wuhan, Tiongkok, sudah menggelar berbagai seminar edukasi sejak Januari dan sudah mengantisipasi praktik dengan segala Alat Pelindung Diri (APD) dasar. Tapi kan memang banyak pasien saat ini yang tanpa gejala atau Orang Tanpa Gejala (OTG)” kata dr. Ari kepada JawaPos.com, baru-baru ini.

Kenapa bisa dikatakan terlambat? dr. Ari mengungkapkan, sejak Januari-Februari, Covid-19 selalu diumumkan hasilnya negatif di Indonesia. Karena itu,  Sense of crisis dan awareness akan Covid-19 itu kurang. Padahal bisa saja virus itu sudah masuk namun belum terdeteksi.

“Baru mulai ngeh saat Presiden umumkan pasien 1 dan 2 itu yang di Depok saat awal-awal Maret. Jadi memang terlambat,” tambahnya.

Sehingga para dokter yang berpraktik, kata dia, kemungkinan sudah banyak bertemu secara tak sengaja dengan pasien tanpa gejala. Barulah setelah ada beberapa dokter yang sakit dengan gejala virus korona dan dirawat sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) membuat rekan sejawat sadar bahwa Covid-19 sudah ada dekat.

Jumlah Dokter Meninggal di Indonesia Lebih Tinggi dari Tiongkok?

Menurut dr. Ari, data itu memang belum ada perbandingannya. Hanya saja kondisi Indonesia mirip dengan Italia yang menghadapi krisis dengan angka kematian lebih tinggi dibanding Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura.

“Memang belum ada ya data perbandingan. Tapi kalau dilihat dari Korea Selatan, itu baru ada 1 dokter meninggal saja katanya pemerintahnya merasa bersalah sekali. Apalagi kita di Indonesia. Kondisinya kalau kita mirip dengan Italia lah,” katanya.

Sejumlah dokter yang sudah wafat sejak pandemi Covid-19 ini masuk ke Indonesia adalah Berikut daftar nama dokter yang sudah wafat sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia hingga Sabtu, 4 April 2020:

  1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (GB FK UGM)
  2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (GB FKM UI)
  3. drg. Amutavia Pancasari Artsianti Putri, Sp. Ort (RSUD Jati Sampurna, Bekasi)
  4. drg. Yuniarto Budi Santosa, M.Kes (Dinkes Kota Bogor)
  5. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
  6. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (Dinkes Kota Bandung)
  7. dr. Hadio Ali K, Sp.S (Perdossi DKI Jakarta)
  8. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
  9. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
  10. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (RSJ dr. Soeharto Herdjan)
  11. dr. Ucok Martin Sp. P (Dosen FK USU)
  12. dr. Toni Daniel Silitonga (Dinkes Bandung Barat)
  13. dr. Efrizal Syamsudin, MM (RSUD Prabumulih, Sumatera Selatan)
  14. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
  15. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS di RSAL Mintohardjo.
  16. Dr. Maas Musa Sp.A (Serpong).
  17. Drg. Roselani Odang Sp.Pros
  18. Dr. Anneke Suparwati, MPH (Dosen FKM UNDIP)
  19. Dr Eddy Supriyadi SpPA
  20. Dr. Heru S. (UNDIP)
  21. Dr. Bernadetta Tuwsnakotta Sp THT di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo
  22. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) Meninggal di RS Persahabatan
  23. Dr Ketty di RS Medistra
  24. Drg Gunawan Oentaryo, PDGI Banjarmasin
  25. Dr. Adi Santoso, Leuwiliang Jabar. (JPG/R2)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Susah Tertib, Pengaturan Jam Operasional Pasar di Mataram Tak Mempan

MATARAM-Pembatasan jam operasi pasar tradisional tidak mempan. Tradisi pasar yang sudah ramai usai Salat Subuh tidak bisa dihilangkan. “Ini sesuai dengan pemahaman agama. Rezeki ada...

Gempa 6,0 SR Guncang Perairan Utara NTB, Tidak Berpotensi Tsunami

MATARAM—Gempa tektonik terasa hingga ke Mataram, Rabu (3/6) malam sekitar pukul 23.54 WITA. Guncangan terasa beberapa detik sebelum “lindur” ini berlalu. Laman BMKG melansir gempa...

Abaikan Lonjakan Korona, Pemkot Mataram Mulai Buka Pusat Perbelanjaan

MATARAM-Lonjakan kasus positif korona pasca libur lebaran tak menyurutkan langkah Pemkot Mataram bersiap memasuki new normal. Pembatasan operasional fasilitas publik mulai dilonggarkan.  Kini, masyarakat...

Cuaca Buruk, BPBD Mataram Terjunkan 20 Personel Awasi Pesisir Pantai

MATARAM-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram terus meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang tinggi di kawasan pesisir pantai. “Kita terjunkan 20 personel memantau...

Bersiap “New Normal” Korona NTB Malah Tembus 705 Kasus, 388 Masih Dirawat, 18 Meninggal

MATARAM—Saat sejumlah daerah di Indonesia bersiap memasuki masa new normal kasus positif korona di NTB justru terus bertambah. Rabu (3/6) Pemprov NTB mengumumkan 20...

Jamaah Gagal Berangkat, Sebagian Dana Haji Bakal Dipakai untuk Penguatan Rupiah

JAKARTA--Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu menuturkan, pihaknya menyimpan uang USD 600 juta atau Rp 8,86 triliun untuk penyelenggaraan haji 2020. Hingga...

Paling Sering Dibaca

11 Dokter Spesialis dan 19 Perawat RSUD Praya Positif Korona, Layanan Umum Ditutup Sementara

MATARAM-Jumlah tenaga kesehatan yang positif terinfeksi korona terus bertambah di NTB. Bahkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya, Lombok Tengah, sebanyak 11 dokter...

Siap-siap, Pendaftaran CPNS Lulusan SMA Dibuka 1 Juni

JAKARTA–Pemerintah mengumumkan tahun ini bakal membuka seleksi CPNS baru untuk lulusan SMA sederajat melalui jalur sekolah kedinasan. Kuotanya belum ditetapkan. Politeknik Keuangan Negara STAN,...

Direktur RSUD Mataram Dorong Masjid dan Mall Dibuka, Warga Bahagia Bisa Lawan Korona

MATARAM— Di tengah meningkatnya penyebaran virus korona Direktur RSUD Kota Mataram dr Lalu Herman Mahaputra justru meminta sejumlah aktivitas publik tetap dibuka seperti biasa. Ketika...

13 Pasien Korona di NTB Meninggal, Sebagian Besar Memiliki Penyakit Bawaan

MATARAM-Jumlah pasien positif Covid-19 meninggal dunia terus bertambah. Bila sebelumnya angka kematian cukup lama  bertahan di angka tujuh kasus, kini bertambah hampir dua kali...

Bayi Enam Hari di Lobar Positif Korona : Dokter Bingung, Ibu-Bapaknya Negatif

GIRI MENANG-Bayi berusia enam hari asal Desa Merembu Kecamatan Labuapi dinyatakan positif Korona atau Covid-19. "Memang betul, kami terima informasinya kemarin (bayi positif Korona),"...