alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

Akhir Tahun, 122 Juta Orang Indonesia Vaksinasi Lengkap

JAKARTA–Penanganan pandemi Covid-19 masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Vaksinasi Covid-19 terus dikejar. Targetnya adalah transisi antara pandemi ke endemi semakin cepat.

Pada awalnya pemerintah menargetkan vaksinasi  diberikan pada 181,5 juta orang. Namun karena usia 12 hingga 17 tahun bisa divaksin maka jumlahnya bertambah hingga 208 juta orang.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menargetkan 70 persen populasi dapat divaksin pada akhir tahun ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan bahwa target yang bisa dicapai pada akhir tahun ini baru 59 persen atau 122 juta orang yang divaksin dua kali atau lengkap. Sementara yang akan menerima vaksinasi pertama sejumlah 168 juta orang.

”Arahan Presiden, dipercepat terutama di ibu kota provinsi dan beberapa kota yang padat penduduknya,” kata Budi. Selain itu daerah yang akan menyelenggarakan perhelatan besar juga akan jadi fokus percepatan vaksinasi.

Beberapa kali, vaksinasi bisa mencapai 2 juta dosis perhari. Dengan kecepatan ini, Budi optimis bahwa vaksinasi Covid-19 lancar. ”Dengan laju seperti ini, akhir tahun kita bisa mendekati 300 juta suntikan (dosis pertama dan kedua),” ungkapnya.

Sebelumnya Budi mengatakan tantangan percepatan vaksinasi Covid-19 setelah 300 juta suntikan adalah lokasi geografis dan sosial. Ini karena Indonesia terdiri dari banyak pulau. Pulau-pulau kecil memiliki kesulitan dalam distribusi. Di sisi lain, juga masih banyak masyarakat adat yang harus ada pendekatan sosial agar vaksinasi Covid-19 dapat diterima. Budi menyadari kalau kementerian masuk secara formal akan lebih sulit.

Pada kesempatan lain, Plt Dirjen Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Maxi Rondonuwu menyatakan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan dalam rangka percepatan vaksinasi Covid-19. Pertama adalah perbanyak pos vaksinasi, terutama di tingkat desa. Kedua adalah kerjasama dengan BKKBN untuk pendekatan keluarga. Selain itu, kerjasama dengan TNI dan Polri juga dinilai membantu dalam percepatan vaksinasi ini.

”Daerah diharapkan juga bisa mengatur dalam hal distribusi,” tuturnya. Untuk daerah yang aksesnya sulit maka akan dikirim vaksin sebulan sekali. Maxi menyatakan sejauh ini daerah sudah memiliki tempat penyimpanan vaksin yang mumpuni.

Selanjutnya, Kemenkes akan bekerja sama dengan kementerian yang memiliki komunitas. Misalnya dengan Kementerian Sosial. Ketika akan memberikan bantuan sosial, dilanjutkan dengan vaksinasi Covid-19.

 

Optimisme Tinggi

Di sisi lain, pemerintah kian optimis masa transisi pandemi Covid-19 menjadi endemi bisa segera tercapai. Bahkan,  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, target tersebut bisa tercapai pada Januari 2022.

Optimisme itu muncul lantaran kasus konfirmasi harian nasional Covid-19 terus menurun. Termasuk, kasus kematian di Jawa dan Bali.

Ditambah lagi, saat ini pemerintah tengah menjajaki beberapa alternatif obat Covid-19. Salah satunya, molnupiravir buatan perusahaan farmasi Merck. Luhut sendiri kini tengah berada di Amerika Serikat bersama Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin untuk bertemu dengan pimpinan Merck membicarakan kerja sama tersebut.

Selain itu, ada pula Proxalutamide yang sedang dalam tahap uji klinis ketiga di Indonesia dan sedang berproses di BPOM. Obat lainnya, AT-527 yang dikembangkan oleh Roche and Athea. Dia menyebut, ketiganya berpotensi untuk menjadi obat Covid-19.

”Namun, saya dapat sampaikan bahwa kita tidak ingin hanya sekadar menjadi pembeli. Kita harapkan ada kerjasama, melakukan investasi dan produksinya di Indonesia,” ujarnya.

Apabila obat-obat Covid-19 ini lulus uji klinis dan penjajakan kerjasama berhasil, diharapkan penularan Covid-19 bisa terus ditekan. Sehingga, potensi gelombang ketiga lonjakan Covid-19 pada natal dan tahun baru (nataru) dapat diantisipasi.

”Kalau kita bisa melampaui Natal dan Tahun Baru ini, pada Januari ini saya pikir sudah masuk pada endemi,” ungkapnya.

Menurutnya, presiden pun sudah mengingatkan tentang potensi gelombang ketiga pada akhir tahun nanti. Pihaknya pun telah mengagendakan sejumlah rapat untuk melakukan penguatan strategi antisipasi. Terutama, dalam mendorong penggunaan Peduli Lindungi dan perkuat vaksinasi.

Sementara itu pada kesempatan lain, Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan SpP menyatakan  bahwa Indonesia mendekati situasi endemi Covid-19. Menurutnya ini terlihat dari cakupan vaksinasi yang semakin banyak. ”Kesadaran prokes semakin tinggi dan kasus terkonfirmasi di bawah 1.000 kasus,” ucapnya.

Vaksinasi, obat, dan protokol kesehatan membuat perubahan dari pandemi ke endemi semakin cepat. Dia mengapresiasi pemerintah berkomitmen pada akhir tahun dapat memberikan 300 juta suntikan vaksin Covid-19.

Sementara itu, penanganan pandemi Covid-19 saat ini dinilai sudah jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Peneliti Pandemi dari Griffith University Dicky Budiman menilai, banyak perbaikan yang dilakukan pemerintah di tahun kedua pandemi.

”Terutama di aspek public health dan PPKM berlevel,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Kemudian, dari sisi strategi komunikasi risiko jauh lebih banyak perbaikan. Banyak pejabat yang membatasi bicara, komunikasi mengenai kebijakan penanganan pandemi hanya diberikan pada Luhut dan Menkes saja. Menurutnya, hal itu sudah tepat dibanding di awal pandemi. ”Bukan hanya salah strategi risikonya, juga banyak penyangkalan. Ini tentu berpengaruh pada keberhasilan strategi,” ungkapnya.

Selain itu, terkait testing, tracing, dan treatment (3T) juga jauh meningkat dibanding sebelumnya. Kapasitas laboratorium yang melakukan testing kini sudah lebih banyak. Ada lebih dari 600 lokasi. Kemudian, dari sisi standar WHO untuk testing pun sudah terpenuhi hamper di semua provinsi.

”walaupun sebetulnya masih belum kuat untuk 3T ini, terutama di level kabupaten dan kota yang masih rapuh,” paparnya.

Yang tak bisa disangkal lagi, capaian vaksinasi Covid-19 sangat positif. Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lainnya dalam hal capaian vaksinasi ini. Meskipun masih ada pekerjaan rumah soal capaian penuh vaksinasi. Terutama untuk kelompok berisiko, seperti lansia, komorbid, dan disabilitas. Belum lagi, disparitas capaian vaksinasi di wilayah aglomerasi yang ternyata cukup besar.

Indonesia sendiri disebutnya sangat berisiko mengalami gelombang ketiga Covid-19 seperti negara-negara lain. Sebab, lebih dari 50 persen penduduk Indonesia belum memiliki imun terhadap Covid-19, baik karena vaksinasi atau penyintas. Selain itu, Indonesia juga masih berada di level community transmission, di mana banyak kasus infeksi di masyarakat yang tidak terdeteksi.

Melihat fakta tersebut, Dicky pun meminta pemerintah tetap waspada di tengah penurunan kasus saat ini. Terlebih, case fatality rate Indonesia tertinggi di Asia Tenggara.

”Jadi meski turun, tapi pondasinya belum kuat. ada masalah strategi di hulu dan hilir dan strategi komprehensif kita,” jelasnya.

Oleh sebab itu, 3T harus tetap ditingkatkan dengan penjangkauan ke rumah-rumah. Hal ini harus dibarengi dengan peningkatan cakupan vaksinasi, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi. ”Pelonggaran aktivitas juga harus terukur, jadi terbukti keefektivitasannya dan keamanannya,” sambungnya.(JPG)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks