alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Positif Omicron Boleh Isoman, Mayoritas Pasien Bergejala Ringan

JAKARTA–Pasien Omicron di tanah air semakin banyak. Kementerian Kesehatan pun menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Covid-19 Varian Omicron (B.1.1.529). Salah satu bahasannya mengatur isolasi mandiri (isoman) pasien Omicron.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, SE baru yang ditetapkan pada 17 Januari itu membawa ketentuan baru.

’’Pasien kasus probable dan konfirmasi varian Omicron, baik yang bergejala maupun tidak bergejala, harus melakukan isolasi,’’ katanya.

Dalam SE itu, ada kriteria kondisi dan lokasi rumah yang memungkinkan isoman. Untuk kasus dengan gejala berat hingga kritis, pasien harus dirawat di rumah sakit penyelenggara pelayanan Covid-19. Khusus yang bergejala sedang dan ringan, tapi disertai komorbid tidak terkontrol, dapat dirawat di RS lapangan, RS darurat, atau RS yang menyelenggarakan layanan Covid-19.

Rumah yang diizinkan sebagai tempat isolasi harus memenuhi beberapa ketentuan. Misalnya memiliki kamar terpisah, lebih baik jika pisah lantai. Kamar mandi pun sebaiknya juga terpisah antara pasien dengan orang yang sehat. Selain itu, harus memiliki alat yang dapat mengetahui kadar oksigen atau pulse oksimeter.

Yang merawat pasien Omicron yang isoman juga harus mematuhi sejumlah ketentuan. Yang merawat sebaiknya di bawah 45 tahun, tidak memiliki komorbid, dan dapat mengakses telemedicine atau layanan kesehatan lainnya. Yang merawat juga wajib isolasi sebelum diizinkan keluar.

’’Jika pasien tidak memenuhi syarat klinis dan syarat rumah, pasien harus melakukan isolasi di fasilitas isolasi terpusat,’’ ucap Budi.

Lima Kali Lipat

Sementara itu, dalam tiga pekan terakhir, kasus positif Covid-19 nasional meningkat lima kali lipat. Satgas penanganan Covid-19 mencatat, sumber penularan kini didominasi transmisi lokal daripada bawaan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, kasus meningkat dari 1.123 menjadi 5.454 kasus. Kendati demikian, Wiku menyampaikan bahwa pertambahan kasus positif tersebut belum diikuti dengan peningkatan angka kematian. ”Tapi, tetap saja pola kasus positif yang bertambah setiap hari akan menjadikan kasus aktif juga meningkat,” jelas Wiku kemarin (20/1).

Baca Juga :  196 Ribu Jamaah Lunasi Biaya, Pemberangkatan Haji 2021 Malah Dibatalkan

Pada minggu ini, kata Wiku, kasus aktif berjumlah 8.605 kasus. Naik lebih dari 3.000 kasus jika dibandingkan dengan minggu lalu yang menjadi titik terendah kasus aktif di Indonesia sejak gempuran varian Delta pada pertengahan 2021. Yakni, tercatat 5.494 kasus.

Sejauh ini peningkatan kasus positif disebabkan dua sumber penularan. Yaitu, PPLN dan transmisi lokal. Namun, kata Wiku, saat ini kasus nasional lebih banyak didapati dari transmisi lokal. ”Bahkan, per 15 Januari 2022, 63 persen kasus positif merupakan transmisi lokal,” ungkapnya.

Peningkatan kasus juga disumbangkan kepulangan rombongan jemaah umrah perdana pada 17 Januari lalu. ”Sebanyak 20 persen kasus positif berhasil terdeteksi dari total jemaah,” ujarnya.

Wiku menyatakan, pada prinsipnya, penularan sekecil apa pun harus dikendalikan agar tidak semakin meluas dan menimbulkan lonjakan kasus. Apalagi, dalam waktu dekat Indonesia memasuki beberapa momen penting seperti Tahun Baru Imlek dan Ramadan. ”Diperlukan pengaturan jemaah umrah di tengah keterbatasan kapasitas karantina dalam menampung keseluruhan PPLN,” tutur Wiku.

Gejala Ringan Omicron

Di sisi lain, sejak kali pertama dilaporkan pada Desember 2021 lalu, kasus Covid-19 varian Omicron kini terus bertambah. Pemeriksaan menggunakan dua metode yakni S Gen Test Failure (SGTF) dan juga Whole Genome Sequencing (WGS). Mayoritas pasien merupakan mereka yang memiliki riwayat perjalanan luar negeri dan gejalanya ringan.

Berdasarkan data Kemenkes, Jumat (21/1), hingga 14 Januari 2022 Indonesia telah melaporkan 644 kasus varian Omicron yang sebagian besar merupakan pelaku perjalanan dari luar negeri (529 kasus). Sedangkan kasus lainnya (115 kasus) merupakan transmisi lokal yang telah terjadi di Indonesia.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, dan seiring dengan perkembangan kasus Covid-19, dibutuhkan penyesuaian kebijakan upaya penanganan kasus Covid-19 varian Omicron dengan menerbitkan surat edaran baru. “Ketentuan pencegahan dan pengendalian Covid-19 sekarang mengacu pada surat edaran yang baru, salah satunya tentang isolasi mandiri,” kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi.

Baca Juga :  Warga Mataram Diminta Tetap Waspada, Waspada Covid Varian Mu!

Dalam surat edaran baru ditetapkan bahwa pasien konfirmasi Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri jika memenuhi syarat klinis dan syarat rumah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong agar daerah meningkatkan kegiatan surveilans sehingga penemuan kasus bisa dilakukan sedini mungkin untuk kemudian di isolasi supaya tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat. Pada pelaksanaannya, Kemenkes akan dibantu oleh TNI dan Polri.

Yang tak kalah pentingnya, protokol kesehatan 5M seperti menggunakan masker, mengurangi mobilitas, menghindari kerumunan, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, serta aktif menggunakan aplikasi Pedulilindungi harus ditegakkan sebagai bagian penting pengendalian Covid-19.

Menkes Budi menyebutkan vaksinasi booster juga akan menjadi fokus pemerintah. Menurutnya cakupan vaksinasi booster di wilayah Jabodetak akan dikebut untuk meningkatkan dan mempertahankan kekebalan tubuh dari ancaman penularan varian Omicron.

“Selain prokes dan surveilans, juga dipastikan semua rakyat DKI Jakarta dan Bodetabek akan dipercepat vaksinasi boosternya agar mereka siap kalau gelombang Omicron nanti naik secara cepat dan tinggi,” ujarnya.

      Menkes Budi menuturkan bahwa meski menular dengan sangat cepat, namun gejala pasien Omicron tergolong lebih ringan. Sehingga tingkat perawatan untuk pasien dengan gejala sedang maupun berat yang membutuhkan perawatan di RS, presentasenya jauh kebih rendah dibandingkan varian Delta.

“Di negara-negara tersebut (yang mengalami puncak kenaikan kasus Omicron) hospitalisasinya antara 30-40 pesen dari hospitalisasi Delta, jadi walaupun penularan dan kenaikannya lebih cepat dan tinggi, tapi hospitalisasinya lebih rendah,” ungkapnya.

Dari total kasus konfirmasi Omicron sebagian besar gejalanya ringan bahkan tanpa gejala, hanya 3 pasien yang membutuhkan oksigen tambahan. Proses recovery juga lebih cepat, tercatat sekitar 300an pasien telah dinyatakan sembuh dan sudah diperbolehkan pulang. (lyn/mia/c17/bay/JPG/r6)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/