alexametrics
Minggu, 9 Agustus 2020
Minggu, 9 Agustus 2020

Pastikan Ujian Nasional Dihapus

[penci_blockquote style=”style-2″ align=”none” author=”NADIEM ANWAR MAKARIM ” uppercase=”false” text_size=”20″]Kita mengembalikan esensi asesmen tingkat nasional sebagai tolok ukur menilai sekolahnya maupun sistem pendidikannya. Bukan siswa yang diukur. [/penci_blockquote]

JAKARTA-Ujian nasional (UN) tahun 2020 dipastikan menjadi yang terakhir. Ujian sekolah berstandar nasional (USBN) juga akan diganti.  ”UN sudah menjadi beban stres bagi banyak sekali siswa, guru, maupun orang tua,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim di hadapan kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia, kemarin (11/12).

Esensi UN sebagai tolok ukur efektivitas sistem pendidikan dinilai sudah melenceng. Menteri termuda kabinet Indonesia Maju tersebut menuturkan sudah melakukan survei dan diskusi dengan berbagai pihak sebelum mengambil keputusan tersebut. Hasilnya, materi UN terlalu padat. Membuat guru cenderung mengajarkan siswa menghafal materi. “Bukan memenuhi ketercapaian kompetensi,” sebutnya.

Nadiem menyatakan, UN sejatinya adalah instrumen untuk mengevaluasi sistem pendidikan. Mulai sekolah, letak geografis, kinerja Dinas Pendidikan, hingga sistem secara nasional. ”Dan UN hanya menilai satu aspek saja. Hanya kognitif, belum menyentuh aspek lainnya termasuk karakter siswa secara holistik,” bebernya.

Pada 2021, kata Nadiem, UN akan diganti dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Di dalamnya ada tiga aspek yang diukur. Pertama literasi. Pada aspek tersebut bukan hanya mengukur kemampuan membaca. Tapi mengukur kemampuan siswa melakukan analisa dalam suatu bacaan. ”Kemampuan memahami konsep di balik tulisan itu yang penting,” terangnya.

Kedua, numerasi. Yakni, kemampuan bernalar menggunakan matematika. Mengaplikasikan konsep matematika  di dalam suatu situasi. Baik abstrak maupun konkret. ”Jadi itu bukan mata pelajaran bahasa dan matematika. Tapi kemampuan murid-murid menggunakan konsep itu untuk melihat dan menemukan solusi suatu masalah di lingkungan hidup kita,” papar mantan CEO Gojek itu.

Terakhir, survei karakter. Nadiem menilai aspek tersebut sangat penting. Karena pemerintah saat ini hanya memiliki data kognitif. Akibatnya, Kemendikbud tidak bisa melihat baik atau buruk ekosistem pembelajaran sekolah. Tidak tahu apakah rasa cinta tanah air dan nilai Pancasila benar-benar dirasakan oleh siswa, toleransi, gotong-royong, dan tingkat kebahagiaan siswa di seluruh Indonesia. “Ini menjadi tolok ukur sekolah melakukan perubahan,” katanya.

Berbeda dengan UN yang dilaksanakan pada masa akhir jenjang pendidikan, asesmen kompetensi minimum dan survei karakter dilakukan saat masa pertengahan jenjang. SD kelas IV atau V, SMP kelas VII, dan SMA kelas XI. “Untuk memberi waktu kepada sekolah dan para guru melakukan perbaikan sebelum siswa lulus dari jenjang tersebut,” jelasnya.

Asesmen tidak digunakan sebagai alat seleksi siswa masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. ”Kita mengembalikan esensi asesmen tingkat nasional  sebagai tolok ukur menilai sekolahnya maupun sistem pendidikannya. Bukan siswa yang diukur,” jelas pria yang akrab disapa Mas Menteri itu.

Bagaimana teknis pelaksanaanya? Nadiem menyatakan, pihaknya masih mengembangkan teknis pelaksanaan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Yang jelas, dilaksanakan berbasis komputer. Yang menjadi pekerjaan rumah Kemendikbud adalah memenuhi sarana prasarana di sekolah. Mengingat, sampai sekarang masih ada sekolah yang belum bisa menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK). ”Itu harus kita tuntaskan,” katanya optimis.

Nadiem menyebut, formatnya sama seperti asesmen yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment), pilihan ganda. Dia memastikan tidak ada soal berupa hafalan dan akan dilakukan secara bersamaan di seluruh Indonesia. ”Iya, dilaksanakannya pada saat yang sama. Kalau computer based format yang paling baik memang pilihan ganda, tapi bersifat HOTS (Higher Order Thinking Skills),” terang alumnus Harvard Business School tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno memastikan, asesmen baru tersebut mengedepankan penalaran. Bentuk soal bisa pilihan ganda atau esai yang beragam. Tingkat kesulitan menyesuaikan kondisi dan ekosistem pembelajaran sekolah. ”Ada yang sudah sangat bagus. Sebagus sekolah terbaik di dunia juga ada. Jelek juga ada. Disparitas (perbedaan, Red) itu keniscayaan untuk Indonesia, itu faktanya,” ungkap Totok.

Soal dibuat memang agar bisa dikerjakan oleh anak yang tertinggal sampai anak pintar. Harapannya, dari hasil tersebut pemerintah mengetahui perbedaan dan ketertinggalan siswa itu sampai level mana. Itu adalah umpan balik yang penting untuk siswa. Juga, dari proses pembelajaran di sekolah menghasilkan hasil belajar seperti apa.

”Yang jelas memang kami belum definitif. Itu pengembangan, kita juga mengerjakan mesin untuk menjawab soal tidak baku. Tidak ada mata pelajaran. Kami ingin memberikan kemerdekaan pada sekolah memaknai yang pinter itu apa? Selama ini satu ukuran. Cenderung UN, akademik,” urai pria yang juga menjabat Plt. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah itu.

Dalam melaksanakan asesmen baru, Totok berharap siswa melakukannya dengan senang. Intinya seperti refleksi. Berkaca pada diri sendiri. Sehingga, dia menegaskan tidak ada istilah remedial. Sebab, tujuannya untuk membangun tujuan belajar yang lebih baik.

 Bagaimana untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya? Totok menyampaikan, tergantung sekolah itu sendiri mau kriteria seperti apa. Bisa menyaratkan portofolio proyek belajar, prestasi akademik maupun nonakademik. ”Pintar menari, juara pencak silat dan olahraga bisa. Pintar itu tidak hanya dari ujian,” imbuh mantan atase pendidikan dan kebudayaan RI di Washington, AS, itu.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy secara prinsip mendukung kebijakan Nadiem. Dia setuju hasil UN tidak hanya evaluasi untuk siswa. Tapi guru dan sekolah untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih bagus.

Mantan Mendikbud itu sepakat asesmen dilakukan di tengah masa jenjang pendidikan. Memberikan waktu satu hingga dua tahun bagi guru dan sekolah untuk berbenah. Sekaligus membenahi dan meningkatkan kembali kemahiran siswa. ”Karena selama ini UN setelah ada hasilnya tidak bisa di-treatment lagi. Saya rasa ini bagus,” puji Muhadjir.

Terpisah, Wakil Presiden Ma’ruf Amin  mengatakan, menilai karakter anak didik merupakan kebijakan penting. ’’Karena pendidikan selain melahirkan anak yang memiliki kompetensi, juga memiliki integritas,’’ katanya.

Meski begitu Ma’ruf mengatakan tetap perlu ada alat ukur sebagai pengganti UN. Alat ukur itu penting untuk mengukur kemampuan siswa di semua jenjang pendidikan. Alat ukur itu diharapkan bisa mengukur tingkat standar pendidikan di masing-masing daerah. ’’Saya mengatakan kalau mau menghapus UN, harus ada alat ukur yang efektif,’’ jelasnya.

Misalnya capaian di Provinsi Papua seperti apa, dan di provinsi lainnya bagaimana. Pada prinsipnya Ma’ruf tidak mempermasalahkan UN ditiadakan. Kajian teknis tindak lanjut dari penghapusan itu, harus jadi kajian Kemendikbud. Penghapusan UN, kata wapres,  belum sampai dibawa ke rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo. (han/wan)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Dewan Lombok Barat Minta Pekerja Hiburan Malam Jalni Rapid Test

Antisipasi penyebaran covid di tempat hiburan malam bisa lebih ketat. DPRD Lombok Barat (Lobar) mengusulkan para pekerja hiburan malam untuk dirapid test. ”Ini juga masuk bagian protokol kesehatan,” kata Ketua DPRD Lobar Hj Nur Hidayah, Jumat (7/8)

Fitch Ratings Indonesia Naikkan Peringkat Bank Bukopin Jadi AA-

Peringkat Nasional Jangka Panjang Bank Bukopin dinaikkan menjadi ‘AA-(idn)’ dari ‘BBB+(idn)’

Mata Air Lombok Utara Hanya Tersisa 77 Titik

Pemerintah KLU mencatat jumlah mata air potensial hanya tersisa 77 titik. Angka potensial itu terdeteksi sangat minim, dibandingkan total 238 mata air yang sebelumnya ada.

NTB Tuan Rumah Festival Ekonomi Syariah 2020

Provinsi NTB terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) atau Festival Ekonomi Syariah Indonesia ke-7 tahun 2020. ”Provinsi NTB sekaligus menjadi koordinator penyelenggaraan festival tahun ini,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam pembukaan ISEF 2020 secara virtual, Jumat (7/8).

Layangan Nyangkut Ganggu Jaringan Listrik Lombok

MATARAM-Akhir-akhir ini layang-layang kerap mengganggu aktivitas warga. Layangan putus banyak nyangkut di jaringan listrik PLN. Akibatnya listrik harus dipadamkan. ”PLN mencatat beberapa kali gangguan listrik yang disebabkan oleh layang layang,” kata Manager PLN UP3 Mataram Dony Noor Gustiarsyah, Jumat (7/8).

Tahun ini NTB Butuh Rp 8,3 Miliar Tangani Kekeringan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dana penanganan kekeringan tidak pernah sedikit. Tahun ini, BPBD NTB kembali mengusulkan dana hingga Rp 8,3 miliar lebih untuk atasi bencana kekeringan. ”Ini sedang kami usulkan mudahan dananya tersedia,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahmadi, Jumat  (7/8).

Paling Sering Dibaca

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Peredaran Gelap Tramadol di Gomong Mataram, Lima Orang Ditangkap

Tim Satnarkoba Polresta Mataram menggerebek rumah pengedar obat-obatan daftar G di Gomong, Mataram, Rabu (5/8). Sebanyak lima orang ditangkap. ”Dua pembeli, satu perempuan sebagai  penyedia, dan dua penjual,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson usai penggerebekan.

TGB Dukung Mohan, Bang Zul Jagokan Selly di Mataram

Jika Bang Zul (panggilan akrab H Zulkieflimansyah) mendukung pasangan Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (paket Salaman). Maka tidak dengan TGB. Pria yang berkuasa selama 10 tahun di NTB itu memilih mendukung pasangan H Mohan Roliskana-TGH Mujibburahman (pasangan Harum).

Idola Baru Wisatawan, Bukit Pal Jepang Terapkan Sistem Booking Online

Begitu dibuka, Bukit Pal Jepang Desa Sapit, Kecamatan Suela, jadi incaran wisatawan. Dalam sebulan, bukit dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut itu sudah didaki 3.550 wisatawan. Ibarat tengah berpuasa, inilah waktunya berbuka, setelah selama pandemi Covid-19 menahan dahaga akan sepinya wisatawan.
Enable Notifications.    Ok No thanks