Rabu, 8 Februari 2023
Rabu, 8 Februari 2023

Butuh Pengujian, BPOM Belum Rekomendasikan Obat Herbal untuk Korona

BELUM ditemukannya obat untuk Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) membuat sebagian orang mencoba-coba pengobatan. Salah satunya adalah obat herbal. Bagaikan jamur di musim hujan, obat-obat yang diklaim menangkal korona bermunculan.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito menyatakan bahwa klaim khasiat tentang obat herbal harus dibuktikan, baik berdasarkan data empiris atau secara ilmiah. Caranya melalui uji pra klinik dan uji klinik. Bila suatu produk herbal terbukti berkhasiat untuk mengobati suatu penyakit, maka klaim khasiat tersebut akan tertera pada label  kemasan produk. “Obat herbal yang telah memiliki Nomor Izin Edar (NIE) Badan POM maka produk tersebut telah dilakukan terhadap aspek keamanan, khasiat dan mutunya,” ujarnya kemarin (5/5).

Penny menambahkan sampai saat ini, BPOM tidak pernah memberikan persetujuan tentang obat herbal yang dapat mengobati segala jenis penyakit. Termasuk infeksi Covid-19. “Masyarakat agar lebih hati-hati dan tidak mudah mempercayai iklan yang mengklaim obat herbal ampuh mengobati Covid-19,” tuturnya.

Sebenarnya ada cara penggunaan produk herbal secara aman. Menurut tips dari BPOM, caranya adalah melakukan pengecekan kemasan. Selain itu perlu membaca seluruh informasi pada labelnya. Untuk memastikan apakah sudah mendapat ijin BPOM, bisa dicek NIE melalui situs web https://cekbpom.pom.go.id/.

Sebelumnya, BPOM telah meluncurkan Informatorium Obat Covid-19i. Informatorium ini berisi informasi terkait perkembangan obat Covid-19 di dunia dan tata laksana pengobatan Covid-19 di Indonesia.  Penny menyampaikan bahwa informasi pada informatorium ini disiapkan sesuai dengan perkembangan pengobatan saat ini dan dapat diperbarui sesuai dengan kemajuan pengembangan. “BPOM selalu merespon perkembangan obat dan pengobatan COVID-19 tersebut dengan proaktif dan selalu berkomunikasi dengan para ahli terkait,” ungkap Penny.

Baca Juga :  Komjen Listyo Sigit Dinasehati Lima Mantan Kapolri

Spesialis Farmakologi Rianto Setiabudy menjelaskan bahwa pandemi ini menimbulkan kepanikan. Sehingga sering kali mendorong para dokter untuk menggunakan obat-obat secara kurang terarah. “Hindari pemberian kombinasi obat antiviral sekaligus. Perhatikan regimen dosis, cara pemberian, lama pengobatan, interaksi obat, efek samping dan kewaspadaan terkait penggunaan obat yang semua sudah dijelaskan pada buku Informatorium Obat COVID-19,” tuturnya.(JPG/R6)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks