alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Siswa dan Guru Terpapar Korona, Dua SD di Mataram Ditutup Sementara

MATARAM-Pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN 7 Mataram dan SDN 10 Cakranegara dihentikan. Dua sekolah ini ditutup sementara setelah siswa dan gurunya diduga terpapar Covid-19.

“Kembali belajar dari rumah,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram HL Fatwir Uzali, kemarin (10/2).

Di SDN 7 Mataram, salah satu siswa kelas 6 keluarganya disinyalir ada yang positif Covid-19. Akhirnya semua siswa kelas 6 mengikuti pembelajaran daring agar tidak menimbulkan kekhawatiran atau kegaduhan di kalangan orang tua.

Dinas Pendidikan Kota Mataram mengambil langkah cepat mengantisipasi penularan di SDN 7 Mataram. “Kami lakukan pembelajaran dari rumah di SDN 7 Mataram selama dua minggu ke depan,” jelasnya.

Sama seperti SDN 7 Mataram, kebijakan serupa juga diberlakukan di SDN 10 Cakranegara. Tidak ada pembelajaran tatap muka di sekolah ini. Karena salah satu guru dikatakan Fatwir positif Covid-19. “Di SDN 10 Cakranegara itu gurunya. Sudah melakukan isolasi dan hampir selesai,” terangnya.

Ia menegaskan, penularan Covid-19 yang disinyalir terjadi pada siswa dan guru ini bukan dari klaster sekolah. Tetapi klaster rumah. Dimana penularan tidak terjadi di lingkungan sekolah melainkan di lingkungan tempat asal siswa dan guru tersebut.

Namun dengan kejadian ini, pihak Dinas Pendidikan Kota Mataram akan melakukan evaluasi. Jika ada sekolah yang tidak ketat melakukan Prokes, baik negeri maupun swasta, akan ditutup. “Kami tidak bisa membiarkan karena itu berpotensi jadi masalah. Tapi sejauh ini kami melihat penerapan proses cukup baik,” jelasnya.

Pantauan Lombok Post di SDN 7 Mataram aktivitas kemarin terlihat sepi. Sekolah ini memang ditutup dan tidak ada aktivitas pembelajaran bagi siswa. “Sudah ditutup tiga hari sejak Senin lalu,” tutur penjaga sekolah.

Sementara Kepala SDN 7 Mataram Hj Baiq Zohri Uyuni membenarkan pihaknya mengambil langkah peniadaan pembelajaran tatap muka. Meskipun khusus untuk kelas 6 yang akan menghadapi ujian sekolah, harusnya melaksanakan pembelajaran tatap muka dilakukan dengan protokoler kesehatan yang ketat.

“Tetapi sebagai langkah antisipasi penularan Covid-19, akhirnya kami bersama gugus tugas memilih belajar dilakukan via daring dari rumah,” ungkapnya.

Hal itu dilakukan menyusul salah satu siswa kelas 6 diketahui tidak masuk selama tiga hari lebih. Setelah diselidiki, orang tua siswa menuturkan kakak dari siswa tersebut positif Covid-19. Sehingga pihak sekolah pun meminta agar keluarga siswa tersebut melakukan tes swab untuk mengecek apakah terjadi penularan di kalangan keluarga atau tidak.

“Karena siswa kami ini sering diantar sekolah sama kakaknya yang positif Covid-19 ini,” tuturnya.

Meskipun di sekolah dilakukan protokoler kesehatan yang ketat, namun ada kekhawatiran jika siswa tersebut terpapar Covid-19. Ini yang kemudian ditakutkan menular ke siswa lainnya. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, metode pembelajaran dari rumah terpaksa dipilih untuk semua siswa SDN 7 Mataram.

“Sambil kami menunggu informasi dari pihak keluarga siswa kami bagaimana hasil pengecekan swabnya dari Puskesmas. Mudah-mudahan tidak terpapar,” doanya. (ton/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks