alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

Vaksin Buatan Dalam Negeri Bakal Diproduksi Pertengahan 2022

SURABAYA–Vaksin Merah Putih platform Universitas Airlangga (Unair) akan menjadi vaksin Covid-19 dalam negeri pertama di Indonesia. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mendorong dilakukannya percepatan uji klinis pada vaksin berbasis inactivated virus tersebut. Selain akan digunakan sebagai booster, vaksin tersebut juga direkomendasikan untuk anak-anak.

Rektor Unair Prof Mohammad Nasih menyerahkan seed (bibit) vaksin Merah Putih kepada PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia kemarin (9/11). Momentum tersebut juga dihadiri Menkes dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Budi mengatakan, uji praklinis terhadap makaka (monyet yang memiliki struktur organ menyerupai manusia) telah tuntas. Hasilnya pun bagus. Bahkan memiliki efikasi yang tinggi.

”Jadi, tahap selanjutnya terkait uji klinis pada manusia diserahkan kepada PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia,” katanya kepada koran ini di tengah acara Sidang Dies Natalies Ke-67 Unair kemarin. Budi menuturkan, uji klinis tahap pertama membutuhkan 100 orang sebagai sampel. Tahap pertama digunakan untuk melihat aspek keamanan (safety) vaksin. Kemudian, uji klinis tahap kedua akan melibatkan 400 orang untuk melihat aspek imunogenisitasnya. ”Uji klinis tahap ketiga akan melibatkan 3.000 orang untuk melihat efikasi vaksin itu sendiri,” tutur dia. Budi meminta Khofifah mendukung percepatan uji klinis vaksin Merah Putih platform Unair. Sebab, uji klinis akan dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya. ”Saat ini skenario uji klinis tengah disusun,” imbuhnya.

Ada tiga skenario pemanfaatan vaksin Merah Putih platform Unair tersebut. Pertama, digunakan dua kali sebagai proses vaksinasi. Skenario kedua, digunakan sebagai booster yang akan disuntikkan satu kali bagi warga yang sudah vaksinasi sebelumnya. Kemudian, skenario ketiga, disuntikkan dua kali dengan sasaran anak-anak usia di bawah 12 tahun. ”Jadi, selain untuk vaksinasi, juga untuk booster dan anak-anak. Untuk anak-anak, nanti kemungkinan dosisnya berbeda,” jelasnya.

Budi mengaku bangga dengan hasil riset vaksin Merah Putih yang diproduksi Unair dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Umumnya, pembuatan vaksin membutuhkan 15 tahun. Namun, tim Unair dan PT Biotis menunjukkan kecepatannya dalam menyelesaikan tantangan produksi vaksin. Dia berharap vaksin tersebut bisa diproduksi secara massal mulai semester kedua atau pertengahan tahun depan.

Rektor Unair Prof Muhammad Nasih mengatakan, PT Biotis akan memproduksi vaksin dalam skala piloting untuk disuntikkan ke manusia. ”Sebelum disuntikkan ke manusia, harus ada proses produksi di industri yang memenuhi keamanan,” jelasnya. Unair dan PT Biotis juga akan berupaya mendapatkan sertifikat halal. Jadi, vaksin produksi Unair-PT Biotis dijamin kehalalannya. Setelah produksi di PT Biotis selesai, baru dilanjutkan uji klinis oleh tim RSUD dr Soetomo. ’’Dari hasil uji praklinis tahap II terhadap makaka dari berbagai kategori, baik manula, remaja, hamil, dan anak-anak, hasilnya sangat aman. Efikasinya 93,8 persen,” kata dia.

Nasih berharap, proses lanjutan di industri memunculkan optimalisasi dan formulasi yang lebih baik. Dengan begitu, efikasi yang didapat juga bisa lebih tinggi lagi. ”Langkah selanjutnya, kami masih menunggu izin dari BPOM. Data sudah kami submit ke BPOM,” jelasnya.

Sementara itu, tim RSUD dr Soetomo sudah menerbitkan pengumuman kepada masyarakat untuk mendaftar sebagai relawan uji klinis tahap I, II, dan II. Uji klinis itu bukan untuk individu yang memiliki komorbid. ”Uji klinis tahap pertama sementara ini belum bisa dilakukan untuk anak-anak. Dewasa dulu,” imbuhnya.

Di sisi lain, Gubernur Khofifah mengaku siap menjadi relawan pertama pada uji klinis vaksin Merah Putih buatan Unair. Hal itu menjadi bentuk dukungannya dalam percepatan vaksin Merah Putih platform Unair. ”Jika saya memenuhi syarat untuk menjadi relawan, maka saya siap. Nanti dilihat pelaksanaan vaksin Merah Putih ini sebagai booster atau untuk yang belum pernah vaksin,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan vaksin Merah Putih, lanjut dia, pemprov sudah menyiapkan gazebo khusus di RSUD dr Soetomo untuk pelaksanaan uji klinis tahap I, II, dan III sejak 12 Oktober, bertepatan dengan HUT pemprov. Bahkan, relawan sudah disiapkan. ”Yang sudah mendaftar menjadi relawan untuk uji klinis vaksin cukup banyak,” imbuhnya.

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kemenkes Terkait Vaksin Covid-19 Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa kecepatan vaksinasi menjadi tolok ukur kesigapan daerah dalam menangani pandemi Covid-19. Dalam percepatan vaksinasi Covid-19 itu, ada beberapa komponen yang harus dikerjakan. Nadia menyebutkan, pemerintah daerah harus meyakinkan masyarakat agar mau divaksin.

Komponen lainnya adalah pendistribusian vaksin Covid-19. Kecepatan distribusi itu membuat persediaan vaksin terus dijamin. Selain itu, di sisi hilir harus ada percepatan penyuntikan vaksin Covid-19. Dalam beberapa waktu terakhir, secara nasional sudah bisa disuntikkan 2 juta dosis per hari. Tolok ukur lainnya adalah mengurangi laju penularan. Itu harus dilakukan seluruh pihak. Tak bisa hanya sektor kesehatan.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate meminta semua pihak segera memanfaatkan setiap dosis vaksin yang tersedia. Kasus 4.000 dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca yang kedaluwarsa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menurut Johnny, jangan terulang di daerah lain. Dia mengajak daerah lain untuk bergerak lebih cepat menyalurkan vaksin kepada masyarakat. Dia mengingatkan, saat ini semua negara di dunia sedang berebut vaksin. Hal itu membuat proses dan perjuangan pemerintah dalam mendapatkan akses vaksin tidak mudah.

Meskipun cakupan vaksinasi Indonesia telah melampaui 200 juta suntikan atau sekitar 40 persen untuk dosis kedua dan 60 persen untuk dosis pertama, cakupan itu masih perlu ditingkatkan untuk lansia dan kelompok rentan lainnya.

Pada akhir minggu pertama November 2021, tercatat vaksinasi untuk lansia mencapai 9 juta suntikan untuk dosis pertama atau 42 persen. Sementara itu, dosis kedua baru mencapai 5 juta suntikan atau sekitar 26 persen.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengungkapkan bahwa kerawanan di kelompok lansia dan komorbid itu mesti diwaspadai karena targetnya kurang terpenuhi. ”Tren yang terjadi di Singapura adalah contoh. Kalau cakupan kurang, yang menjadi korban adalah para lansia kita,” katanya.

Menurut dia, cakupan total kelompok rentan harus jadi prioritas. Apalagi jika dilihat hingga ke level provinsi dan kabupaten/kota, banyak yang masih rendah. Itu, kata Dicky, sangat rawan.

Dicky menyebut, cakupan 80 persen dosis pertama dan 40 persen dosis kedua belum cukup untuk benar-benar aman dari gelombang ketiga. ”Belajar dari negara-negara lain, vaksinasinya 80 persenan. Artinya, dua kali lipat dari kita tetap belum bisa mengatasi varian Delta. Sehingga ritme dan kecepatan vaksinasi hari ini yang mencapai 2 juta suntikan per hari harus dijaga,” katanya. (lyn/tau/c6/oni/JPG/r6)

Vaksin Merah Putih

 

PEMILIK

Universitas Airlangga

 

UJI KLINIS

  • Uji klinis tahap pertama membutuhkan 100 orang sebagai sampel. Tujuannya untuk melihat aspek keamanan (safety) vaksin.
  • Uji klinis tahap kedua akan melibatkan 400 orang untuk melihat aspek imunogenisitasnya.
  • Uji klinis tahap ketiga akan melibatkan 3.000 orang untuk melihat efikasi vaksin.
  • Seluruh uji klinis akan dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya. Saat ini skenario uji klinis tengah disusun.

 

PEMANFAATAN

Ada tiga skenario pemanfaatan vaksin Merah Putih platform Unair tersebut, yakni:

  • Skenario pertama, digunakan dua kali sebagai proses vaksinasi.
  • Skenario kedua, digunakan sebagai booster yang akan disuntikkan satu kali bagi warga yang sudah vaksinasi sebelumnya.
  • Skenario ketiga, disuntikkan dua kali dengan sasaran anak-anak usia di bawah 12 tahun.

 

PROSES PRODUKSI

  • Akan dilakukan oleh Unair dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.
  • Produksi massal akan dilakukan pertengahan tahun depan.

 

Sumber: Kemenkes

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks