alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Satu Dekade MedDocs and Friends Menjalani Dunia Paralel: Dokter Sekaligus Anak Motor

Tiap kali touring, itu berarti MedDocs sudah menyiapkan kontak rumah sakit tujuan, membawa perlengkapan medis, dan bersiap memberikan pertolongan pertama dalam situasi darurat. Selalu menyelipkan kegiatan kemanusiaan dalam setiap aktivitas mereka.

DINARSA KURNIAWAN, Jakarta

=========================

MOTOR adalah ’’belahan jiwa’’. Tapi, di belahan yang lain, mereka tetaplah dokter. Jadi, ketika siang itu seorang pengunjung pemandian air panas Ciater nyaris tenggelam, mereka dengan segera memberikan pertolongan pertama.

’’Kami berikan pertolongan pertama agar pengunjung itu tidak shock,’’ tutur Kolonel dr Birza Rizaldi SpOG.

Pada siang beberapa waktu lalu di kawasan Tangkuban Perahu, Subang, Jawa Barat, itu, Birza bersama rekan-rekannya di klub motor MedDocs and Friends tengah touring. Dan, kejadian seperti itu sudah sering sekali mereka hadapi.

Misalnya, ketika Birza dan kawan-kawan harus mengevakuasi seorang rider yang mengalami kecelakaan berat di Pangandaran, Jawa Barat, dalam event Wing Day Harley-Davidson Club Indonesian (HDCI). ’’Saat itu, kami harus mengevakuasi pengendara yang mengalami crash itu dengan helikopter ke Jakarta,’’ kenang pria yang juga berpraktik di RSPAD Gatot Subroto itu tentang peristiwa yang terjadi empat tahun silam tersebut.

Itulah yang membedakan MedDocs dengan klub motor lain di tanah air. MedDocs adalah klub motor besar yang awalnya hanya beranggota para dokter yang doyan menunggangi kuda besi di atas 500 cc. Tapi, seiring perkembangan waktu, klub itu juga membuka pintu untuk rekan, kolega, atau siapa saja dari kalangan nondokter yang memiliki hobi serupa.

Pertautan dokter dengan motor bisa ditemukan dalam otobiografi Ernesto ’’Che’’ Guevara, Diarios de motocicleta atau The Motorcyle Diaries. Buku yang kemudian difilmkan tersebut mengisahkan bagaimana pada 1952 Che yang saat itu merupakan mahasiswa kedokteran menjelajah Amerika Selatan dengan motor Norton 500 cc. Sepanjang jalan, dia menemukan persahabatan, kepedihan, dan berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

MedDocs and Friends berdiri sejak 2 Februari 2009. Diinisiasi oleh 11 dokter yang sama-sama punya hobi moge (motor gede). Kebanyakan moge yang mereka miliki adalah Harley-Davidson.

Awalnya, para dokter tersebut tersebar di sejumlah klub motor yang lebih dulu berdiri. Kemudian, suatu saat, ketika mereka berkumpul di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, tercetuslah ide untuk menyatukan para dokter tersebut dalam satu bendera klub motor.

Di usia sedekade sekarang ini, mereka sudah beranggota sekitar 500 orang yang tersebar di 12 chapter di seluruh Indonesia. Ke-12 cabang itu adalah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Tengah.

Total anggotanya mencapai 500 orang. Sekitar 300 di antaranya dari kalangan nondokter. Sedangkan para dokter yang bergabung kebanyakan dokter spesialis.

Bagi Presiden MedDocs and Friends Radja Simanjuntak SpAn FiPM, main motor adalah salah satu sarana dirinya dan rekan-rekan seprofesi melepaskan penat. Menyenangkan hati di sela rutinitas yang padat serta melelahkan.

’’Dengar raungan motor sambil ngopi saja sudah bisa bikin stres hilang,’’ ujar dokter spesialis anestesi yang praktik di MRCCC Siloam Hospitals, Semanggi, Jakarta Pusat, itu ketika ditemui pada momen selebrasi Hari Jadi Ke-10 MedDocs and Friends di Epicentrum Walk, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (10/3).

Dokter yang juga termasuk salah seorang founder MedDocs and Friends itu menambahkan, motor memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari. Bahkan, dia kerap berangkat kerja dari rumahnya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, dengan menggunakan motor. Untuk tunggangan harian, dia memilih Vespa Kongo 1963. ’’Kalau untuk touring, saya pakai Harley-Davidson Softail 2014,’’ katanya.

Biasanya para member MedDocs and Friends menggeber tunggangan mereka setiap akhir pekan. Istilah kekiniannya sunmori alias Sunday morning ride. Pada acara kopi darat rutin itu, bisa sampai 30 motor gede berkumpul dan rolling thunder sekitar Jakarta Selatan. Sebelum kemudian berhenti di satu tempat untuk ngopi dan ngobrol bareng.

Kalau sudah mengenakan riding gear yang biasanya serbakulit plus sepatu bot, lalu ngeblar di atas sadel kuda besi berkubikasi mesin V-twin di atas 1.000 cc, pasti tidak ada yang menyangka bahwa mereka adalah seorang dokter.

’’Itu hanya luarnya saja. Hatinya tetap dokter, hehehe…’’ ucap Radja, lantas terbahak.

Itu bisa dibuktikan tak hanya saat mereka harus tetap ’’praktik’’ sebagai dokter kala berhadapan dengan kegawatdaruratan di tengah touring. Para member MedDocs and Friends juga sering terlibat sebagai tim medis ketika ada klub motor tur. Tak jarang juga mereka jadi tempat curhat anak motor lain untuk masalah kesehatan.

Selain riding rutin setiap pekan, mereka memiliki sejumlah agenda. Antara lain, touring nasional yang diikuti hampir seluruh member. Misalnya, akhir tahun lalu mereka menggeber touring nasional. Dari Jakarta menuju Bali, melibatkan lebih dari 300 motor besar yang kebanyakan adalah Harley-Davidson.

Bukti lain manunggalnya motor dengan profesi mereka, tiap kali touring, mereka tidak pernah lupa membawa perlengkapan medis. Terutama untuk mengantisipasi situasi gawat darurat. ’’Sampai alat jahit-menjahit pasti kami bawa,’’ papar Radja yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur.

Sepanjang perjalanan, mereka juga sudah memiliki kontak rumah sakit tujuan. Itu untuk mengantisipasi ketika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan medis.

Nah, yang jadi persoalan rumit justru mengatur waktu. Maklum, jadwal pekerjaan mereka begitu padat.

Hal itu diakui dr Nurdadi Saleh SpOG, juga salah satu founder MedDocs and Friends.

Ada tanggung jawab besar sebagai dokter yang harus diperhatikan. Karena itu, harus pintar-pintar menyiasati.

’’Kalau (touring) lebih dari dua minggu, kan nggak mungkin ya. Kasihan pasien yang membutuhkan,’’ tuturnya.

MedDocs juga selalu menyelipkan aktivitas kemanusiaan dalam setiap kegiatan mereka. Misalnya, event Ride N Share pada 13 Januari lalu. Mereka mengadakan operasi bibir sumbing terhadap dua anak asal Halmahera, Malukun Utara, di RS Puri Cinere, Tangerang Selatan.

Dalam kegiatan itu, mereka bekerja sama dengan komunitas motor lainnya, yaitu Harley-Davidson Owners Group (HOG) Jakarta Chapter, Royal Enfield Friends (REF), Gesers Indonesia, dan Pilotos Indonesia.

Bersama komunitas moge lain seperti Harley Owners Group Anak Elang Jakarta Chapter, MedDocs juga menyalurkan bantuan kepada pasien. ’’Agar tidak sekadar happy-happy saja ya kelihatannya. Jadi, kami juga ingin berbagi dengan sesama,’’ ungkap Ketua MedDocs and Friends Chapter Jakarta dr I Ketut Sukarata SpKK.

Dalam perayaan ulang tahun ke-10 lalu, selain diramaikan sejumlah band, DJ, dan dancer, juga dibuka tenda kesehatan yang melayani konsultasi kesehatan dan check-up ringan. Misalnya, cek gula darah, kolesterol, serta tekanan darah.

Itu semua sejalan dengan filosofi yang mereka pegang sejak awal terbentuk: social and happiness. Bergembira sekaligus bederma. Menjalani dua dunia paralel: anak motor yang juga dokter.

Mencium debu. Berteman aspal. Mengulurkan tangan dalam kegawatdaruratan.

’’Menempuh perjalanan adalah takdir saya,’’ kata si mahasiswa kedokteran Che Guevara dalam Diarios de motocicleta. (*/c5/ttg/JPG/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks