alexametrics
Rabu, 12 Agustus 2020
Rabu, 12 Agustus 2020

CSIS Sebut Ekonomi NTB Mulai Membaik

Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mempublikasikan hasil riset terkait kondisi seluruh provinsi di Indonesia selama pandemi Covid-19. NTB berada pada jajaran provinsi terbaik. Dari dua indikator dalam riset ini, kondisi kesehatan di NTB membaik. Sementara kinerja perekonomian daerah tak kalah moncer pula.

————————-

 

HASIL riset CSIS tersebut dipublikasikan ke publik dalam webinar bertema “Monitoring penyebaran Covid-19 dan Perkembangan Ekonomi di Masa Transisi” pada Sabtu (4/7).

Peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS Haryo Aswicahyono mengemukakan, secara garis besar ada empat keluaran yang mungkin terjadi pada masa pandemi Covid-19. Sehingga pihaknya membuat empat kuadran untuk menggambarkan hal yang bakal terjadi tersebut.

Kuadran I menggambarkan kondisi ekonomi yang membaik dengan dibarengi kondisi kesehatan yang juga membaik. Di kuadran II, kondisi ekonomi semakin membaik tetapi dibarengi dengan memburuknya situasi kesehatan. Di kuadran IV terlihat kondisi ekonomi yang memburuk meskipun situasi kesehatan membaik. Dan yang terakhir, kuadran III, kedua situasi ekonomi dan kesehatan sama-sama memburuk.

Dalam materi bertajuk “Evaluasi Kegiatan Ekonomi Dan Intensitas Penyebaran Covid-19 di Masa New Normal: Tinjauan atas Beberapa Indikator Cepat”, Haryo pun menyampaikan

perkembangan ekonomi dan penyebaran Covid-19 pada provinsi-provinsi di Indonesia.

“Lebih dari separo wilayah Indonesia yakni 20 provinsi mencatatkan situasi penyebaran Covid-19 yang membaik sekaligus peningkatan aktivitas ekonomi. Di sini termasuk Jawa Barat, DKI Jakarta, dan NTB,” katanya.

Provinsi lain yang berada pada kuadran yang sama dengan NTB adalah Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Banten, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Barat, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Haryo pun menampilkan peta kondisi provinsi-provinsi di Indonesia. Terlihat dalam peta tersebut, NTB berada Kuadran I. Dengan kata lain, NTB dan sejumlah provinsi berada pada kondisi dimana kesehatan membaik dan ekonomi membaik.

Haryo menegaskan, penanganan Covid-19 saat ini banyak didasarkan pada indikator kesehatan semata. Terutama dari sisi laju penyebaran Covid-19. Padahal kata dia, faktor ekonomi memegang peranan penting, baik dalam menunjang penurunan penyebaran, maupun dalam kesiapan fasilitas kesehatan.

“Apalagi situasi ekonomi merupakan salah satu alasan kuat yang menjadi dasar mengapa PSBB mulai dilonggarkan,” katanya.

Oleh karena itu, CSIS pun mendorong evaluasi terhadap situasi ekonomi patut menjadi perhatian pemerintah sebagai bagian integral dalam upaya pemantauan di masa transisi menuju new normal.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah bersyukur atas hasil riset CSIS tersebut. Menurutnya, itu semua tidak luput dari kerja keras seluruh pemangku kepentingan di NTB.

“Alhamdulillah. Kita bersyukur dalam Studi CSIS mengenai kondisi indeks ekonomi dan indeks kesehatan, Provinsi NTB berada di Kuardan I,” kata orang nomor satu di NTB ini.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB Najamuddin Amy menambahkan, pencapaian NTB ini adalah buah dari kekompakan Gubernur, Wakil Gubernur Hj Sitti Rohmi Djalilah beserta seluruh masyarakat NTB.

Tentu kata kandidat doktor Universitas Airlangga ini, pencapaian Provinsi NTB ini harus tetap dipertahankan. Pemberdayaan IKM/UMKM di tengah pandemi Covid-19 harus tetap didorong. Selain itu, penerapan protokol kesehatan juga harus dijalankan di seluruh sektor, terutama sektor pariwisata yang baru-baru ini sudah mulai banyak dibuka.

“Pemberdayaan produk lokal di tengah pandemi Covid-19 tersebut merupakan langkah tepat yang dilakukan Gubernur NTB,” katanya.

Itu semua, kata Najamuddin melanjutkan, meningkatkan ekonomi kerakyatan di NTB.

 

Kontroversi Kalung Anti Korona

 

Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan menanggapi soal kalung eucalyptus anti Korona yang ditemukan Kementerian pertanian. BPOM memastikan lembahanya memiliki kriteria untuk meloloskan obat atau herbal sebelum dikonsumsi secara bebas.

Kepala BPOM Penny Lukito menyatakan bahwa klaim khasiat suatu obat herbal harus dibuktikan berdasar data empiris atau ilmiah. Caranya, uji praklinik dan uji klinik. ’’BPOM mengimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dan tidak percaya iklan,’’ ujarnya.

Apalagi soal obat herbal yang ampuh mengobati Covid-19. Penny meminta agar memastikan ada izin edar dari BPOM yang dicantumkan di label. Untuk melihat kebenaran apakah sudah terdaftar di BPOM, masyarakat bisa mengecek melalui website https://cekbpom.pom.go.id/.

Mengenai klaim bahwa kalung eucalyptus temuan Kementerian Pertanian (Kementan) sedang dalam pengajuan izin ke BPOM, Penny tak mau berkomentar. Dia juga menolak memberi tanggapan mengenai klaim bahwa kalung tersebut bisa membunuh virus korona.

Kontroversi tentang kalung berbahan tumbuhan yang kerap menjadi bahan minyak kayu putih itu juga mendapat tanggapan dari dr Dirga Sakti Rambe. Dokter spesialis penyakit dalam yang juga selebtweet tersebut mengatakan, pada prinsipnya kalung eucalyptus itu tidak layak disebut antivirus korona.

’’Karena penelitian yang dilakukan Kementan hanya pada sel secara in vitro. Saya sendiri belum menemukan di mana hasil studinya dipublikasi,’’ katanya saat dihubungi tadi malam.

Menurut Dirga, untuk bisa mengklaim produk itu antikorona, tentu harus dilakukan serangkaian uji klinik. ’’Klaim yang disampaikan tidak didukung bukti sahih sehingga keliru. Lebih cocok disebut sebagai kalung eucalyptus saja,’’ tambahnya.

Prosedur uji klinik sebuah obat atau herbal pada manusia di seluruh dunia sudah baku. Yakni, harus melalui fase 1, 2, dan 3. Sebelum uji klinik, harus ada uji praklinik (salah satunya menggunakan hewan coba). ’’Jadi, tidak bisa hanya studi in vitro atau bahasa awamnya di laboratorium saja,’’ ujarnya.

Dia juga menekankan bahwa yang perlu diperhatikan bukan lama atau cepatnya penelitian. Rangkaian tahapanlah yang mesti sesuai. ’’Tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menyimpulkan suatu zat memiliki khasiat harus melalui uji klinik,’’ tuturnya.

Sementara itu, peneliti dari Prodi Farmasi Klinik dan Komunitas Sekolah Farmasi TIB Rika Hartati mengungkapkan, eucalyptus adalah tumbuhan yang masih satu famili dengan penghasil minyak kayu putih. Keduanya memiliki kandungan senyawa sineol. Sineol termasuk komponen minyak asiri yang memiliki karakteristik mudah menguap pada suhu ruang.

Dari segi bahan, produk eucalyptus secara regulasi dapat dikembangkan sebagai obat bahan alam. ’’Obat bahan alam Indonesia digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka,’’ jelasnya.

Ketiganya, kata Rika, memiliki kriteria masing-masing dari aspek dasar klaim khasiat dan batasan parameter mutunya. Bentuk produk yang dapat dikembangkan sebagai obat bahan alam pun diatur secara regulasi. ’’Di dalam aturan tersebut tidak ada obat bahan alam dalam bentuk kalung,’’ jelasnya.

Rika mengatakan, jika produk eucalyptus berbentuk kalung tersebut diklaim sebagai antivirus, dengan kata lain produk itu diklaim memiliki kemampuan untuk mengobati. ’’Ini harus didasari oleh pembuktian, baik secara praklinik maupun uji klinik ke manusia,’’ katanya.

Syarat uji praklinik dan klinik itu merupakan dasar pembuktian efek yang harus dipenuhi kategori obat bahan alam fitofarmaka. Itu pun masih dinilai berlebihan untuk diklaim sebagai antivirus. Sebab, dalam minyak eucalyptus masih terdapat beragam komponen sehingga farmakokinetika dan farmakodinamikanya di dalam tubuh lebih sulit untuk dikaji.

Hal tersebut sesuai jika dikaitkan secara aturan bahwa klaim obat bahan alam yang diinformasikan dalam label adalah klaim untuk meredakan atau mengatasi gejala atau sebagai pencegahan. Tidak untuk mengobati orang yang terpapar virus.

Dari aspek farmakologinya, lanjut Rika, diperlukan dasar pembuktian secara ilmiah pada level apa obat tersebut diuji dan bagaimana efektivitasnya. Untuk memberikan efek antivirus, kata Rika, senyawa perlu mencapai target, yaitu sel yang terinfeksi virus. Senyawa antivirus tersebut bekerja dengan menghambat replikasi virus melalui inhibisi tertentu sehingga tidak terbentuk partikel virus baru.

Dosis efektif aktivitas antivirus juga perlu ditentukan. Begitu pun sistem penghantaran senyawa antivirus. ’’Begitu senyawa antivirus tersebut mampu mencapai target dalam jumlah yang cukup, baru bisa dikatakan sebagai aktivitas antivirus,’’ katanya.

Sementara itu, Komisi IV DPR menyoroti rencana Kementan memproduksi kalung antivirus Covid-19. ’’Lebih baik Kementan fokus terhadap produksi pertanian agar tetap melimpah saat pandemi,’’ terang anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasludin.

Menurut dia, sebaiknya produk itu diperuntukkan internal Kementan. Sebab, jika diproduksi masal, berbagai pertanyaan dari masyarakat akan timbul. Apalagi, kalung antivirus tersebut belum teruji sebagai penangkal Covid-19. Selain itu, anggaran untuk rencana produksi masal kalung akan dipertanyakan berbagai pihak.

Andi menambahkan, anggaran Kementan tidak berfokus pada produk antivirus karena itu menjadi ranah kesehatan. ’’Tugas kementerian itu sudah jelas, yaitu membuat produk pertanian tetap melimpah di masa wabah Covid-19,’’ ujarnya. (kus/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Lawan Korona di Lombok tengah Lockdown Dusun Tetap Jadi Pilihan

Pencegahan penularan covid-19 di Lombok Tengah terus dilakukan pemkab. “Harapannya, jangan ada lagi yang positif,” kata sekretaris gugus tugas Covid-19 Murdi pada Lombok Post, Senin (10/8).

Kabar Baik, Pemerintah Izinkan Pengiriman TKI ke Luar Negeri

Pemerintah telah membuka peluang kerja bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) alias Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Hanya saja, rekrutmen terbatas pada tenaga kerja terlatih sektor formal.

Tempat Hiburan di Lobar Tak Patuh Cegah Korona, Dewan : Segel Saja!

DPRD Lombok Barat (Lobar) memberi atensi penerapan protokol pencegahan covid. Terutama untuk tempat hiburan malam. ”Kami support penegak hukum dan pemerintah. Kalau ada yang membandel, segel saja,” kata Ketua Fraksi Demokrat DPRD Lobar Indra Jaya Usman, Senin (10/8).

Pasangan Makmur-Ahda Tersandera SK PKB

MATARAM--Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) HL Makmur Said-H Badruttamam Ahda tersandera SK dukungan dari PKB. Tanpa PKB, pasangan ini kemungkinan besar tak bisa bertarung di Pilkada Kota Mataram.

FK Unram Prediksi Puncak Penularan Korona di NTB Bulan Ini

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram sempat memprediksi Bulan Agustus ini menjadi puncak pandemi Covid-19. Namun, trend Covid-19 justru perlahan menurun.

Bantu Siswa Belajar, Masjid Al-Falah Monjok Siapkan Internet Gratis

Inovasi Takmir Masjid Al-Falah Kelurahan Monjok patut ditiru. Terutama oleh takmir masjid di Kota Mataram. Karena, mereka menyiapkan internet gratis bagi siswa dan mahasiswa yang saat ini sedang menerapkan metode belajar dalam jaringan (daring).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Cucu Bupati Pertama Loteng Siap Mengabdi untuk Lombok Tengah

Menjadi satu-satu sosok perempuan, Hj Lale Prayatni percaya diri maju menjadi calon bupati Lombok Tengah. Birokrat perempuan ini ingin membawa perubahan bagi Lombok Tengah ke arah lebih baik. ”Saya terpanggil untuk mengabdi di kampung halaman saya,” kata Hj Lale Prayatni, Minggu (9/8).

Digerebek Polisi, Doyok dan Tutik Gagal Nyabu di Karang Bagu

Terduga pengedar sabu berinisial H alias Doyok ditangkap tim khusus (Timsus) Ditresnarkoba Polda NTB. Dia diringkus bersama seorang perempuan berinisial HT alias Tutik, Jumat sore (7/8) lalu.

Lale Sileng Pilih Yusuf Saleh Sebagai Wakil di Pilbup Loteng

Lale Prayatni memutuskan untuk menggandeng HM Yusuf Saleh. “Ya,” kata Lale singkat saat dihubungi, Minggu (9/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks