alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Ahli Temukan Fakta Baru, Korona Serang Sistem Imun Seperti HIV

Virus SARS-CoV-2 tidak selemah yang diprediksi sebelumnya. Temuan-temuan baru mengungkap ganasnya virus penyebab Covid-19 itu. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

————————————-

SERUPA HIV. Temuan itulah yang diungkap peneliti Tiongkok dan AS baru-baru ini terkait SARS-CoV-2. Virus korona jenis baru itu ternyata menyerang sel yang bertugas melindungi tubuh, sama dengan human immunodeficiency virus alias HIV. Sel penting yang diserang itu adalah sel limfosit T atau sel T.

Dua peneliti yang mengungkap hal tersebut adalah Lu Lu dari Fudan University, Shanghai, dan Jang Shibo dari New York Blood Center. Penelitian mereka pekan ini diunggah di jurnal Cellular & Molecular Immunology. Mereka menggunakan kultur sel limfosit T yang dibuat di laboratorium.

Dari hasil penelitian, SARS-CoV-2 ternyata bisa menghancurkan sel T yang merupakan pertahanan terakhir tubuh. Padahal, seharusnya sel T itulah yang menghancurkan virus korona tersebut. Tapi, ia justru menjadi mangsa SARS-CoV-2. Fungsi sel T untuk melindungi manusia berhasil dinonaktifkan.

’’Itu serupa dengan pengamatan dokter di garis depan bahwa Covid-19 bisa menyerang sistem imun dan menyebabkan kerusakan seperti yang ditemukan di pasien HIV,’’ bunyi jurnal penelitian tersebut.

Sel T bertugas mengidentifikasi dan melindungi tubuh dari benda asing yang berbahaya. Sel yang rusak karena virus dan hal lain akan ia hancurkan dengan menginjeksikan zat beracun. Zat itu membunuh virus dan sel yang terinfeksi serta membuatnya hancur berkeping-keping. Salah satu contohnya adalah sel kanker.

Lu dan Jang melakukan eksperimen serupa dengan virus korona penyebab severe acute respiratory syndrome (SARS). Virus penyebab SARS itu tidak memiliki kemampuan menginfeksi sel T seperti halnya dengan SARS-CoV-2. Diduga, salah satu alasannya, virus penyebab SARS tidak memiliki fungsi fusi membran. Ia hanya bisa menginfeksi sel yang membawa reseptor protein tertentu yang dikenal dengan ACE2. Nah, keberadaan ACE2 sangat sedikit di sel T.

Dikutip South China Morning Post (SCMP), salah seorang dokter yang mengobati pasien Covid-19 di Beijing menyatakan, temuan itu justru menambah bukti kekhawatiran di kalangan medis bahwa virus korona jenis baru tersebut bisa menyerang sistem imun tubuh secara langsung.

’’Kian banyak orang yang membandingkannya dengan HIV,’’ ujar dokter yang tak mau disebutkan namanya itu. Penelitian itu juga mungkin menjawab pertanyaan mengapa beberapa pasien bereaksi dan sembuh setelah diterapi dengan obat HIV/AIDS.

Laporan klinis yang dirilis Februari lalu oleh Chen Yongwen dan koleganya di Institute of Immunology PLA juga mengungkapkan, jumlah sel T turun drastis pada pasien Covid-19. Itu terutama terjadi pada manula dan orang yang membutuhkan perawatan di ICU. Makin rendah sel T-nya, makin tinggi peluangnya untuk kehilangan nyawa.

Penelitian itu dikonfirmasi hasil otopsi pada lebih dari 20 pasien Covid-19. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem imun mereka benar-benar hancur. Dokter yang melihat jenazah tersebut mengungkapkan, kerusakan organ dalam pasien serupa dengan kombinasi pasien SARS dan AIDS.

Gen di balik fungsi fusi SARS-CoV-2 tidak ditemukan di virus korona lain yang ada pada manusia maupun binatang. Gen serupa justru ditemukan di virus mematikan pada manusia seperti AIDS dan ebola. Karena itulah, ada spekulasi bahwa virus tersebut sudah menyebar di manusia jauh hari sebelum menyebabkan pandemi global.

’’Tapi, ada perbedaan penting antara SARS-CoV-2 dan HIV,’’ bunyi penelitian gabungan itu. Yaitu, HIV bisa memperbanyak diri di sel T dan mengubahnya menjadi pabrik yang menghasilkan lebih banyak salinan untuk menginfeksi sel lain. Nah, hal itu tidak ditemukan di SARS-CoV-2 yang menginfeksi sel T.

SARS-CoV-2 juga tidak bisa mati dengan mudah. Salah besar anggapan bahwa musim panas bisa mengusir virus tersebut. Profesor Remi Charrel dan koleganya di Aix-Marseille University, Prancis, memanaskan virus itu di suhu 60 derajat Celsius selama satu jam. Hasilnya, beberapa masih bisa memperbanyak diri. Virus baru mati sepenuhnya setelah dipanaskan hingga temperatur yang mendekati titik didih.

Virus yang diteliti di lab biasanya dinonaktifkan dengan suhu 60 derajat Celsius agar tidak menginfeksi para peneliti. Temuan terbaru itu membawa kekhawatiran bahwa risiko yang diemban para peneliti kian besar.

Penyakit Jiwa

Sejak awal, Austin Hollinger memang sering di rumah saja. Penyandang disabilitasitu tak bisa menyetir. Lagipula, dia gugup jika keluar rumah karena depresi dan post-traumatic stress disorder (PTSD) yang dialami sejak beberapa tahun yang lalu.

Remaja 19 tahun itu melewati harinya dengan mencipta lagu. Sedangkan, teman-temannya bakal mampir ke rumah untuk bermain. Orang-orang terdekatnya merupakan sumber kekuatan yang membuatnya bertahan setelah dia menjadi korban perundungan di masa sekolah. Sumber kekuatan yang kini hilang karena kebijakan karantina di Alabama, AS. ’’Saya sekarang terisolasi. Siapa pun pasti tak suka dengan keadaan ini,’’ ungkapnya kepada Vox.

Hollinger hanya salah satu contoh dari jutaan jiwa yang terancam terganggu mental. Semua pakar kesehatan jiwa mengatakan, pandemi dengan skala besar seperti Covid-19 bakal membawa serta penyakit jiwa. Baik dari pasien kambuhan maupun pasien baru.

Banyak alasan mengapa orang-orang di berbagai penjuru dunia merasa tertekan. Mereka resah karena pasokan barang yang makin langka. Kebebasan yang dulu ada pun terenggut karena kebijakan karantina. Banyak pekerja tertekan karena harus memenuhi tugas kantor sambil menjaga anak. Beberapa orang mendapat tekanan lebih karena dirumahkan tanpa kejelasan.

’’Semua aspek kehidupan pasti terdampak. Tak ada yang siap saat ketika kehidupan mereka berubah seketika,’’ ujar ArashJavanbakht, spesialis trauma kejiwaan di Wayne State University.

Yang paling rentan terkena penyakit mental justru pekerja medis. Laura Hawryluck, profesor perawatan kritis di University of Toronto, mengatakan beban mental yang ditanggung oleh dokter, perawat dan staf rumah sakit lainnya berlipat ganda.

Mereka merupakan pihak yang menyaksikan langsung dampak Covid-19. Setiap hari mereka harus bersiap kehilangan pasien dan menyampaikan kabar tersebut ke keluarga pasien. Setelah pulang, mereka juga harus mengisolasi diri. Beberapa bahkan memilih tinggal di hotel bahkan mobil karena takut menularkan virus SARS-CoV-2 kepada keluarga mereka sendiri. ’’Pekerja medis juga manusia. Saya khawatir setelah ini banyak yang memilih untuk mengakhiri karir mereka,’’ ujar Hawryluck.

Laporan dari Tiongkok mengatakan bahwa beberapa pekerja medis di Tiongkok mengalami gejala insomnia dan depresi. Didi Hirsch Mental Health Service, LSM yang menyediakan layanan konsultasi gratis, menerima 1.800 panggilan terkait virus korona pada Maret. Jauh berbeda dengan jumlah 20 panggilan pada Februari.

Javanbakht mengatakan, semua orang bisa mencoba berbagai cara untuk menjaga kesehatan mental mereka. Salah satunya, mempelajari hobi baru seperti berkebun. Menjaga komunikasi dengan kerabat juga penting meski secara virtual. ’’Kita bisa saja terpisah secara fisik tapi terhubung secara sosial,’’ ungkapnya. (sha/bil/c11/dos/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks