alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Penelitian Obat Korona Harus Terbuka

JAKARTA—Universitas Airlangga yang mengklaim telah menemukan kombinasi obat yang mujarab untuk virus Covid-19 harus terbuka dan mempublikasikan berbagai data yang terkait dengan proses dan tahapan pengujian terhadap obat-obatan tersebut.

Guru Besar Sekolah Farmasi ITB Daryono Hadi Tjahjono mengungkapkan bahwa seharusnya setiap tahapan penelitian terhadap obat harus dilakukan se transparan mungkin. Ia menyarankan agar Unair, TNI AD, dan BIN yang terlibat dalam penelitian obat ini mepublikasikan data-data haris penelitian tersebut.

Dalam proses penelitian obat, kata Daryono biasanya memang diterbitkan dalam bentuk publikasi tertentu seperti jurnal. “Tapi kan dalam kondisi seperti ini mungkin agak lama kalau menunggu jurnal. Bisa di tampilkan data-data hasil penelitian tersebut di website,” jelas Daryono pada koran ini kemarin (17/8).

Tujuan dari publikasi ini, kata Daryono adalah agar data-data penelitian tersebut bisa diuji, dikritisi, maupun dikomentari oleh para pakar terkait. Menurut Daryono, data paparan berbentuk PDF yang ditampilkan di website tniad.mil.id kurang bisa mewakili “(menurut saya,Red) itu kurang detail,” katanya.

Keterbukaan itu, kata Daryono harus meliputi segala tahapan dari penelitian dan pengujian kombinasi obat tersebut. Sementara menurut Daryono, proses seperti invitro (pengujian senyawa pada binatang) dari kombinasi obat-obatan tersebut belum banyak diketahui . Baik oleh komunitas ilmuwan farmasi, ataupun masyarakat luas.

Menurutnya, sebelum masa uji invitro, bisa dilakukan publikasi awal oleh Unair menjelaskan proses tersebut “Seharusnya kan memang diujikan ke binatang. Tapi sebenarnya tidak masalah kalau proses ini dilompati. Asal ada ijin dari BPOM,” katanya.

Keterbukaan ini kata Daryono seperti penelitian dan uji terhadap vaksin sinovac yang saat ini sedang dikembangkan. “Jadi diumumkan ke publik proses uji klinisnya, didata siapa yang akan mendaftar jadi relawan. Dan sebagainya,” katanya.

Meski demikian, Daryono menegaskan dirinya sama sekali tidak keberatan dengan proses yang dilakukan oleh Unair. “Selama prosenya benar, ikut aturan, protokol dan dijalankan dengan baik ya sah-sah saja. Yang bahaya itu kalau penelitinya tidak ahli, data-datanya dimanupulasi, dan sebagainya,” katanya.

Menurut Daryono yang perlu dilakukan saat ini oleh Unair dan kolaboratornya yakni TNI AD dan BIN adalah keterbukaan terhadap publik dan komunitas ilmuwan farmasi tentang data-data dan proses penelitian obat tersebut. “Kalau memang proses yang dilakukan benar dan sesuai aturan, ya tinggal dibuka saja data-datanya,” kata Daryono.

Sementara itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berencana untuk melakukan penjelasan ke publik pada hari ini (18/8). “Besok akan ada penjelasan (resmi,Red) dari kami,” kata Kepala BPOM Penny Lukito saat dihubungi oleh kemarin.

Produksi massal obat Covid-19 temuan Unair, TNI AD, dan BIN masih menunggu izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, mereka belum dapat kepastian anggaran untuk memproduksi obat tersebut. Menurut Sekretaris Utama BIN Komjen Bambang Sunarwibowo obat Covid-19 yang sudah tuntas melalui uji klinis itu diharapkan bisa menekan persentase kematian pasien Covid-19. ”Serta memperbanyak penyembuhan pasien,” kata dia kemarin.

Sejak virus korona mewabah di Wuhan, Bambang menuturkan, pihaknya sudah mengumpulkan sejumlah informasi. Kepala BIN Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan pun cepat membentuk medical intelijen. Selain itu, mereka menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan untuk mencari solusi di tengah pandemi. Salah satunya dengan Unair. ”Sesuai arahan dari kepala BIN, kami diarahkan untuk mencari atau mempercepat penemuan vaksin dan obat,” bebernya.

Untuk itu, BIN turut mendorong supaya temuan obat tersebut bisa cepat diproduksi. ”Sehingga kita dapat mempercepat penyembuhan,” imbuh dia. Jenderal bintang tiga Polri itu menyatakan, untuk menuntaskan penelitian obat tersebut, pihaknya bersama Unair dan TNI AD sudah melibatkan BPOM, komite obat RS Unair, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes). Dia memastikan obat itu diteliti sesuai ketentuan.

Pekan ini, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa akan bertandang ke BPOM. Orang nomor satu di matra darat itu datang ke sana untuk menjelaskan secara langsung temuan obat Covid-19. ”Dalam rangka secara resmi mohon dukungan untuk percepatan izin,” kata Andika. Dalam hal ini, dia memposisikan diri sebagai wakil ketua Komite Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang bergerak di bawah komando Erick Thohir.

Sebelum diproduksi secara massal, lanjut Andika, pihaknya harus mendapat izin BPOM. ”Obat itu tinggal menunggu izin edar dari BPOM,” imbuhnya. Dia menyampaikan, sejatinya BPOM sudah mengetahui keberadaan obat Covid-19 tersebut sejak proses uji klinis berlangsung. Andika pernah mendampingi pejabat teras BPOM untuk meninjau proses uji klinis di Sekolah Calon Perwira (Secapa), Bandung, Jawa Barat. Untuk itu, dia percaya diri BPOM segera mengeluarkan izin edar obat tersebut.

Andika meyakinkan, selain izin edar tidak ada lagi persoalan teknis yang harus diurus terkait produksi massal obat itu. Sebab, Erick Thohir sebagai ketua Komite Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dan menteri BUMN sudah menugaskan PT Kimia Farma ambil bagian. Mereka sudah siap memproduksi bersama TNI AD dan Polri. Selanjutnya, yang perlu dipastikan hanya anggaran. Menurut Andika, anggaran untuk produksi obat itu bergantung pemerintah.

Walau masih belum ada kepastian, Andika optimistis anggaran akan diberikan oleh pemerintah. Dalam bayangannya, dia menyebutkan bahwa obat itu diproduksi untuk dibagikan kepada masyarakat. Tidak langsung dijual. ”Seperti halnya vaksin, vaksin juga kan tidak untuk dijual pada tahap awal,” kata dia. Dengan begitu obat Covid-19 yang diharapkan jadi solusi cepat untuk membantu pemerintah menanggulangi pandemi virus korona segera dirasakan manfaatnya.

Anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Public Relations Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Halik Malik menuturkan, pada dasarnya, IDI menyambut baik adanya temuan-temuan mengenai obat ini. Sepanjang, obat-obat tersebut sudah teruji, mendapat izin, dan bisa segera diproduksi. Terutama, terkait keamanan dan efektivitasnya. Kemudia, efek obat terhadap angka kematian, lama rawat inap, dan kondisi klinis pasien. Semua harus jelas.

”Pada prinsipnya dokter adalah ‘user’ dari obat-obat yang ada. Tentu kami berharap bisa menjadi pilihan obat Covid-19 ke depan dan ikut dimasukkan dalam pedoman tata laksana kasus Covid19 yang terbaru,” paparnya.

Untuk jenis-jenis obat yang dikombinasi dalam penelitian Unair, TNI, dan BIN, kata dia, bukan tergolong baru. Azitromisin misalnya. Sudah lama dipakai. Begitu juga hidroksiklorokuin. ”Obat yang saat ini diteliti adalah Azitromisin plus hidroksiklorokuin,” ujarnya.

Fixe dose combination (FDC) sendiri bukan obat baru, tapi sediaan baru. Di mana, tetap perlu melalui uji klinis untuk melihat efektivitasnya. Misalnya, bagaimana interaksi antar obatnya, apakah lebih efektif dengan sediaan baru yang kombinasi dibandingkan sediaan tunggal atau sendiri-sendiri. lalu, soal kemudahan bagi pasien hingga kepatuhan pasien dalam penggunaan obat itu sendiri.

Seperti pada pengobatan TB, ada obat tunggal yakni RHZE dan ada juga obat kombinasi Rifastar 4 FDC.  ”Tapi, tak dianggap sebagai obat baru karena kandungan obatnya sama,” ungkapnya.

 

Obat LIPI

 

Secara resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan proses uji klinis obat imunomodulator berbahan herbal lokal untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan hasil uji klinis sudah resmi disampaikan ke BPOM. ’’Pada titik ini kita belum boleh melakukan klaim atas khasiat dan lain-lain. Karena sudah kita serahkan ke BPOM dan harus menunggu keputusan dari BPOM dulu,’’ katanya.

Handoko menyampaikan terima kasih kepada tim atau lembaga yang terlibat pada uji klinis itu. Menurut dia capaian uji klinis yang mereka lakukan dengan 90 subjek pasien Covid-19 di Wisma Atlet itu sebuah sejarah. Sebab baru kali ini uji klinis betul-betul dilakukan secara independen dan melibatkan banyak pihak.

Total ada 12 lembaga yang terlibat. Selain LIPI ada UGM, BPOM, PT Kalbe Farma, Mabes TNI, BNPB, dan Kementerian Kesehatan. Handoko menuturkan selama proses uji klinis tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua pihak yang terlibat bisa ikut mengecek proses uji klinis.

’’Sehingga ini bisa menjadi edukasi ke publik. Bahwa proses untuk sampai di kesimpulan itu lama,’’ tuturnya. Handoko mengatakan proses uji klinik itu harus dilakukan dengan benar. Karena menyangkut nyawa atau keselamatan manusia. Tahun depan Handoko mengatakan LIPI akan terus melakukan uji klinis bahan herbal lain dan untuk penyakit lainnya.

Dia mengakui sampai saat ini potensi tanaman herbal di Indonesia belum dieksplorasi dengan baik. Menurut Handoko di Indonesia ada 30 ribu lebih spesies tanaman herbal. Dari jumlah tersebut delapan ribu diantaranya sudah diolah menjadi jamu. Kemudian 30 jenis tanaman menjadi obat herbal yang berstandar. Dan hanya ada belasan saja yang jadi fitofarmaka. Akibatnya 90 persenan bahan baku obat sampai sekarang masih impor.

Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Imunomodulator Herbal untuk Penanganan COVID-19 dan peneliti Pusat Peneitian Bioteknologi LIPI Masteria Yunovilsa Putra mengatakan data hasil uji klinis sudah disampaikan ke BPOM. Tahap selanjutnya mereka melakukan cleaning dan verifikasi data. Sehingga data yang disusun akurat dan dapat dipercaya. ’’Kami tidak akan klaim apapun dahulu, sampai ada keputusan BPOM,’’ tandasnya.

Masteria mengatakan uji klinis yang melibatkan 90 orang pasien positif Covid-19 di Wisma Atlet itu dilakukan untuk dua produk. Yakni Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ini terdiri dari rimpang jahe merah, daun meniran, sambiloto, dan daun sembung. Dia menjelaskan kombinasi herbal tersebut sudah diformulasikan dan memiliki data stabilitas serta sudah memiliki prototipe-nya.

Riset imunomodulator LIPI itu dikebut sejak 8 Juni lalu. Uji klinis melibatkan 90 orang dengan rentang usia 18-50 tahun. Selama uji klinis itu, ramuan tadi diberikan selama 14 hari. Pasien dipilih yang memiliki gejala pneumonia ringan. Kemudian pasien tidak hamil atau menderita penyakit lain. Seperti demam berdarah, demam tifus, gangguan jantung, gangguan ginjal, serta tidak memiliki alergi terhadap produk yang diujikan. (tau/syn/mia/wan/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks